“Saya Punya Naskah Buku atau Novel. Ke Penerbit Mana Harus Saya Kirim?”

December 22, 2009 · 65 Comments
Filed under: Dunia Penulisan, Perbukuan 

Ini adalah salah satu pertanyaan paling sering yang saya terima dari teman-teman penulis. Dan setiap kali menerima pertanyaan seperti ini, terus terang hati saya langsung jatuh miris.

Betapa tidak! Pertanyaan seperti ini menggambarkan bahwa si penanya tak ubahnya seperti seorang prajurit yang hendak berangkat perang, tapi dia tidak tahu lokasi perangnya di mana, dengan siapa dia akan berperang, bahkan apa penyebab dari peperangan tersebut! Read more

[Kiat Sukses] The Power of KONSISTEN

April 29, 2009 · 46 Comments
Filed under: Dunia Penulisan, Kiat Sukses, Motivasi, Renungan, Sehari-hari 

konsisten menulisAlkisah di tahun 1990-an, saya adalah seorang penulis pemula. Untuk belajar menulis dan organisasi, saya bergabung dengan dua pers kampus sekaligus. Seperti pers kampus pada umumnya, di dalamnya kita bisa menemukan banyak orang yang jago menulis. Para senior saya ketika itu, adalah orang-orang yang saya kagumi. Saya banyak belajar tentang dunia penulisan dari mereka.

Masih di tahun 1990-an, saya juga mulai rajin mengirim cerpen ke sejumlah media cetak, terutama majalah Anita Cemerlang. Saat itu, saya terus terang merasa sangat minder terhadap para penulis yang sudah sangat produktif dan nama mereka SERING menghiasi halaman cerpen majalah-majalah ternama. Bagaimana tidak minder: Saya masih sangat pemula, sedangkan mereka sudah jagoan semua. Read more

Inilah Rahasia tentang CARA Menjual Tulisan!

Selama ini Anda mungkin berpikir bahwa tugas seorang penulis hanyalah MENULIS.

Ya, itu ada benarnya.

Tapi setelah tulisan selesai dibuat, tentu Anda harus mengirimnya ke media massa (untuk dimuat) atau ke penerbit (untuk dijadikan buku).

Dengan kata lain, tugas seorang penulis – setelah menulis – sebenarnya BERJUALAN NASKAH. Read more

Mendadak Anita Cemerlang (Lagi!) (Bagian III-selesai)

February 13, 2009 · 9 Comments
Filed under: Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, Sehari-hari 

Cinta Tak TerleraiAlhamdulillah, di tahun 2004 saya bangkit dari “mati suri” selama 8 tahun. Saya kembali hadir di dunia penulisan. Semangat saya kembali menyala-nyala. Saya berpikir bahwa saya tak boleh larut dalam kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan. Saya ingin meneruskan perjuangan, mewujudkan kembali impian sebagai penulis sukses, seperti yang sudah lama saya idam-idamkan. Impian yang selama 8 tahun nyaris saya lupakan!

Saat itulah saya mengubah nama pena dari Jon Riyadi menjadi Jonru. Awalnya, saya sebenarnya masih sangat suka pada nama Jon Riyadi. Bahkan ketika mengirim naskah ke penerbit di tahun 2004, saya masih menggunakan nama tersebut. Harapan saya, nama ini bisa menjadi salah satu “nilai jual” buku saya. Karena saya berharap masih banyak orang yang ingat pada nama Jon Riyadi.

Namun dari sejumlah milis penulisan yang saya ikuti, banyak teman yang berkata bahwa nama Jon Riyadi itu jelek. Mereka lebih suka nama Jonru. Karena bingung dan ragu, saya sempat membuat sebuah polling di milis. Saya meminta teman-teman untuk memilih, “Anda suka yang mana?”

Ternyata 100% dari penjawab memilih nama Jonru. Tak satu pun yang memilih Jon Riyadi! Read more

Mendadak Anita Cemerlang (Lagi)! (Bagian II)

February 13, 2009 · Leave a Comment
Filed under: Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, Sehari-hari 

Beginilah tampang saya di era Anita CemerlangTahun 1993, saya mengikuti Lomba Cipta Cerpen Remaja (CLLR) yang diadakan oleh Anita Cemerlang. Cerpen yang saya kirim berjudul Telepon. Hasilnya, naskah saya tidak menang tapi alhamdulillah masuk ke dalam kategori “naskah yang layak muat”. Maka, cerpen Telepon ini pun menjadi NASKAH PERTAMA saya yang dimuat di Anita Cemerlang. Duh, betapa bahagianya! Saya bersyukur karena akhirnya naskah saya bisa dimuat di majalah yang bergengsi tersebut!

Di awal tahun 1994, secara mengejutkan saya mendapat sebuah kiriman surat (saat itu belum ada email) dari majalah Anita Cemerlang. Isinya sangat manis dan membahagiakan: Pemberitahun bahwa mereka kembali mengadakan lomba cerpen, dan saya dihimbau untuk ikut serta.

Terus terang, di balik kebahagiaan saya ketika itu muncul sebuah pertanyaan yang didorong oleh rasa heran, “Kenapa Anita Cemerlang begitu perhatian pada saya? Kenapa mereka menyurati saya seperti itu? Bukankah saat itu saya masih sangat pemula, nama saya belum dikenal?” Read more

Next Page »