Welcome My Freedom! (Catatan 7 Tahun Menjadi Pekerja Kantoran)

March 16, 2007
Filed under: Renungan, Sehari-hari, Umum 

Ya, saya tahu. Kebebasan sejati tak pernah ada. Seorang teman menganalogikan kebebasan seperti seseorang yang baru keluar dari sebuah rumah. Ia kini terbebas dari rumah tersebut, beserta semua aturan dan tetek bengek yang ada di dalamnya. Tapi begitu berada di luar rumah, ternyata ia tidak benar-benar bebas. Justru di dunia luar pun terdapat sejumlah aturan, etika, dan seterusnya yang membuat dia menghadapi ketidakbebasan yang lain.

Ya, kebebasan sejati tak pernah ada selama kita masih berada di dunia yang fana ini.

Namun, saya yakin setiap orang pernah punya keinginan untuk terbebas dari hal tertentu, sama seperti negeri kita di masa lalu yang ingin membebaskan diri dari penjajahan Belanda dan Jepang.

Saya pun seperti itu. Sejak beberapa tahun lalu, saya ingin membebaskan diri dari sesuatu yang menurut saya amat membelenggu: status sebagai pekerja kantoran.

Lho, kenapa? Sebab sejak awal saya memang tak pernah bermimpi jadi karyawan yang harus ngantor secara rutin dari jam 8 pagi hingga 5 sore. Ketika kuliah, cita-cita saya adalah menjadi wartawan, tapi ternyata tak kesampaian.

Saya lulus kuliah pada tahun 1998, ketika negeri kita justru sedang dilanda krisis moneter. Mencari pekerjaan sangat sulit. Justru banyak perusahaan yang melakukan PHK besar-besaran. Sementara saya sendiri belum punya modal untuk berwirausaha (saya pernah membuka usaha les privat di Semarang, tapi akhirnya saya tinggalkan karena terbentur masalah modal). Maka, kondisi yang serba sulit ini “memaksa” saya untuk mencari pekerjaan apa saja yang penting halal.

Dan akhirnya, di bulan Maret 2000, saya diterima sebagai karyawan di sebuah perusahaan, tepatnya perusahaan Internet Service Provider bernama PT Uninet Media Sakti. Setahun kemudian, saya kembali diterima di perusahaan sejenis, yakni CBN Internet, masih dengan job discription yang sama.

Didik adalah sahabat yang mengantar saya ke Jakarta di tahun 2000 lalu. Di hari pertama ngantor di Uninet, Didik sempat meledek saya. “Katanya kamu enggak mau jadi pekerja kantoran. Sekarang kok mau?”

Saya tersenyum geli. Saya katakan, setiap orang boleh fleksibel, asal masih berada di jalur yang benar. Ketika itu saya berharap, semoga saya betah menjadi seorang pekerja kantoran.

Di tahun-tahun pertama, ya saya memang sangat betah. Apalagi karena saya bekerja di ISP, perusahaan yang memungkinkan saya mengakses internet secara bebas dan gratis selama jam kerja. Saya sangat menyukai kondisi ini (walau belakangan saya merasakan juga sejumlah dampak buruknya). Saya juga sempat berpikir bahwa menjadi pekerja kantoran ternyata asyik juga. Maka saya pun merasa enjoy, terutama dengan segala kemapanan dan “jaminan hidup” yang saya terima.

Tapi terus terang, saya juga termasuk orang yang sangat pembosan. Dan itulah yang akhirnya terjadi, perlahan demi perlahan. Ada beberapa faktor penyebabnya:

1. Pekerjaan yang saya lakoni adalah pekerjaan yang bersifat rutinitas, sebuah jenis pekerjaan yang paling tidak saya sukai. Dari hari ke hari saya harus mengerjakan pekerjaan yang itu-itu saja (jika ada kesempatan memilih, saya lebih menyukai pekerjaan-pekerjaan yang bersifat proyek).

2. Pekerjaan tersebut sebenarnya sangat sepele. Sebagian besar tugas saya adalah melakukan copy paste artikel atau berita dari media massa ke media milik kantor saya. Seorang teman satu tim saya bahkan sempat bergurau, “Sebenarnya kita ini bukan content editor, tapi copy paster.” Hehehehe…. Memang sih, kadang-kadang saya juga membuat tulisan. Tapi frekuensinya tidak banyak.

3. Tak ada jenjang karir, atawa karir saya sudah mentok. Hm, ini mungkin terlalu panjang dan ribet jika diceritakan. Tapi singkatnya, hanya KEAJAIBAN yang akan membuat saya bisa naik jabatan atau pindah ke divisi lain dengan job discription yang lebih menarik dan menantang.

4. Masih berhubungan dengan nomor 3: secara struktural saya adalah staf level terendah alias tidak punya bawahan seorang pun. Dan pekerjaan yang saya lakoni lebih bersifat “pekerjaan kuli”, bukan pekerjaan jenis manajerial. Ini menyebabkan saya tidak bisa menjadi SOMEBODY di lingkungan kantor. Saya memang punya wewenang tertentu, tapi itu hanya sebatas hal-hal yang bersifat teknis.

Kadang-kadang ini menjadi dilema tersendiri bagi saya. Di satu sisi saya merasa wajib bersyukur atas apa yang telah saya dapatkan selama ini, khususnya yang menyangkut penghasilan dan pekerjaan di kantor. Tapi di sisi lain, saya juga iri melihat teman-teman kuliah saya yang rata-rata sudah menjadi SOMEBODY di lingkungan kerja mereka. Kapan ya, saya bisa seperti itu?

5. Fakta nomor 4 di atas sangat kontradiktif dengan yang saya alami di luar kantor. Saya pernah diundang menjadi pembicara pelatihan penulisan di Bank Indonesia, disejajarkan dengan penulis ternama Hernowo. Saya juga pernah wira-wiri ke Surabaya dan Yogya untuk menjadi pembicara pelatihan pengelolaan website. Jangan dikira kehadiran saya adalah mewakili kantor, tapi benar-benar mewakili diri saya sendiri. Dalam konteks kantor, saya belum pernah sekalipun mendapatkan kesempatan seperti itu.

Dengan kata lain, saya merasa bahwa dunia di luar kantor jauh lebih menyenangkan dan dinamis.

Seorang teman saya pernah berkata, “Kantor kamu salah karena mereka tidak memberdayakan kamu secara maksimal.”

Hm, saya kira ucapan ini kurang tepat juga. Terus terang, saya sama sekali tidak menyalahkan kantor saya dalam hal ini. Sebab sayalah yang sebenarnya bermasalah. Tentu sangat lucu jika saya menawarkan batu bata ke pabrik tempe. Tentu mereka tidak membutuhkannya.

Nah, inilah analogi yang tepat bagi “saya vs kantor” ini. Saya memiliki sesuatu, tapi kantor saya tidak membutuhkan itu. Perusahaan pada umumnya bukan bekerja dengan cara mengakomodir segala sesuatu yang dimiliki oleh karyawan mereka, lalu menetapkan agenda kerja yang sesuai dengan hal itu.

Tapi perusahaan umumnya justru punya agenda dan target tertentu dan memerintahkan para karyawan untuk melaksanakannya.

Kita semua para karyawan memang dibayar untuk melakukan hal-hal yang diperintahkan oleh kantor, bukan hal-hal yang kita inginkan. Masalahnya sekarang, apakah kita bisa menerima kondisi ini atau tidak?

Mungkin banyak orang yang menganggap ini tidak masalah, sebab mereka mendapat kompensasi berupa gaji yang memadai beserta sejumlah fasilitas yang menggiurkan.

Tapi saya termasuk orang yang menganggap bahwa hal-hal seperti ini bukanlah yang paling penting. Memang itu menyenangkan, tapi saya lebih menyukai dunia yang dinamis, di mana saya bisa menjadi diri sendiri dan melakukan banyak hal yang menyenangkan.

Seorang teman saya lainnya, yang mengetahui sifat saya ini, berkata, “Jika demikian, kamu memang lebih cocok jadi pengusaha atau pekerja freelance, bukan pekerja kantoran.”

Ya, saya setuju dengan ucapan ini. Dan inilah sebenarnya inti dari kebosanan saya tersebut. Inilah inti dari keinginan saya untuk membebaskan diri dari sebuah “belenggu” bernama “status sebagai pekerja kantoran”.

Keinginan tersebut sebenarnya hadir sejak sekitar tiga tahun lalu. Tapi saya tidak berani “berbuat nekad” karena belum punya cadangan sumber penghasilan lain.

Maka selama waktu yang cukup panjang, saya harus berjuang memerangi rasa bosan dan segala masalah yang ditimbulkannya. Saya mencoba mencari alternatif sumber penghasilan lain, tapi ternyata itu tidak mudah. Sementara itu, kebosanan yang saya alami telah menimbulkan hal-hal yang tidak menyenangkan di kantor. Intinya, kinerja saya sangat buruk!

Alhamdulillah, jalan itu akhirnya dihadirkan oleh Allah. Semuanya berlangsung secara amat perlahan, bahkan nyaris tanpa saya sadari. Di awal tahun 2006, saya diajak bergabung dengan majalah Optimis. Lalu saya berkenalan dengan Mas Alwin dari Zabit Mobile Book yang menawarkan sejumlah peluang di dunia seluler. Selanjutnya, ada perkenalan dengan mas Harry Sufehmi yang mengajari saya sebuah bisnis yang sangat prospektif di dunia maya. Ada pula Mas Oni yang menjadi jalan bagi saya untuk meraih sebuah peluang besar di Departemen Agama. Sejumlah penerbit menawari saya menulis buku. Adik ipar saya yang biasanya ogah-ogahan jika diajak berbisnis, secara tak terduga justru menelepon saya di pagi buta, hanya untuk membicarakan sebuah prospek bisnis di bidang penulisan. Dan masih banyak peluang lain yang terbuka lebar di depan mata.

Subhanallah…!!! Saya benar-benar terharu. Seumur hidup, baru kali ini saya mendapatkan demikian banyak tawaran dan peluang pada saat yang nyaris bersamaan. Mungkin ini adalah jawaban dari Allah atas doa dan keinginan saya selama ini. Saya pun berpikir, mungkin ini merupakan pertanda bahwa sekaranglah saat yang tepat bagi saya untuk menyongsong kebebasan tersebut, sesuatu yang sudah bertahun-tahun saya dambakan!

Maka, dengan penuh kemantapan, saya pun mengambil keputusan itu. Sebelumnya, saya membicarakan hal ini berdua dengan istri. Ya, dulu saya juga sudah sering mengutarakan niat itu padanya. Tapi malam itu, saya membicarakannya secara lebih tegas. Saya katakan bahwa ini bukan lagi semacam wacana atau rencana. Ini adalah sebuah keputusan saya yang sudah bulat, dan saya meminta pendapatnya.

Terus terang, saya merasa terenyuh dan bersalah ketika melihat istri saya menangis. Ia mungkin merasa berat jika melihat saya harus melepaskan status sebagai karyawan swasta, meninggalkan semua kenyamanan dan kemapanan yang kami nikmati selama ini: Gaji bulanan yang lebih dari cukup, jaminan kesehatan, bonus tahunan, dan masih banyak lagi.

Tapi saya tidak terlalu tertarik pada semua “kemewahan” itu. Saya punya dua pilihan:

1. Sebagai pekerja kantoran, saya akan mendapat gaji yang jumlahnya pasti, tidak peduli apakah saya bekerja keras atau tidak melakukan apapun.

2. Sebagai seorang wirausahawan, saya bebas menentukan apakah hari ini saya bekerja keras atau menghabiskan waktu seharian dengan menonton televisi dan tidur pulas di ranjang yang empuk. Apapun keputusan saya, itu akan berpengaruh besar terhadap besarnya penghasilan yang saya dapatkan.

Dan pilihan saya adalah yang nomor dua. Mungkin kamu menganggap saya gila. Tapi jika prinsip hidup seperti ini disebut gila, insya Allah saya ikhlas disebut orang gila!

Izinkanlah saya memberikan sebuah argumen:

Bagi saya pribadi, gaji bulanan adalah sistem yang kurang efektif untuk memotivasi saya rajin bekerja. Sebab mau rajin atau malas, saya tetap akan mendapatkan hasil yang sama di akhir bulan. Memang, ada iming-iming bonus tahunan. Tapi terus terang, bagi saya itu pun bukan motivator yang terlalu efektif. Sebab tanpa adanya bonus tahunan pun, gaji bulanan sudah cukup untuk membuat saya “bertahan hidup”.

Ya, ini memang preferensi yang sangat bersifat pribadi. Tapi bagi saya, seperti itulah keadaannya.

(Tapi kalau masih punya kesempatan menjadi pekerja kantoran, di sana saya bisa menjadi SOMEBODY dan melakukan aktualisasi diri secara lebih leluasa, mungkin saya masih bersedia menerimanya).

Dan kondisi yang benar-benar berbeda akan terjadi jika saya menjadi seorang wirausahawan atau pekerja lepas. Penghasilan saya akan sangat dipengaruhi oleh seberapa rajin saya bekerja. Dan setiap saat saya akan selalu dibayang-bayangi oleh kemungkinan mati kepalaran karena tak punya penghasilan.

Situasi seperti ini insya Allah akan membuat saya termotivasi dengan sangat kuat untuk bekerja segiat mungkin.

Maka, tanggal 16 Januari 2007 lalu, saya pun menulis surat pengunduran diri kepada manajer saya. Saya menyebut ini sebagai “A roadshow to my freedom”.

Sesuai peraturan kantor, saya baru boleh keluar paling cepat sebulan sejak pernyataan pengunduran diri. Dan setelah mempertimbangkan banyak hal, saya akhirnya memilih tanggal 19 Maret 2007.

Alhamdulillah.. saya merasa lega sekarang. Memang, ada juga perasaan was-was. Bagaimana jika saya tidak berhasil? Bagaimana jika saya nanti kekurangan uang? Bagaimana jika…???

Hm… saya berusaha mengenyahkan semua kekhawatiran itu. Saya harus optimis! Saya yakin Allah telah menjamin rezeki yang cukup bagi setiap hambaNya. Sekarang tinggal bagaimana upaya kita untuk bekerja keras dalam menjemput setiap rezeki.

Saya juga makin yakin setelah meresapi salah satu hadits Rasulullah berikut ini:

Sembilan dari sepuluh pintu rezeki adalah dari berdagang.

(Berarti jika berwirausaha, saya punya peluang untuk mendapatkan penghasilan sepuluh kali lipat dari yang sekarang, atau mungkin lebih banyak. Begitu kan, logikanya?)

Kini, saya ingin mengucapkan selamat datang kepada kebebasan yang telah lama saya nantikan. Selamat tinggal kantorku yang indah. Selamat tinggal the comfort zone!

Hari ini, 16 Maret 2007, adalah hari terakhir saya bekerja di kantor. Insya Allah besok saya dapat mulai bergerak untuk menyongsong sebuah kehidupan yang benar-benar berbeda.

NB:
Beberapa hari lalu, saya mendapat kabar bahwa mas Budi Putra keluar dari Tempo dan menjadi full time blogger. Ada teman yang bilang bahwa saya ikut-ikutan dia. Hehehehe… Sebuah “tuduhan” yang aneh. Sebab seandainya saya ikut-ikutan, mustahil rasanya jika saya mengambil sebuah keputusan besar hanya dalam hitungan hari. Tapi jujur nih, untuk jangka panjang saya juga punya keinginan untuk mengikuti jejak beliau. Karena itulah, saat ini saya sedang belajar tentang cara menghasilkan banyak uang lewat blog.

Anda ingin seperti saya juga?

Senayan, 16 Maret 2007

Jonru

NB lagi:
Semua tulisan saya berikut ini masih berkaitan erat dengan keputusan saya untuk mundur sebagai pekerja kantoran:

1. A Roadshow to My Freedom

2. A Roadshow to My Freedom 2

3. A Roadshow to My Freedom 3

4. Memindah data 8 GB dari komputer kantor ke komputer rumah

5. Cuti 12 hari. Saya memang diberi kesempatan untuk menghabiskan sisa jatah cuti yang belum diambil.

:)

Baca Artikel Terkait:

  • Tak ada artikel terkait

Comments

29 Comments on Welcome My Freedom! (Catatan 7 Tahun Menjadi Pekerja Kantoran)

  1. ryu on Fri, 16th Mar 2007 16:16
  2. aswrwb, pak Jonru.

    Saya pun sebenarnya sudah lama ingin berwiraswasta. tapi keberanian saya masih kurang untuk keluar dari kantor tempat saya bekerja :)

    Keputusan Pak Jonru, pasti telah dipikirkan dengan bijak, apapun itu…semoga sukses ke depannya yah pak!

  3. Gufron on Sat, 17th Mar 2007 22:18
  4. Akhi, ana juga sempat terfikir untuk keluar dari lingkaran, sejak awal penempatan. Apalagi ana sebagai pns pusat yang masa depan akan menjadi “manusia nomaden di jaman moderen” sampai pensiun, pindah2 terus… Suatu saat ana akan menyusul akhi, InsyaALlah. Tetap semangat akh…!

  5. guest_9035 on Sun, 6th May 2007 20:49
  6. ya, hidup ini memang pilihan, namun meskipun berat binti susah namun tidak jarang dibalik pilihan itu ada hikmah yg begitu besar,aku sefaham ama mas jonru, kerja kantoran bikin puyeng apalagi kalau bosnya gualak,dan baru2 ini aku mengambil suatu pilihan dan memutuskan untuk keluar dari t4 kerjaku,tentu saja karena aku jenuh dengan peraturan yg kaku.semoga saja ada yang lebih baik.meskipun skarang harus bingung ngitung lembaran rupiah yg udah nggak betah lagi di dompetku,tapi aku yakin reseki bisa datang dari mana aja.

    [...] seperti yang pernah saya tulis, bukankah kebebasan sejati atau kebebasan 100 persen itu tidak pernah ada: Ya, saya tahu. Kebebasan [...]

    [...] BelajarMenulis.com mulai digarap secara serius sejak saya berhenti ngantor bulan Maret 2007 lalu. Saat itu, saya membuka kursus-menulis privat, diperuntukkan bagi warga [...]

    [...] domain belajarmenulis.com tersebut. Ini pula yang terjadi ketika bulan April 2007 (sebulan setelah menjadi orang bebas), saya secara spontan membangun situs ini dan mempersembahkannya bagi siapa saja yang baru merintis [...]

  7. M.Wellyan on Sat, 2nd Aug 2008 10:24
  8. Pak Jonru,
    Kisah Bapak sama seperti saya. Saya juga tidak terlalu senang dengan kerja kantoran, meskipun memiliki “kenyamanan” dalam hal materi, tapi entah mengapa saya tidak menyukainya. Walaupun telah menjadi “somebody” dengan 7 orang karyawan di bawah saya, namun saya tetap tidak menikmatinya. Akhirnya saya mengambil keputusan besar untuk berhenti dari kerja dan menjadi pebisnis pada akhir 2007 lalu.
    Awalnya memang sangat berat, karena pihak keluarga sangat tidak merekomendasi keputusan saya tersebut. Saya sempat dimusuhi karena dianggap orang yang tidak punya tanggung jawab.
    Namun semua adalah risiko yang harus saya tanggung untuk menuju kehidupan yang lebih baik lagi. Saya sangat sadar bahwa Allah SWT memberi rizki tanpa batas kepada setiap orang yang dikehendaki-Nya…
    Saya hanya bisa berdoa semoga Allah SWT melapangkan jalan ini buat kita semua dan senantiasa mengokohkan hati kita untuk tetap istiqomah.
    Allahu akbar!!!

  9. Bainah Sari Dewi on Fri, 19th Sep 2008 6:47
  10. mantab pak guru, saya membacanya sd fullstop.

  11. Sigit Hari on Tue, 14th Oct 2008 11:30
  12. Halo pak Jonru,
    saya sigit, yang dulu pernah ikut pelatihan cara EDAN jadi penulis…

    setelah mlihat acara kickandy dengan topik lentera jiwa,
    saya juga merasa tergetar pak…..

    saya juga ingin out of my freedom zone…

    sekarang saya sudah menyusun plan jangka panjang supaya saya bisa menyalakan lentera jiwa saya yang saya inginkan

    terima kasih atas inspirasinya pak….

    Sigit Hari
    SigitTheGreat@yahoo.co.id

  13. siska susantrin on Sat, 2nd May 2009 10:01
  14. Salut pak jonru! Emang kalo d pikir2 rezeki datangnya dr Allah jd ga perlu khawatir mau bekerja kantoran/ngga,yang penting kita merasa BAHAGIA dgn keputusan yg dah d ambil,sukses selalu pak!

  15. take on Mon, 24th Aug 2009 14:55
  16. Great story but we should to have plan for the worst and wish for the best because it is about our long life… But doing is the best…try at your office first then after getting some money,, you can decide…. “two legs” of your fund is the best choice for me…
    :D

  17. danuakbar.com on Sun, 18th Oct 2009 10:11
  18. saya setuju dengan pilihan mas.
    karena hidup ini bukan semata – mata untuk mencari kekayaan.
    jalani hidup apa adanya. kekayaan bukan berarti kebahagiaan. Kekayaan malah bisa membuat kita lupa pada sang pencipta.

    dengan apa yang kita punya sekarang, kita sudah patut bersyukur.

    terpenting adalah menjaga ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

    lanjutkan dan terus berkarya

    danu say: stop junk komen karena komen anda berharga!

  19. cindy on Wed, 24th Mar 2010 10:03
  20. heuuu….. ko GW BANGET yah???? tapi bnr2 takut…karena blm ada pegangan lain T.T

  21. Jonru on Thu, 25th Mar 2010 7:53
  22. @Cindy: Dulu saya juga belum punya pegangan lain ketika berhenti bekerja
    Yang penting berani aja kok
    Rezeki kita sudah disediakan oleh Tuhan, tinggal dijemput saja :)

  23. yli on Tue, 27th Apr 2010 16:33
  24. salut pak atas apa yang sdh dicapai. saya baru memikirkan, sedang me’nenang’kan hati dan pikiran…pingin resign tapi sering ada ‘bisikan2′ yang berlawanan…mudahan Allah memberi petunjuk dan waktu yang tepat.amin

  25. Ihsan Prawoto on Wed, 13th Oct 2010 22:31
  26. Alhamdulillah saya sudah melangkah pasti untuk mengambil keputusan berhenti mas… tulisan ini mengingatkan tulisan saya sendiri yang berhenti bekerja kantoran setelah 4 tahun jd karyawan…

    memang bisnis online itu bisa mempertaruhkan seglanya… termasuk berhenti bekerja dari kantoran beralih ke bisnis online… yang saya geluti sejak 2007 hingga 2010… salam kenal…

    [...] This post was mentioned on Twitter by Jonru Ginting and dian febriansyah, Jonru Ginting. Jonru Ginting said: Hm… jadi sentimentil pas baca lagi tulisan kenangan ini: http://bit.ly/9SeHTs cc: @putridmr @Ade_Novita @arigembul @shint4m @majsanmel [...]

  27. Taufik Al Mubarak on Tue, 19th Oct 2010 18:03
  28. Selamat untuk Pak Jonru sudah membuat sebuah keputusan besar dalam hidup. sukses memang hanya milik mereka yang berani mengambil keputusan mau bagaimana masa depan? saya sendiri juga belakangan ini mulai bosan dengan pekerjaan saya di kantor…saya menjadi tidak produktif. mudah-mudahan suatu saat bisa mengikuti jejak mas Jonru.

  29. Jonru on Wed, 20th Oct 2010 7:38
  30. @Taufik: Amiin, semoga ya :)

  31. desiariska on Fri, 19th Nov 2010 14:57
  32. .aku kngend bgd amag ibu aku……………
    andai ibu add d’sni dngn ku,mngkin aku gk kn sesedih inii.
    Ibu.. aku kngendgn senyumanmu,aku kngend dgn canda tawamu,aku kngend pelukmu bu,,aku kngenddddddddddd..
    ,ya allah mngpa kau trlalu cpat memanggil orang yg ku sayang,ogang yg kucinta.
    aku hanya ingind sampaikan rinduku ini padany ya allah.

  33. justin beiber fan site on Wed, 16th Mar 2011 22:22
  34. jadi ingin belajar nih cara menulis yang baik,,, mau nulis tapi kok bingung yang ditulis,,, :)

    [...] memutuskan untuk berhenti ngantor tanggal 19 Maret 2007 lalu, saya sudah berniat menjadi seorang penulis freelance. Antara lain, [...]

    [...] Peringatan (SP) 1, dan nyaris mendapat SP2. Dan sejujurnya, salah satu pemicu utama saya untuk resign dari kantor ketika itu, saya ingin “memecat diri sendiri” sebelum pihak perusahaan yang memecat [...]

  35. ipul on Tue, 28th Jun 2011 20:45
  36. Trima kasih bang Jonru, so inspired…
    Semoga saya bisa mengikuti jejak bang jonru..
    sukses buat bang jonru..

    [...] malas seperti ini mendorong saya untuk segera berhenti jadi pekerja kantoran. Alhamdulillah sudah terwujud sejak Maret 2007 [...]

  37. pengen bisnis on Wed, 26th Oct 2011 7:58
  38. keren om.. :)
    cool… I like that,,,,
    go entrepreneur

  39. Pernahkah? « InungBlog on Mon, 20th Feb 2012 21:52
  40. [...] sendiri menilai sistem ini tidak bisa banyak diharapkan. Apalagi setelah membaca artikel yang lain ini saya semakin jelas dan tau pasti apa yang sebenarnya saya inginkan. Banyak hikmah yang bisa [...]

  41. Pernahkah? | InungGoBlog on Mon, 27th Feb 2012 1:46
  42. [...] sendiri menilai sistem ini tidak bisa banyak diharapkan. Apalagi setelah membaca artikel yang lain ini saya semakin jelas dan tau pasti apa yang sebenarnya saya inginkan. Banyak hikmah yang bisa [...]

  43. Ryan R on Sun, 1st Apr 2012 13:50
  44. “Seseorang yang sukses pasti karena mau mengambil resiko”
    Tulisan yang luar biasa memberikan inspirasi buat saya untuk meneruskan bisnis sendiri, become netpreneur :)

Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.

Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
- Jonru's Fan Page
- Twitter
- Belajar Menulis GRATIS di Facebook


WARNING: Komentar yang tujuannya hanya untuk mencari backlink akan dihapus. Kecuali jika isi komentar Anda memang bagus. Be friendly please :)