Menulis, antara bakat dan pilihan hidup
Filed under: Dunia Penulisan
Dulu, Saya beberapa kali diajak oleh orang-orang tertentu untuk bergabung dengan bisnis Multi Level Marketing (MLM). Pernah saya tergoda, terjun beberapa bulan di dunia yang satu itu. Akhirnya, saya tewas dengan mengenaskan, karena memang saya merasa tak punya bakat sama sekali. Karena itu, saya sering jengkel luar biasa ketika ada pebisnis yang masih ngotot merayu saya dengan ucapan, “Untuk terjun ke bisnis, bakat itu tidak perlu, kok. Saya aja dulunya tak punya bakat sama sekali. Tapi saya bisa sukses seperti sekarang ini.”
Tragisnya, di dunia penulisan pun saya seringkali mendengar seorang penulis senior yang bicara seperti itu. “Untuk jadi penulis hebat, bakat itu tak terlalu penting, kok. Bla… bla.. bla…” Lebih tragis lagi, ternyata saya sangat setuju dengan pendapat itu!
Setelah berpikir lebih dalam, saya menyesali diri sendiri, merasa sangat bodoh. Kenapa saya bersikap amat diskriminatif? Saya setuju dengan pendapat mengenai tidak pentingnya bakat di dunia penulisan, tapi saya sangat tidak setuju dengan hal yang sama di dunia bisnis. Apakah saya sudah menjadi semacam ibu tiri yang pilih-pilih kasih?
Oke, saya akhirnya menyerah, mencoba mencari argumen yang lebih kuat dan masuk akal. Kenapa saya merasa tidak punya bakat di bidang bisnis, dan saya sama sekali tidak tergerak untuk terjun ke sana?
Setelah berpikir lebih dalam lagi, saya menemukan sebuah jawaban yang agaknya cukup valid, mungkin bisa membungkam mulut si pebisnis yang tak pernah henti merayu saya.
“Ini adalah sebuah pilihan hidup!”
Ya, benar. Semuanya berpulang pada pilihan hidup.
Jika mau dan punya motivasi yang kuat, saya yang tidak punya bakat bisnis sama sekali ini, suatu saat nanti mungkin bisa menjadi seorang pengusaha sukses yang kaya raya. Saya mungkin bisa menjadi seorang raja MLM yang bisa membeli Kepulauan Seribu, bahkan pulau Bali. Jika punya motivasi yang sangat kuat, saya akan berjuang keras agar bisa sukses di dunia MLM yang amat membahagiakan dari segi materi.
Tapi yang terjadi selama ini; saya tak punya semangat sama sekali. Ketika dulu saya terjun ke dunia MLM, saya menjadi orang yang sangat malas. Malas mencari downline, malas mencari pembeli. Ketika bertemu dengan seorang calon pembeli/downline yang sangat potensial pun, saya bersikap ogah-ogahan. Saya bukan tipe manusia agresif yang melihat sosok seorang manusia sebagai ladang duit yang amat menggiurkan. Saya pikir, enggak penting-penting amat gitu lho, mencari uang dengan cara seperti itu.
Dan itulah alasan utama kegagalan saya di bidang bisnis, khususnya MLM. Saya pernah menceritakan hal ini pada seorang teman yang juga mencoba merayu saya untuk menekuni bisnis MLM yang ia ikuti. Anehnya, dia malah menyalahkan MLM saya terdahulu. Padahal saya tahu, sayalah yang salah. Saya pikir, teman ini mungkin hanya mencoba menjelek-jelekkan perusahaan saingannya, itu saja.
* * *
Saya kira, dunia penulisan pun seperti itu. Kalau kamu punya bakat yang luar biasa di bidang penulisan, maka kamu punya potensi yang sangat luar biasa pula untuk menjadi seorang penulis handal. Bakat yang baik akan membuat seorang calon penulis lebih mudah dalam menyerap teori-teori penulisan. Proses belajar yang dilaluinya akan lebih cepat dan sederhana ketimbang mereka yang tidak punya bakat sama sekali.
Tapi, jangan sedih dulu, wahai penulis yang tak berbakat! Saya belum selesai bicara. Pembicaraan kita berikutnya adalah: ternyata bakat saja tidak cukup. Kamu punya bakat yang sangat luar biasa, itu sangat bagus. Perlu disyukuri. Tapi apa arti itu semua jika kamu tidak punya motivasi dan keinginan yang kuat? Kamu tak akan pernah menjadi seorang penulis.
Saya punya sekitar 10 atau 15 orang teman yang bertipe seperti itu. Bakat menulis mereka sangat bagus. Tapi ketika saya mengkompori mereka untuk menekuni dunia penulisan secara lebih serius, mereka menjawab dengan santai, “Saya menulis untuk iseng-iseng aja, kok!”
“Belum pernah kepikiran untuk mengirim naskah kamu ke majalah atau penerbit?”
“Buat apa? Apakah itu penting bagi hidup saya?”
* * *
Maka, di sinilah para penulis yang tak berbakat bisa menghibur diri. Silahkan, anda bisa tersenyum lebar sekarang. Sebuah kemenangan besar menanti anda. Kuncinya hanyalah kalimat klise berikut: Ternyata bakat saja tidak cukup. Banyak orang yang bilang bahwa peran bakat bagi? keberhasilan seorang penulis hanya sekitar 10 persen, atau bahkan 1 persen. Kita tak perlu berdebat soal jumlah persennya. Itu tidak penting, saudara-saudara sekalian! Sebab ini bukan rumus kimia.
Yang penting untuk kita percayai: di mana ada kemauan, di situ ada jalan. I believe I can fly. Jika aku percaya bahwa aku bisa terbang, maka aku bisa terbang.
Mungkin peribahasa ini terlalu mengada-ada. Tapi intinya adalah: KEINGINAN dan MOTIVASI yang kuat merupakan FAKTOR PENENTU TERBESAR dalam meraih sukses di bidang apapun. Di bidang bisnis? Ya. Di bidang penulisan? Ya juga. Saya yang tidak berbakat sama sekali di bidang bisnis, akan bisa jadi pengusaha sukses dan kaya raya, jika saya memang punya motivasi dan keinginan yang sangat tinggi. Dan kamu yang merasa tidak punya bakat menulis sama sekali, suatu hari nanti mungkin bisa mengalahkan popularitas Agatha Christie atau Stephen King. Who knows?
Tapi, seperti yang saya sebutkan di atas, ini semua memang kembali ke masalah pilihan hidup. Seorang teman saya pernah berkata, “Saya merasa rugi jika menghabiskan waktu hanya untuk mengetik di depan komputer dan mengarang cerita yang tidak nyata. Mending benerin genteng atau ngisi bak mandi.”
Apakah saya marah mendengar ucapan seperti itu? Insya Allah tidak, karena saya tahu ini menyangkut pilihan hidup. Terus terang, saya pun akan mengucapkan kalimat yang lebih kurang sama untuk dunia bisnis. “Saya merasa rugi jika menghabiskan waktu hanya untuk mengumpulkan downline dan merayu orang-orang untuk bergabung dengan bisnis saya.” Ini bukan pilihan hidup saya. Saya lebih suka mencari uang dengan cara menjual tulisan-tulisan saya. Saya merasa bahagia, karena lewat tulisanlah saya tidak hanya mendapat uang, tapi memiliki kesempatan yang sangat besar untuk menularkan pemikiran-pemikiran saya kepada orang lain.
Tapi tentu saja, saya harus menghargai orang lain yang menjadikan MLM dan sejenisnya sebagai pilihan hidup mereka. Toh, setiap orang pasti berbeda, bukan?
* * *
Jadi, bagi kamu yang ingin jadi penulis dan merasa tak punya bakat, saya kira inilah resep yang cukup jitu: Jadikan menulis sebagai bagian dari pilihan hidup kamu. Jangan perlakukan ia sebagai hobi semata, yang ditekuni di kala senggang saja, lalu ditinggalkan jika kesibukan tugas kantor atau pekerjaan di toko menyita banyak waktu kamu.
Ketika peluncuran buku Antologi cerpen FLP Hongkong, Helvy Tiana Rosa berkata pada para penulis di sana yang semuanya berprofesi sebagai pembantu rumah tangga, “Mulai sekarang jika ada orang yang bertanya apa pekerjaan kalian, jawablah ‘profesi kami penulis dan hobi kami membantu orang lain’.”
Saya kira, inilah sikap yang seharusnya diambil oleh penulis – baik yang berbakat maupun tidak – jika mereka ingin terjun dan sukses di dunia penulisan. Katakan pada diri kamu sendiri, “Saya adalah penulis. Hidup saya untuk menulis. Menulis adalah bagian dari gaya hidup saya.”
Pesan saya untuk para penulis yang berbakat, “Apa kamu tidak merasa rugi karena menyia-nyiakan pemberian Tuhan yang sangat berharga?”
Pesan saya untuk penulis yang tidak berbakat, “Ayolah. Kamu bisa mengalahkan para penulis yang berbakat itu, karena mereka sama sekali tidak punya niat untuk bersaing dengan kamu.”
Maaf bila tidak berkenan.
Senayan, 12 Desember 2005
Jonru
(bersyukur karena merasa punya bakat menulis sejak kecil dan punya keinginan yang kuat untuk jadi penulis)
Tulisan ini sudah dimuat juga di sini
Comments
38 Comments on Menulis, antara bakat dan pilihan hidup
-
kus on
Wed, 22nd Nov 2006 11:24 am
-
MT on
Sat, 25th Nov 2006 05:19 pm
-
jonru on
Tue, 28th Nov 2006 09:57 am
-
jonru on
Tue, 28th Nov 2006 10:00 am
-
az on
Wed, 29th Nov 2006 12:55 am
-
nadz on
Thu, 14th Dec 2006 08:34 am
-
cindymon on
Tue, 26th Dec 2006 02:51 pm
-
andra on
Mon, 15th Jan 2007 03:06 pm
-
hikmat on
Sun, 11th Mar 2007 02:40 am
-
Fia on
Mon, 16th Apr 2007 10:35 am
-
Kiat agar Punya Banyak Ide dan Produktif Menulis on
Thu, 17th May 2007 10:29 am
-
Jonru on the Web » Kiat agar Punya Banyak Ide dan Produktif Menulis on
Thu, 17th May 2007 10:37 am
-
lenijuwita on
Thu, 17th May 2007 12:37 pm
-
tunjungsari on
Fri, 21st Sep 2007 12:59 pm
-
akimasa on
Tue, 25th Sep 2007 02:41 pm
-
Bisnis Online vs Penghasilan Online | Jonru on the Web on
Wed, 2nd Jan 2008 08:23 am
-
desy on
Tue, 27th May 2008 04:14 pm
-
ummufatih on
Tue, 27th May 2008 11:23 pm
-
Bagaimana Mendatangkan Banyak Inspirasi? | BelajarMenulis.com on
Thu, 7th Aug 2008 07:19 am
-
gunawan on
Sun, 24th Aug 2008 02:45 am
-
ugi on
Sat, 30th Aug 2008 09:22 pm
-
Anang Dedi on The Blog » Blog Archive » Eehhh…..enaknya kalo pintar menulis on
Thu, 4th Sep 2008 11:27 am
-
rosyid on
Fri, 7th Nov 2008 07:36 pm
-
fadly on
Thu, 22nd Jan 2009 01:29 pm
-
Joni Esmot on
Sat, 4th Apr 2009 04:47 pm
-
arif on
Wed, 26th Aug 2009 02:54 pm
-
Aya on
Wed, 26th Aug 2009 04:05 pm
-
Kheng Sun on
Wed, 26th Aug 2009 10:08 pm
-
machmud soleha on
Thu, 27th Aug 2009 11:35 am
-
Lana Azkia on
Thu, 27th Aug 2009 07:22 pm
-
nur on
Tue, 1st Sep 2009 03:12 pm
-
arsyak16 on
Wed, 9th Sep 2009 11:31 am
-
jonru on
Wed, 9th Sep 2009 11:36 am
-
jonru on
Wed, 9th Sep 2009 11:37 am
-
kang bashir on
Mon, 14th Sep 2009 09:32 am
-
gobil on
Mon, 23rd Nov 2009 10:07 am
-
Jonru on
Mon, 23rd Nov 2009 11:03 am
-
anna noor on
Wed, 2nd Dec 2009 03:28 pm
bedanya penulis berbakat , tak perlu banyak belajar dan mencari karena hampir di setiap goresan penanya adalah harga.
penulis tidak berbakat atau tidak memiliki bakat menjadi penulis bisa saja menjdai penulis besar tapi tentu dengan perjuangan “lebih” daripada penulis berbakat.
mau jadi penulis berbakat atau tidak berbakat , itu bukan pilihan hidup. Kita tak bisa memilih.
Yang pasti tekuni dan yakini, karena keyakinan bisa meruntuhkan apa saja. ( Kenji Endoh , 20th Century Boys- Urasawa Naoki , Kodansha Published (c) 2004 )
hehehe… mas Jonru anti MLM, sama seperti saya. Tapi mas Jonru, menurut pengalaman saya, motivasi saja tidak cukup untuk menjadi apa yang kita pilih dalam hidup. Perlu satu KEYWORD lagi yang selama ini sebenarnya sudah mas Jonru lakukan, yaitu : KOMUNITAS. Ya, dengan adanya komunitas, bakat, kemauan, dan motivasi,bisa terus diupgrade!
kalau soal motivator dan MLM saya pernah nulis pengalaman seperti di sini : http://lingkaran.wordpress.com/2006/07/08/super-trainer-dan-tukang-santet/
buat kus:
betul banget
jangan pernah menyerah ya…
motivasi adalah yang utama untuk meraih sukses!
buat MT:
sebenarnya saya tidak anti MLM
setelah saya pelajari, sebenarnya konsep MLM itu bagus
cuma, citra MLM jadi buruk gara2 banyak anggota MLM yang berusaha dengan cara-cara yang tidak simpati.
tapi kenapa saya tidak mau ikut MLM? Alasannya ya karena itu tadi. Saya merasa itu bukan pilihan hidup saya. Dan saya kira “bukan pilihan hidup” tidak sama dengan “anti” bukan?
ane suka semua tulisan ini, Mlm itu ngebingungin.
Mlm emang bikin eneg, diteror terus gw….
Munlis didepan komputer emang enak, meskipun hasilnya kadang bikin eneg…
saya ndak percaya bakat, kita bisa menjadi apa saja yang kita pilih.
Alhamdulillah…..makasih
Slam kenal utk semua.Terus terang mas , saya orang yang baru di dunia tulis menulis tetapi ingin melihat apakah ada bakat atau gak, Jadi why not terjun aja. Terutama dalam rangka mengisi content web.Sebelumnya saya hanya nulis utk tugas sekolahan aja.
Saya cukup takjub dengan apa yang dilakukan mas disini.
Tulisan anda memberikan semangat bagi para penulis baru seperti saya dan memberikan prespektif bagi penulis yang telah lama berkecimpung.
Tentang MLM, menurut saya itu sebuah sistem yang telah ada mekanismenya sendiri sehingga orang yang terlibat atau dilibatkan akan bertindak sesuai yang telah digariskan/sistem/biz model tsb, dan bagi orang tertentu lain bisa salah presepsi.Jadi menurut saya positif thinking aja dan jangan sampai merusak hub baik dengan teman kita tersebut. Saya sering ditawari , lalu saya ajak diskusi aja, terutama sistem motivasinya dan akhirnya menolak secara halus. Hubungan kita semakin baik sebagai teman.
Untuk menjadi penulis butuh satu hal lagi dalam kaitannya dalam kegiatan menulis, satu hal ini penting karena tak akan bisa dilakukan oleh sembarang orang. Menulislah dengan hati, tuangkan apa yang ada dalam benark hati kita penuh cinta dan keikhlasan karena tak ada suatu karya yang baik dilahirkan atas dasar terpaksa atau kerja rodi tanpa hati yang ikhlas.
[...] Jadikan kegiatan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi semata yang dikerjakan hanya ketika ada mood, atau hanya ketika ada sisa waktu. Dengan kata lain, jadikanlah kegiatan menulis menjadi bagian dari gaya hidup anda (Inilah sebabnya, saya sekarang pakai motto “Writing is not my hobby. It’s a part of my life“). [...]
[...] Jadikan kegiatan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi semata yang dikerjakan hanya ketika ada mood, atau hanya ketika ada sisa waktu. Dengan kata lain, jadikanlah kegiatan menulis menjadi bagian dari gaya hidup anda (Inilah sebabnya, saya sekarang pakai motto “Writing is not my hobby. It’s a part of my life“). [...]
Saya baca “beberapa kesalahan blogger pemula”, akibatnya berhenti deh belajar nulis, untungnya saya baca artikel ini. Coba lagi deh belajar nulis, minimal untuk mengingatkan diri sendiri aja, makasih ya…..artikel2nya yang selalu “inspiring”
salam kenal.menurutku, bakat itu penting, tapi kemauan lebih penting. bener banget mz Jonru, yang nggak berbakat nggak usah takut sama yang berbakat, karena walaupun mereka adalah pesaing, tapi kalau mereka nggak berminat, ya sama saja.
Semangat buat semua penulis muda yang mungkin masih di tahap iseng menulis…
Saya setuju sekali dengan tulisan mas Jonru ini..
saya pribadi tidak membenci bisnis mlm, tetapi saya benar2 tidak mau menempuh jalan itu.. Walaupun saya tahu bahwa banyak sekali orang di dunia tsb yang berhasil menjadi kaya raya..
Mereka berhasil karena mereka memang bekerja keras dan memiliki motivasi yang kuat..dan itu memang jalan hidup yg mereka pilih..
Tidak seperti saya yang tidak memiliki ketertarikan di dunia tersebut..
Saya merasa jika saya mengajak teman saya bergabung di bisnis mlm, mungkin saya telah membebani teman saya itu..
Karena saya sendiri sangat merasa terbebani saat diajak bergabung mlm.. Apalagi oleh teman sendiri..
Menurut saya, dan ini adalah pilihan hidup saya, lebih baik menjalani hidup ini seperti apa yang kita inginkan.. Harta bukan segalanya, hidup aman bersama orang yg dicintai dan bisa mengerjakan hal-hal yang kita sukai (seperti menulis, menggambar, bermain, dll) menurut saya itu sudah cukup.. Yang penting kita menjadi orang yg baik dan tidak menyusahkan orang lain..
[...] kan tidak punya bakat bisnis,” mohon maaf karena saya harus menyarankan Anda untuk membaca tulisan yang yang satu ini. Di situ, Anda akan menemukan bahwa PILIHAN HIDUP-lah yang menjadi penentu keberhasilan seseorang, [...]
karena saya suka menulis artikel yang relatif jauh lbh pendek drpd buku, apa tulisan anda yg di atas jg berlaku untuk penulisan artikel?thx b4
Desy…
Tulisan di atas berlaku bagi semua penulis, tanpa kecualiBahkan tulisan di atas bisa berlaku bagi siapa saja, tak peduli apapun profesinya, karena ini bisa menyangkut pilihan hidup secara umum.
Salam sukses ya…
Jonru
Assalamu’alaikum
Saya orang yang tertarik ingin belajar menulis, tapi merasa gak bisa menulis. Saya juga blogger pemula…merasa seringkali buntu dan tak bisa memulai kata2 apa yang pantas untuk ditulis di blog saya jadinya…saya sering dihinggapi rasa malas menulis blog…bahkan seringkali khawatir tulisan saya gak bagus atau kurang menarik dan mersa gak berbakat nulis. Tapi saya pingin sekali bisa menulis! Untuk itu saya coba googlink cari situs pemandu, eh akhirnya menemukan situs nya mas jonru dan belajarmenulis.com ini, wah saya jadi semangat untuk banyak belajar jadinya, mudah2an dengan gabung disini saya jadi bisa menulis dengan baik. Terimakasih
Waalaikumsalam…
Amiin…
Saya doakan semoga sukses jadi penulis hebat ya….Jonru
[...] PILIHAN HIDUP. Sebagai bahan referensi, Sanah bisa membaca salah satu tulisan saya yang berjudul “Menulis: Antara Bakat dan Pilihan Hidup” <<== Silahkan [...]
saya pengen banget bisa nulis entah itu di terima atau tidak tapi berharap di terima terus saya pengen ngebuktiin bahwa dengan kebiasaan aya mengoleksi banyak buku bisa melahirkan sesuatu yang beda.
adakah trik jitu menulis yang tidak membosankan trus adakah ada sarat kusus jadi penulis ?
Memang apa salahnya jadi penulis sekaligus pelaku bisnis MLM? Bukankah malah bisa lebih untung? Siapa tahu dengan mengenal dunia MLM, dan mengenal mitra-mitra suksesnya,kita bisa membuat buku atau cerita seputar mereka, iya kan?
[...] Jadikan kegiatan menulis sebagai pilihan hidup, bukan hobi semata yang dikerjakan hanya ketika ada mood, atau hanya ketika ada sisa waktu. Dengan kata lain, jadikanlah kegiatan menulis menjadi bagian dari gaya hidup anda (Inilah sebabnya, saya sekarang pakai motto “Writing is not my hobby. It’s a part of my life“). [...]
Saya setuju sekali dengan mas Jonru, memang hal yang terpenting ketika akan melakukan satu aktivitas adalah motivasi. Kita perlu punya motivasi, agar aktivitas kita tidak hanya sekedar menjadi rutinitas semata, tapi kita selalu terdorong untuk menjadi lebih baik. Membaca tulisan2 Mas Jonru, saya menjadi sangat tertarik untuk menekuni dunia tulis menulis. Itu merupakan impian saya yang belum kunjung terwujud.
Salam Kenal Mas Jonru. bagaimana kabar anda, semoga sehat2 selalu.
sy salah satu yg menyukai tulisan anda, dan telah mengikuti kursus 9 mgg programm anda, namun maaf sy blm bisa lnjut ke tahap selanjutnya. “krn seseuatu hal tentunya”. insyaAllah di lain waktu, krn sy merasa masih perlu menimbah ilmu dari yang lebih pengalaman, salah satunya Anda.
terkait dengan tulisan anda saya pernah menulis tentang Blogging For Spirit. dan salah satu pesan yg saya sampaikan di situ mengenai hungungan antara menulis dan ngeblog.jadi menulis itu sgt bermanfaat dan menurut saya menyenangkan dan menantang.
salam!
Salam cinta tulis!
Menutut Jonru (dan Anda para komentator), apakah penting; apa itu (status) latar belakang seseorang untuk menjadi seorang penulis?
Karena saya hanya seorang pengangguran dengan hanya sanggup menempuh pendidikan formal sampai SLTA saja.
Apakah status saya yang “rendahan” itu tidak membuat penerbit enggan “menyentuh” naskah saya?
Karena selama ini yang saya dapati, penulis-penulis, dalam biografi atau biodata mereka, adalah orang-orang dengan riwayat hidup (terutama dalam hal pendidikan) yang hebat-hebat.
Saya mengakui adanya hasrat menggebu-gebu dalam diri saya untuk menulis, menulis, dan menulis.
Tapi gairah itu menjadi naik turun, bergelombang tak menentu, ketika saya sadar diri (mengingat); akan kemungkinan naskah saya yang entah-entahan untuk sampai dapat diapresiasi oleh umum (diterbitkan)–membuat saya merasa pesimis dan berkecil hati.
Tapi saya masih tetap menulis secara rutin. Meskipun tak dibarengi harapan muluk-muluk untuk sampai menjadi karya yang pantas terpajang di toko-toko buku.
Terimakasih pada Jonru atas tema yang sesuai dengan perasaan saya.
Juga pada komentator-komentator sebelum saya atas “pengakuan-pengakuan” Anda sekalian (yang akhirnya sanggup dan berhasil memancing saya untuk ikut berterusterang dengan unek-unek saya).
Pula kepada komentator-komentator setelah saya (terutama bagi Anda yang berkenan memberi feedback untuk saya).
Mohon ma’af yang sebesar-besarnya (tulisan saya telah memakan banyak tempat dan membuat Anda kelelahan membacanya).
Syahdu selalu teruntuk para pecinta tulisan.
salam kenal..
saya dulu selesai kuliah karena saya menulis
menulis dan terus menulis
ada honor saat itu yang membantu selesainya skripsi saya,KKN, dan wisuda..
terima kasih ya Allah..
waktu SMA saya diledek kawan yang kakaknya seorang penulis. Saya terus berkarya, saat ini sudah menulis dua buku. Sementara teman yang meledek itu tak satupun saya jumpai karyanya hingga saat ini.
Jadi, memang perlu terus memperkaya diri dan terus berlatih
salam
Saya sangat suka membaca. Dan buku- buku yang saya baca terkadang membuat saya takjub dan salut pada pengarangnya. Saya bermimpi suatu saat nanti saya juga akan punya buku yang dahsyat. Banyak ide di kepala saya tapi rasanya susah sekali mengungkapkanya dalam kata- kata yang indah untuk di baca. Sekarang saya akan berusaha untuk mewujudkan impian saya. Terima kasih motivasinya ….
Wah menarik sekali artikel Jonru. Menulis sebagai pilihan hidup? Sulit juga ya mengingat peluang untuk menghasilkan uang dari menulis tidaklah mudah. Saya mengirim sebuah naskah buku ke penerbit dan perlu antre beberapa bulan tanpa ada kepastian. Artinya bisa saja setelah menanti sekian lama, naskah saya ditolak. Hal ini juga berlaku ketika aku mengirim tulisan ke majalah atau koran. Nasib karya-karyaku sungguh tidak ada kepastian. Rasanya hanya untuk orang-orang tertentu, menulis itu bisa menjadi pilihan hidup. Salah satunya ya Jonru! Soal bakat, saya lebih bingung lagi. Saya sampai menulis banyak artikel dan dua naskah buku belum tahu apakah saya berbakat menulis atau tidak. Meski sulit mengatakan bahwa menulis sebagai pilihan hidup, saya tetap bisa mengatakan menulis sebagai bagian dari hidupku.
mas jon saya sangat senang membaca tuisan-tulisan sampean tentang penulisan, bahkan sekarang saya dikatakan oleh temen-temen sesama guru “lagi gila internet”. namun aku biarkan. saya sukan menulis dan ingin ikut SMO tapi saat ini aku masih terbentur masalah biaya. maklum aku guru swasta yang gajinya pas-pasan. mohon jalan keluar. suwun
Itu dia kata-kata yang tepat untuk menjawab mereka. ![]()
Mantab, Bos!
selama ini teman saya juga rajin sekali mengompori saya untuk menekuni MLM yang telah kami ikuti. padahal, saya ikut itu biar terdaftar jadi member sehingga kalo beli produk-x bisa murah. tentang bisnisnya, sudah saya paksa tapi sulit!
untuk yang satu ini saya berani mengatakan sulit, dan sekarang saya tahu jawaban yang tepat.
karena itu bukanlah Pilihan Hidup Saya.
B)
karena pilihan hidup saya adalah jadi Penulis.
(biarpun sementara ini masih jadi penulis untuk diri sendiri) ![]()
BANSAI!!!
ah bang Jonru bisa aja… tapi bagus kata-kata bang Jonru menyalakan semangat saya untuk menggali kuburan “mimpi” saya sebagai seorang penulis yang sudah lama terkubur bermeter-meter di atas permukaan laut
tanya nih:
jadi penulis yang baik dan benar yang kaya apa yah, apa harus mengikuti fenomena (cerpen) atau kah gimana, dulu waktu SD pelajaran MENGARANG paling aku suka, berlanjut sampe SMU, nilainya bagus waktu itu…
tetapi penah menulis hanya sekali dimuat, karena sekali mengirim, dibayar loh (tapi dikit) kisah nyata bergenre horor, so sekarang malah mandeg..
bagaimanakah cara untuk membangkitkannya kembali pekerjaan menulis tersebut ?
@Arsyak16: penulis yang baik = penulis yang jadi dirinya sendiri dan tulisan2nya bermanfaat
Tambahan:
Cara untuk kembali bangkit menulis, ya mulai lagilah menulis. Hanya itu satu2nya cara
Sebuah bakat yang bagus tidak akan dapat berkembang tanpa menyadari kelebihan dan kekurangan dirinya dan bakat yang paling buruk dapat berkembang menjadi lebih baik saat ia menyadari kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya
” diambil dari film kartun slam dunk” hehehe
Sungguh kawanku jonru, belum selesai membaca saja sudah cukup menarik hati saya untuk terjun dalam dunia tulis-menulis, tapi pertanyaan saya “apakah anda memerlukan refrensi yang banyak dalam menulis satu artikel?”
@gobil: Seorang penulis memang harus rajin membaca. Setiap kali selesai membaca, biasanya ilmu, data, informasi dst dari buku tersebut akan tersimpan di memori otak kita. Sebagian di antaranya akan OTOMATIS TERTUANG bila kita menulis. Sementara sebagian lainnya, kita perlu mencari referensi lain. Jadi, tidak selamanya harus menulis dengan ditemani banyak referensi buku. Dan memang seorang penulis harus banyak membaca. Salam sukses ya!
menulis,menulis dan menulis. Maka ketika orang lain memberikan tanggapan atas tulisan kita, saya merasa telah menjadi seorang penulis (walau sebatas dibaca teman dekat). Hal tsb memacu diri untuk menjadikan penulis sebagai bagian dari hidup (kalau tidakmau disebut sebagai pilihan hidup)
Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.
Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
-
Jonru's Fan Page
-
Twitter
-
Koprol, atau
-
Account Facebook Saya
Mau diskusi atau konsultasi seputar penulisan? Klik di sini









Blog ini sangat 









