Lagi, Soal Perbedaan antara Tulisan Fiksi dengan Nonfiksi
Filed under: Dunia Penulisan
Beberapa waktu lalu, saya KAGET LUAR BIASA ketika menemukan fakta bahwa TERNYATA banyak penulis yang masih salah persepsi mengenai perbedaan antara tulisan fiksi dengan nonfiksi. Saya pernah membahas hal ini secara jelas dan detil di sini. Lantas, beberapa bulan sebelumnya saya juga pernah membuat tulisan yang temanya mirip, berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Kisah Nyata”. Silahkan klik di sini untuk membacanya.
Setelah menulis kedua artikel di atas, ternyata masih banyak teman yang sering bertanya pada saya. Pertanyaan mereka tentu beragam, tapi intinya mereka masih salah persepsi mengenai perbedaan fiksi dengan nonfiksi.
Dan beberapa hari lalu, lagi-lagi saya terlibat pembicaraan seru mengenai topik ini, bersama seorang teman lewat chatting di Facebook.
Si teman ini – sebut saja A – mengatakan bahwa dia berencana menulis novel yang diangkat dari sebuah insiden berdarah pada masa Orde Baru. Untuk menjaga privasi si teman ini, mohon maaf saya tak bisa menyebutkan insiden apakah itu. Silahkan tebak sendiri, ya
Teman A ini menyampaikan permasalahan yang dia hadapi:
“Saya hendak menulis novel yang diangkat dari insiden tersebut, yang sampai sekarang kasusnya belum terungkap. Saya punya banyak narasumber mengenai peristiwa itu. Dan saya pikir, kalau dituangkan dalam sebuah novel, sepertinya bagus juga. Masalahnya, cerita ini sedikit menyinggung SARA. Dan sepertinya, ada pihak yang tak suka kalau peristiwa itu dikenang kembali. Tapi bagaimanapun, insiden ini kan sudah menjadi bagian dari sejarah kita. Publik harus tahu kebenarannya. Bagaimana menurut Bang Jonru?”
Begitu mendengar penuturan teman A ini, saya langsung teringat pada kedua tulisan yang saya link di atas. Maka, segera saya menjawab, “Saya kira, hal-hal seperti ini tak masalah, Mas. Yang penting, kita pintar-pintar saja menulisnya. Mungkin bisa pakai simbol, nama dan tempat disamarkan, dan seterusnya. Namanya juga novel. Kita bebas bermain-main dengan imajinasi. Sebagai cerita fiksi, isi novel tentu tidak harus 100 persen faktual, bukan?”
“O, gitu ya? Jadi tak perlu ditulis berdasarkan kisah nyata?’
“Ya, enggak, dong. Ente mau menulis novel atau catatan sejarah?”
Si teman A sepertinya mikir sebentar, lalu dia berkata lagi, “Oooo…, jadi menurut Bang Jonru, novel itu pasti fiksi?”
Duh, saya tertawa geli di dalam hati mendengar pertanyaannya itu. Maka segera saya jawab, “Hehehe…., itu bukan menurut saya. Semua novel memang fiksi (saya sempat heran juga, dulu ada teman yang mencetuskan istilah “novel nonfiksi”, atau “novel semi fiksi” dan sebagainya, hehehehe….). Ide cerita boleh dari kisah nyata. Tapi dalam penggarapannya kan digabung dengan imajinasi. Kalau murni kisah nyata, namanya bukan novel. Mungkin memoar atau biografi atau catatan sejarah.”
“Tapi Laskar Pelangi kan kisah nyata juga, Bang???”
Nah, pertanyaan inilah yang membuat saya mulai NGEH.
Mungkin (ini hanya perkiraan saya lho ya….), sejak terbitnya novel Laskar Pelangi yang diangkat dari kisah nyata, juga beberapa novel sejarah yang notabene dari kisah nyata juga (seperti “Gajah Mada” atau Rahasia Mede”), maka “definisi” fiksi dan nonfiksi pun SEMAKIN KABUR di mata para penulis. Khususnya penulis-penulis yang belum tahu persis apa perbedaan antara tulisan fiksi dengan nonfiksi.
Saya pun segera menjawab, “Betul. Laskar Pelangi diangkat dari kisah nyata. Tapi tidak 100 persen. Di dalamnya banyak hal yang fiktif juga. Andrea Hirata sendiri juga mengakui.”
Si A ini tampak bingung. Saya pun merasa agak kesulitan menjelaskan masalah ini agar mudah dipahami. Akhirnya, saya terpaksa menggunakan analogi.
“Agar lebih dimengerti,” ujar saya, “logikanya begini. Ada air yang sangat bersih, dan halal dari segi hukum agama. Lalu tiba-tiba, ada lemak babi yang masuk ke air itu. Hanya setetes. Tapi itu sudah membuat air tersebut menjadi haram. Maaf ya, ini hanya analogi. Saya tidak mengatakan bahwa fiksi itu halal atau haram dan seterusnya. Sama sekali tidak! Ini hanya analogi agar masalah ini gampang dipahami. Oke?”
“Ya, saya paham.”
“Thanks. Jadi intinya begini:
Walau unsur imajinasi hanya setitik, maka itu sudah membuat sebuah kisah nyata menjadi karya fiksi. Contohnya adalah Laskar Pelangi tadi. Novel ini diangkat dari kisah nyata. Tapi karena di dalamnya sudah ada unsur-unsur imajinasi (tidak peduli sebanyak atau sesedikit apapun itu), maka dia sudah berubah menjadi karya fiksi. Paham, ya?”
“Ya, saya paham. Lantas yang jadi masalahnya, bagaimana dengan unsur SARA pada kisah nyata tersebut?”
“Seperti yang saya katakan tadi, semua itu tergantung bagaimana cara kita menuliskannya, Mas. Ada penulis bernama Laura Khalida yang pernah menulis novel berjudul Kupu-kupu Pelangi. Ceritanya tentang kondisi masyarakat di daerah tertentu di Jawa Barat. Di sana terdapat sebuah budaya yang memprihatinkan. Para orang tua sudah terbiasa menjual anak gadis mereka ke kota untuk dijadikan pelacur. Ini benar-benar kisah nyata. Ada beberapa daerah di Jawa Barat yang budayanya seperti itu.
Laura Khalida pun mengangkat kisah ini menjadi novel. Awalnya dia ragu, khawatir masyarakat setempat akan protes padanya. Tapi dia tak kehabisan akal. Di dalam novel ini, Laura sama sekali tidak menyebutkan nama daerahnya. Dia hanya menulis ‘sebuah desa di Jawa Barat’. Lalu dia menciptakan tokoh-tokoh fiktif di dalam novel tersebut. Yang faktual hanya hal-hal yang berkaitan dengan budaya tersebut.
Nah, begitu kira-kira gambarannya, Mas. Jadi semua tergantung dari kreativitas kita saja, kok. Semua bisa disiasati.”
“O, gitu, ya. Terus ada satu hal lagi, Bang, “lanjut Teman A. “Ternyata ada pihak tertentu yang tidak suka bila insiden berdarah tersebut diungkit-ungkit lagi. Bila saya tetap menulisnya, maka tentu ada resiko yang akan saya hadapi. Bagaimana, dong?”
“Hehehe….” saya kembali tertawa. “Sebenarnya jawabannya sudah saya ulang dua kali di atas, Mas. Itu semua tergantung kreativitas kita saja, kok. Semua bisa disiasati. Seno Gumira Ajidarma pernah menulis sebuah cerpen di masa Orde Baru, judulnya PAMAN GOBER, dimuat di Republika. Cerpen ini jelas-jelas menyindir dan mengkritik (alm) Soeharto. Karena tokoh Paman Gober pada cerpen ini benar-benar merupakan ‘analogi’ dari Soeharto. Tapi Seno aman-aman saja. Dia tidak ditangkap gara-gara cerpen tersebut. Sebab kritikannya disampaikan dengn cara yang sangat halus dan kreatif.”
“O, jadi intinya pada kreativitas, ya?”
Saya tersenyum lega. Akhirnya si teman ini paham juga. Alhamdulillah
NB:
Seperti yang sudah dibahas di sini:
Perbedaan antara fiksi dengan nonfiksi sebenarnya hanya terletak pada masalah faktual atau tidak, imajiner atau tidak.
Jadi, perbedaan antara keduanya sama sekali tidak ada hubungannya dengan gaya bahasa atau apapun selain masalah fakta atau imajiner.
* * *
Semoga Bermanfaat.
Terima Kasih, Salam Sukses untuk Anda!
Jonru
Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com
Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com
Penulis Buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat!”
Buku Pertama di Indonesia yang Tidak Sekadar Berisi Kiat Jitu di Bidang Penulisan,
Tapi Juga MOTIVASI TERBAIK untuk Memandu Anda Mewujudkan Impian sebagai Penulis Sukses!
Klik http://www.PenulisHebat.com
Comments
14 Comments on Lagi, Soal Perbedaan antara Tulisan Fiksi dengan Nonfiksi
-
Ninien on
Fri, 11th Dec 2009 02:30 pm
-
joko on
Fri, 11th Dec 2009 03:34 pm
-
siswanto on
Sat, 12th Dec 2009 07:06 am
-
Fajar Pambudi on
Tue, 15th Dec 2009 04:10 pm
-
Amir on
Fri, 8th Jan 2010 09:55 am
-
free mail on
Thu, 21st Jan 2010 09:51 pm
-
faruq on
Sat, 30th Jan 2010 04:28 pm
-
iriani lukitasari on
Sun, 7th Feb 2010 02:16 pm
-
azam on
Thu, 18th Feb 2010 11:43 pm
-
Michelle on
Tue, 20th Apr 2010 07:02 am
-
Cari Kerja on
Sat, 24th Apr 2010 02:08 pm
-
Yunan Shalimow on
Mon, 7th Jun 2010 04:15 pm
-
fadewatches on
Sat, 7th Aug 2010 07:51 am
-
replica watches on
Thu, 12th Aug 2010 10:14 am
Pak Jonru…setelah saya membaca perbedaan fiksi dan non fiksi saya jadi lebih mengerti…saya baca berulang2 pengertian itu..karena saya juga awam dengan hal2 begitu…Terima kasih…
Benar, Pak Jonru. Terima kasih artikel anda sangat menarik.
Jangan-jangan masih ada orang yang keliru membedakan pada aliran “JURNALISME SASTRAWI” sebagai karya fiksi karena cara penulisannya seperti karya sastra, bukan seperti karya jurnalisme yang menganut prinsip 5 W 1 H pada umumnya.
Namanya juga novel. Kita bebas bermain-main dengan imajinasi. Sebagai cerita fiksi, isi novel tentu tidak harus 100 persen faktual.
di situlah enaknya bermain fiksi, aman dari tuduhan pencemaran nama baik he..he…..apa yg mau digugat dari imaginasi, alasanku.
Memang menarik ketika membahas masalah tulisan fiksi atau nonfiksi ketika diterapkan menjadi sebuah novel.
Saya rasa sah-sah aja kalo ada orang yang ingin menulis sebuah novel yang setara dengan disertasi, soalnya kemampuan otak kiri dan otak kanan setiap penulis kan beda-beda.
Namun yang pasti, ketika tulisan itu disebut novel maka seberapapun sahihnya terhadap fakta-fakta, nilainya saya rasa tidak akan berbeda dengan novel lainnya. (novel = fictional narrative)
Buat rekannya bang Jonru, kalo memang punya resources yang memadai terhadap fakta, kenapa tidak dibuat tulisan nonfiksi saja
Makanya saya sering mampir keweb anda, banyak info yang menarik, sering share sama teman lainnya. Maju, sukses selalu. Thanks
oke..
free email account
mantappp.. mas jon, kirimin artikel tentang cara menulis dari awal dong. . hehehe. Piss..
Jawaban Jonru: Coba klik http://www.jonru.net/bagaimana-cara-menjadi-penulis
Subhanallah…. sy dpt ilmu baru terus nih dari bang Jonru, sy msh awam bgt dlm hal tulis-menulis, ga tahu jg apa beda fiksi ma nonfiksi, tp stlh membaca tulisan2 bang Jonru sdh mulai melek nih…. makasih yaaa
….mengenalmu seperti ku temukan kembali cahaya yg telah redup..
…mengenalmu seakan kutemukan kembali semangatku yg hilang
…bahasamu memberi motifasi sekuat baja
…bagiku yg sedang tersesat dlm lautan sastra….
…..alhamdu liliah……!!!!!!
salm hormat & hangat dariku…..(azam)
….mengenalmu seperti ku temukan kembali cahaya yg telah redup..
…mengenalmu seakan kutemukan kembali semangatku yg hilang
…bahasamu memberi motifasi sekuat baja
…bagiku yg sedang tersesat dlm lautan sastra….
…..alhamdu liliah……!!!!!!
salm hormat & hangat dariku…..(azam)
wah baru ngerti aku, makasih boz jonru…
makaci infonya bos
numpang baca
I am a fanatic watch collection, especially the well-known watches, you also can do, just click on my name!!!!!!!!
Dear friends,I am a fanatic watch collection, especially the well-known watches, you also can do, just click on my name!!!!!!!!
Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.
Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
-
Jonru's Fan Page
-
Twitter
-
Koprol, atau
-
Account Facebook Saya
Mau diskusi atau konsultasi seputar penulisan? Klik di sini










Blog ini sangat 









