Pengusaha Indonesia Tidak Boleh Nasionalis?

November 21, 2009
Filed under: Bisnis, Motivasi, Renungan 

pengusaha nasionalisTiga tahun lalu, saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Referensi Tertentu”. Ini sebenarnya artikel bertema kepenulisan. Tapi hari ini, saya ingin membahasnya lagi dari sudut pandang yang berbeda: Dunia Entrepreneur :)

Untuk jelasnya, coba Anda simak kutipan tulisan tersebut di bawah ini:

Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Kisahnya diawali dengan keputusan si pemuda untuk keluar dari perusahaannya dan berwiraswasta dengan berjualan tikar tradisional. Tikar tersebut ia buat sendiri, lalu dijual di perbatasan.

Tragisnya, produknya ini tidak laku, hanya gara-gara ia berkata jujur, “Tikar ini buatan saya sendiri”. Ternyata, para pembeli beranggapan bahwa tikar tersebut haruslah buatan daerah tertentu di Malaysia. Jika dibuat oleh orang Indonesia, maka dianggap tidak asli.

Si pemuda pun mencoba menjual produknya ini di Indonesia, tapi ternyata prospeknya tidak begitu cerah. ia pun kecewa dan prihatin. Ia telah bertekad untuk lebih mencintai negerinya. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa hal-hal yang berbau Malaysia lebih disukai oleh masyarakat Indonesia di perbatasan tersebut. Terlebih, mata uang ringgit lebih disukai daripada rupiah. Hal-hal yang berbau Indonesia hanya mereka “nikmati” saat upacara bendera di sekolah.

Walau ini adalah cerpen yang notabene hanya kisah fiktif, tapi ide ceritanya berasal dari kisah nyata. Herti, si penulis cerpen tersebut, pernah bercerita pada saya bahwa cerpen ini ditulis setelah dia membaca artikel di sebuah majalah tentang fenomena kehidupan masyarakat di perbatasan Indonesia (Kalimantan) dan Malaysia.

Karena sudah ditulis sejak tiga tahun lalu, sebenarnya saya tak begitu perhatian lagi terhadap cerpen tersebut. Tapi hari ini, tiba-tiba saya tergerak untuk membahasnya lagi.

Gara-garanya, beberapa hari lalu saya bertemu dengan seorang perempuan yang masih muda, dia pengusaha kue kering yang sudah sukses dari Bandung. Kami sebenarnya berbincang soal rencana dia untuk menerbitkan buku. Tapi di sela-sela pembicaraan, si teman ini bercerita tentang salah satu pengalaman dia ketika berkunjung ke Jepang.

“Masa orang Jepang itu bilang, your cake is too fancy for Indonesia. Kalau ini buatan Malaysia atau Singapore, saya mau beli. Tapi karena buatan Indonesia, maaf saya tak mau beli. Saya sarankan pada Anda, ubah saja label ‘made in Indonesia’ di produk Anda ini menjadi “made in Malaysia’ atau ‘made in Singapore’. Dijamin lebih laris. Anda akan mendapat profil yang jauh lebih besar.”

Si teman ini terlihat emosi ketika menceritakan pengalaman di atas. “Kalau saya hanya memikirkan uang sih, saran dia itu akan segera saya ikuti. Tapi saya masih punya jiwa nasionalisme. Hati saya terasa sangat sakit ketika dia mengucapkan kalimat itu. Sedemikian rendahkah citra Indonesia di mata dunia luar?

* * *

Dua kisah di atas membuat saya mikir-mikir. Saat ini, sebagai sebagai entrepreneur, hal-hal seperti di atas belum pernah saya alami. Saya juga punya banyak teman pengusaha di Komunitas Tangan Di Atas. Banyak di antara mereka yang sudah sukses ‘melebarkan sayap’ sampai ke luar negeri.

Pak A.R. Hantiar misalnya, pernah menceritakan salah satu pengalaman menariknya ketika ia berkunjung ke sebuah negara Eropa. Ternyata, masyarakat di sana menganggap bahwa penduduk Indonesia adalah orang-orang yang sangat religius. Intinya, citra Indonesia di mata mereka sangat positif.

Jadi, mungkin tidak semua orang luar negeri memandang Indonesia secara under estimate. Mungkin banyak juga produk kita yang tetap laku di luar negeri, walau diberi label ‘made in Indonesia’.

Tapi terlepas dari apapun, saya berpendapat bahwa kedua kisah di atas merupakan salah satu fakta yang perlu kita cermati dengan serius.

Pertanyaannya adalah:
Mengapa banyak orang luar yang memandang Indonesia dengan rendah seperti itu?

Menurut saya:

1. Karena kita adalah bangsa yang tidak percaya diri. Kita lebih senang menggunakan produk-produk luar daripada produk kita sendiri.

Ketika Malaysia mengklaim Tari Pendet sebagai budaya mereka, barulah kita kebakaran jenggot. Tapi sebelumnya, apakah kita sudah serius dalam memelihara dan mengembangkan tarian dari Bali ini agar ia tetap lestari dan dicintai oleh generasi muda kita?

Maaf, saya tak terlalu yakin :)

Terlepas siapapun Megawati Soekarno Putri, terlepas dari fakta bahwa saya BUKAN salah seorang pengagum dia, terus terus terang saya sangat setuju pada ucapannya dalam acara Capres Bicara di Trans TV beberapa bulan lalu. Saat itu, Megawati menyatakan prihatin terhadap remaja Indonesia yang lebih menyukai lagu dan tari-tarian dari Barat ketimbang lagu dan tari-tarian asli Indonesia.

2. Karena mental bangsa kita sudah bobrok. Ingatlah kasus KPK, Cicak vs Buaya. Saya tak perlu bercerita panjang lebar. Anda pasti lebih tahu :)

3. Karena sumber alam kita yang seharusnya dikelola oleh negara (bahkan sudah diatur secara sangat jelas dalam UUD 45), eh.. malah diserahkan kepada pihak asing. Coba hitung, sudah berapa banyak BUMN kita yang dijual ke luar negeri. Sudah berapa banyak sumber alam kita yang menjadi milik asing?

KETIGA POIN di atas – menurut saya – merupakan faktor utama yang menyebabkan banyak orang luar negeri yang memandang rendah terhadap negeri kita.

* * *

Saya jadi ingat cerita tentang Republik Rakyat China (RRC). Dulu, mereka adalah negeri yang biasa-biasa saja. Ketika bahasa Inggris ditetapkan sebagai bahasa internasional nomor satu di dunia, mereka justru tidak mau mengakuinya. Mereka PERCAYA DIRI dengan bahasa mereka sendiri.

Lantas, singkat cerita, banyak warga China yang akhirnya sukses di mana-mana. Mereka punya perusahaan-perusahaan besar, mereka menguasai banyak sektor perekonomian.

Kondisi ini menyebabkan posisi China di peta perekonomian dunia sangat besar. Mereka punya “kekuatan luar biasa” yang tak terbayangkan sebelumnya.

Kekuatan ini menyebabkan banyak perusahaan milik orang China yang dengan penuh percaya diri mencantumkan salah satu persyaratan berikut dalam penerimaan karyawan baru:

“Menguasai bahasa Mandarin baik secara aktif maupun pasif”

Artinya, secara perlahan dan alamiah namun pasti, bahasa Mandarin kini menjadi salah satu bahasa paling berpengaruh di dunia. Dan akhirnya, bahasa ini pun ditetapkan sebagai salah satu bahasa internasional!

Kita mungkin tercengang. Tapi menurut saya: Inilah BUAH MANIS dari sebuah sikap percaya diri. Inilah BUAH MANIS dari sebuah sikap nasionalisme.

Siapa yang teguh dalam memegang prinsip hidupnya, dan percaya diri dengan keunikan dirinya, maka Insya Allah dia akan menjadi orang yang sangat sukses di masa depan!

* * *

Keteguhan sikap dan kepercayaan diri, seperti yang ditunjukkan oleh masyarakat China, memang terkesan tidak menguntungkan dalam jangka pendek.

Ya, coba bayangkan saja bagaimana bila si teman pengusaha dari Bandung tersebut ketika dia menolak saran orang Jepang untuk mengganti lebel produknya.

Ya, dia “kehilangan” banyak potensi penghasilan.

Tapi, saya percaya, itu adalah potensi jangka pendek belaka.

Sementara untuk jangka panjang, simaklah cerita tentang negeri China di atas. Itu adalah bukti yang SANGAT JELAS :)

* * *

Jadi kalau sekarang saya ditanya:
“Apakah sebagai pengusaha Indonesia, kita tak boleh nasionalis?”

JAWABAN SAYA: Kita harus sangat nasionalis.

Kita harus teguh dalam memegang prinsip-prinsip yang kita yakini.

Kita harus percaya diri dengan potensi dan keunikan kita sendiri.

Saya percaya, inilah salah satu cara paling jitu agar bangsa kita bisa bangkit lagi, bisa dihormati lagi oleh bangsa-bangsa lain di dunia ini!

NB: Saya jadi kepikiran, tiba-tiba punya sebuah mimpi besar: Saya ingin sekali agar Sekolah-Menulis Online suatu saat nanti diakui oleh dunia sebagai salah satu produk Indonesia yang bisa mengharumkan nama bangsa ini. Amiin, semoga tercapai!

Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!

Jonru

Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com

Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com

Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com

  • Share/Bookmark

Comments

10 Comments on Pengusaha Indonesia Tidak Boleh Nasionalis?

  1. nugroho yudanto on Sat, 21st Nov 2009 11:02 pm
  2. Wah artikel bagus Pak Jonru. Memang sudah saatnya Indonesia harus unjuk gigi di dunia Internasional. Masak kalah dengan Singapura yang nggak punya sumber daya alam tapi bisa makmur.

    Kalau bertemu dengan pengusaha asal Bandung tadi, misalkan mendapat pertanyaan serupa, jawab saja “Most of products that you buy from Singapore are made in Indonesia, If you want get cheaper price and good quality product, please do not hesitate to contact me”. Trus infonya disebar di forum TDA Pak, siapa tahu ada rekan member TDA yang memenuhi. Bukan begitu Pak Jonru?

    Warm Regards,

    NY

  3. Iwanpekl on Sun, 22nd Nov 2009 03:14 am
  4. Sip bos. Artikelnya selalu memotivasi saya. Trims.

  5. mohammad hartono on Mon, 7th Dec 2009 02:55 am
  6. Sambil mendengarkan lagunya crisye kala sang surya tenggelam saya memberikan komentar ha..ha.. dari kisah kawan tsb yg jatuh karena hasil karyanya tidak laku terjual dan kisah tsb kemudian di bukukan atau di buat cerpen yach mungkin kalau tidak salah mas jonru mengatakan kisah tsb termasuk fiktif ha..ha…memang benar mas kalau lagi jatuh memang sakit tetapi kita harus logis pembeli adalah raja ,mungkin saja pembeli tsb orang tidak berpendidikan jadinya membeli karena sebelum membeli sudah termakan kata kata orang lain bahwa tikar ini bukan buatan eropa tapi buatan bajingan malasyia ha..ha…

  7. Essay Papers on Thu, 21st Jan 2010 08:39 pm
  8. Thank you a lot for this information, and looking forward to reading more in the future, as I have bookmarked your site, this post is really very informative. Thanks

    Essay Papers

  9. Herman Baso on Sat, 23rd Jan 2010 05:58 am
  10. kalau dipaksakan mungkin ada korelasi juga kali dengan apa yang pernah saya tulis di blog saya tentang “APLIKASI KOMITMEN” yang menyebabkan kualitas individu Malaysia lebih baik daripada Indonesia

  11. Dira on Thu, 28th Jan 2010 04:50 pm
  12. Menarik sekali ulasannya pak. Pertama kali mampir nih, salam kenal. Oya, selamat atas penghargaannya minggu lalu, semoga makin getol berbagi. Sy mesti banyak belajar dari blog ini nih…

  13. Habib Yunus on Mon, 8th Feb 2010 10:18 pm
  14. Motivasi yang sangat mantap bang, agar kita lebih mencintai bangsa sendiri….

  15. batiknovita.com on Tue, 9th Feb 2010 04:02 pm
  16. Mari kita gunakan produk2 dalam negeri yang tak kalah kualitasnya dengan negara lain. Indonesia masih terlalu luas untuk dimanfaatkan SDA dan SDMnya, yang tak kalah kualitasnya dengan negara lain. Maju terus Indonesiaku… :)

  17. Cara Dapat Uang on Sun, 14th Mar 2010 06:22 pm
  18. Walaupun kita orang indonesia sekalipun,kalau soal menyangkut yang namanya bisnis harus rela mengorbankan nasionalisme yang melekat dalam diri kita ini.Tak ada masalahnya mencoba produk luar untuk dipasarkan di indonsia guna meraih pasar yang ideal.

  19. ian on Sun, 28th Mar 2010 10:23 am
  20. Saya selalu beranggapan bahwa Indonesia adalah negara yang paling hebat, negara yang paling kaya akan kekayaan alamnya, negara yang paling berbudaya akan kesenian tradisionalnya, dan negara yang selalu indah utuk dikunjungi. Banyak hamparan pulau-pulau yang menghiasi di setiap tepi-tepi negara Indonesia ini. Banyak sekali budaya-budaya yang ditinggalkan dari nenek moyang kita di negara ini, contohnya kain batik. Saya jujur, walau masih muda saya senang sekali mengenakan pakaian batik. Kain batik bagi saya adalah sebagai kepribaian negara kita, banyak corak ditorehkan didalam kain batik ini, sebagaimana menggambarkan Indonesia yang memiliki bermacam-macam suku, adat, budaya, bahasa,dan agama. Jadi, mari kita melestarikan bersama-sama peninggalan nenek moyang kita yang dahulu dimulai dari diri kita terlebih dahulu.

Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.

Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
- Jonru's Fan Page
- Twitter
- Koprol, atau
- Account Facebook Saya

Mau diskusi atau konsultasi seputar penulisan? Klik di sini