Alasan Terbaru Kenapa Kita Tidak Layak Percaya pada Ramalan
Filed under: Islam, Motivasi, Renungan, Sehari-hari, Umum, Waspada Penipuan, kiat sukses
Dalam setahun belakangan ini, saya banyak belajar tentang Hukum Ketertarikan (The Law of Attraction), antara lain dari buku “The Secret” dan “Quantum Ikhlas”.
Salah satu hal yang saya pelajari – dan sangat saya yakini – dari kedua buku tersebut adalah mengenai kekuatan pikiran kita yang sangat luar biasa. “Kita akan mendapatkan apa yang kita fokuskan, bukan yang kita inginkan.”
Sebagai contoh, Si A bercita-cita menjadi dokter. Dia ingin sekali menjadi dokter. Tapi dia ragu. Dia takut gagal. Sepanjang hidupnya, dia dihantui oleh rasa takut mengenai penderitaan yang akan dia hadapi seandainya dia gagal menjadi dokter.
Dalam kondisi seperti ini, Si A sebenarnya sedang fokus pada kegagalan. Cita-citanya menjadi dokter, tapi dia justru fokus pada kegagalan menjadi dokter. Maka hasilnya, dia akan benar-benar gagal menjadi dokter.
Karena itulah, salah satu kiat sukses yang harus kita praktekkan:
Kita harus selalu berpikir dan bersikap positif. Bila si A memang serius ingin menjadi dokter, maka dia harus fokus pada pikiran bahwa dia akan bisa menjadi seorang dokter yang sukses. Maka insya Allah, sikap seperti ini – plus kerja keras dan tak kenal menyerah – suatu saat nanti bisa membawa si A menjadi seorang dokter sukses.
APA HUBUNGAN HAL INI DENGAN DUNIA PARANORMAL, RAMALAN, DST? Read more
Pak Cipto yang Gelisah akan Rezekinya
Dimuat di Eramuslim.com tanggal 2 Agustus 2008
Pernahkah Anda curhat mengenai hal yang sangat pribadi kepada orang yang BARU SAJA Anda kenal? Anda bahkan belum tahu siapa orang itu, bagaimana sifatnya, apakah dia orang baik atau jahat. Anda bahkan belum yakin apakah dia bisa memberikan solusi atas masalah Anda. Pernahkah Anda bertindak seberani itu?
Saya mungkin tak akan berani, tapi Pak Cipto sudah melangkah demikian jauh ketika kami baru berkenalan sekitar LIMA MENIT. Read more
Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam
NB: Sebelum membaca tulisan di bawah ini, ada baiknya Anda menyimak dulu latar belakang ceritanya di sini. Terima kasih
Update 20 Juni 2009:
Masalah pada tulisan ini sebenarnya sudah selesai sekitar satu tahun lalu. Berita detilnya bisa dibaca di sini.
* * *
Bagi Anda yang sudah membaca novel The Da Vinci Code, pasti familiar dengan seorang tokoh bernama Silas. Dia seorang albino, lugu, taat luar biasa pada jamaahnya (mungkin semacam taqlid buta), tapi ia tak sadar bahwa selama ini ia hanya diperalat oleh sebuah mafia kelas kakap. Dan dapat ditebak, tokoh-tokoh seperti Silas yang muncul di film atau novel, nasibnya selalu sama: mati mengenaskan di tangan orang yang selama ini memperalat dia.
Setelah membaca Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008, saya tiba-tiba merasa saya adalah seorang Silas!
Ya, saya memang tidak albino, tapi akan saya ceritakan sebuah fakta: [Image]
Menemukan Islam dalam “30 Hari Mencari Cinta”
Sebenarnya, tahun 2004 atau 2005 lalu saya pernah membahas masalah ini. Tapi perbincangan dengan dua sahabat via Yahoo! Messenger baru-baru ini, membuat saya tertarik untuk menulisnya ulang.Kedua teman itu menanyakan hal yang lebih kurang sama:
“Saya ingin menulis novel, tapi saya hanya mau menulis yang Islami. Masalahnya, sekarang novel-novel Islami sudah tidak laku dijual. Penerbit Islam pun sudah tak mau menerbitkannya. Bagaimana dong? Saya kan tak mungkin menulis teenlit atau cerita-cerita populer lainnya yang sangat tidak Islami itu?”
“Bagaimana caranya agar novel Islami yang saya tulis bisa diterbitkan oleh Gramedia atau Gagasmedia?’ Read more
Ayo Ramai-ramai Menghina Hantu!
Seharusnya kita tidak perlu takut pada hantu!
Seharusnya pula: Film-film horor – yang mendominasi industri film kita saat ini – tidak laku di pasaran. Sebab hampir semua film-film seperti itu hanya menakut-nakuti penonton. Tak ada pesan moral yang jelas, tak ada misi dan visi yang jelas, kecuali misi untuk mengeruk laba sebanyak-banyaknya dari rasa takut penonton. Read more
When FANATIK meets TOLERANSI
Salah satu salah kaprah yang sangat kronis di dunia kita saat ini adalah: adanya anggapan bahwa FANATISME dan TOLERANSI merupakan dua musuh bebuyutan. Keduanya tak mungkin dipersatukan, tak mungkin seiring sejalan. Fanatik diartikan sebagai sebuah sikap “merasa paling benar dan tidak bisa menerima perbedaan”. Sedangkan toleransi adalah sebaliknya; “tidak merasa paling benar dan sangat akomodatif terhadap segala jenis perbedaan.” Fanatik dianggap sebagai sebuah sikap yang sangat tercela, sedangkan toleransi merupakan sikap yang sangat ideal di tengah keberagaman manusia di muka bumi ini.
Benarkah demikian? Read more
Fiksi Islami: Konseptual vs Industri
Tulisan ini terinspirasi oleh komentar mas Sakti Wibowo yang dimuat pada kata pengantar untuk novel “Dan Cinta pun Rukuk” karya Dhani Ardiansyah dan Lulu L Maknun. Berikut cuplikannya.
“…. Hampir seluruh penerbit fiksi Islam, di tahun 2007 ini mengeluh. Dunia penerbitan fiksi Islam sedang mengalami titik kejenuhan yang parah, oleh sebah ceruk kecil itu sekarang begitu sesak pemain. Penjualan fiksi Islam mengalami terjun bebas, dan begitu banyak judul yang jeblok di pasaran.
Penulis-penulis yang dulu berbondong-bondong menjadi penulis fiksi Islam, kini juga sudah mulai berbondong-bondong lagi menjadi penulis fiksi umum….”
Saya mencoba berbaik sangka terhadap mas Sakti Wibowo atas kutipan di atas. Saya yakin mas Sakti tentu punya pemahaman yang sangat luas mengenai konsep “fiksi Islam”. Tapi entah kenapa, saya merasa amat tergelitik membaca tulisan itu, dan akhirnya menggerakkan saya untuk menulis artikel ini. Read more
Tentang Jilbab dan Cerita Islami
Walau baru bergabung dengan FLP tahun 2004 lalu, sebenarnya saya sudah mengikuti perkembangan sastra Islami “ala FLP” sejak akhir tahun 90-an. Di kampus, ada beberapa teman yang rajin membaca majalah Annida, dan saya sering numpang baca. Ya, majalah Annida memegang peranan yang cukup penting dalam kelahiran dan kebangkitan FLP ketika itu.
Walau suka membaca cerpen-cerpen di Annida, saat itu sebenarnya saya sebel terhadap majalah ini. Motto yang diembannya adalah “seri kisah-kisah Islami”, tapi hampir semua cerpennya bercerita tentang perempuan yang awalnya tidak berjilbab, lalu mendapat hidayah kemudian berjilbab. Atau tentang perempuan yang memutuskan untuk berjilbab, lalu ditentang oleh keluarganya. Ia bahkan diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak, atau tidak diperbolehkan masuk sekolah jika masih nekat mengenakan jilbab.
Saya pikir, apakah Islam itu hanya seputar jilbab? Tentu tidak, bukan? Tapi motto “seri kisah-kisah Islami” seolah-olah membenarkan asumsi bahwa Islam memang hanya seputar jilbab. Saya bahkan pernah kepikiran untuk mengusulkan pada redaktur majalah ini, agar mottonya diubah saja menjadi “seri kisah-kisah jilbab”. Read more
Bagaimana Jika Kamu Menjadi Spiderman?

Sebelum ajal menjemputnya, Uncle Ben mengucapkan sebuah kalimat yang amat berharga kepada keponakannya, Peter Parker alias Spiderman:
“Kekuatan yang besar pasti dibarengi oleh tanggung jawab yang besar pula.” (“With great power comes great responsibility.”)
Peter Parker amat terkesan oleh pesan ini. Ia pun mengamalkannya, menggunakan kekuatan supernya untuk berbuat baik, menolong orang-orang yang dianiaya dan dizalimi.
Kita tentu tak bisa menjadi Spiderman, karena ia hanyalah tokoh fiktif. Tapi setiap orang pasti memiliki keunggulan tertentu, termasuk keunggulan yang kita miliki secara otomatis, tanpa pernah kita minta. Kita tak pernah berusaha untuk mendapatkannya, tapi ia datang sendiri kepada kita, memberikan kita sebuah “kekuatan” yang luar biasa. Persis seperti yang dialami oleh Peter Parker.
Ya, kekuatan inilah yang kita kenal sebagai BAKAT ALAM. Read more









Blog ini sangat 










