Kiat Menulis Bebas: Kiat Paling Jitu agar Kita Selalu Lancar Menulis!
Writer’s block, mandeg menulis, blank, tak tahu harus menulis apa, banyak ide tapi bingung bagaimana cara menuangkannya menjadi tulisan, dan seterusnya? Itu semua adalah penyakit paling kronis dalam menulis. Atasi dengan cara menerapkan kiat berikut ini. Insya Allah, semua masalah seperti itu akan hilang. Anda akan bisa menulis secara lancar selancar-lancarnya!
* * *
Sejak sekitar tiga tahun lalu, saya mengenal istilah “kiat menulis bebas” dari Pak Hernowo, penulis yang terkenal dengan konsep Mengikat Makna. Tapi penemu konsep menulis bebas ini adalah Peter Elbow lewat bukunya Writing Without Teacher (sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia dengan judul sama dan diterbitkan oleh Indonesia Publishing atau iPublishing, tahun 2007). Tapi, “Saya menerapkan kita menulis bebas ini tidak dari Peter Elbow, melainkan dari Dr. James W. Pennebaker, seorang psikolog yang menulis buku Opening Up,” ujar Pak Hernowo ketika suatu hari saya mengkonfirmasikan konsep Kiat Menulis Bebas tersebut padanya.
Terlepas dari apapun, saya merasa bersyukur karena menemukan sebuah fakta yang sangat menarik, sebagaimana yang tertulis pada judul artikel ini. Bahkan saya kemudian menyebut kiat ini sebagai RAHASIA TERBESAR DI DUNIA PENULISAN. Saya pun memberi nama khusus untuknya, dengan tujuan agar mudah diingat: “Otak Kanan Dulu Baru Otak Kiri”.
Kiat Menulis Bebas = Kembali ke Fitrah Manusia
Saya yakin Anda semua sudah paham, bahwa otak manusia memiliki dua belahan, yakni otak kanan dan otak kiri.
- Otak kanan = menyukai spontanitas, penuh kebebasan, tanpa aturan.
- Otak kiri = sistematis, runut, penuh pertimbangan.
Secara naluriah, sebenarnya setiap manusia sudah “diprogram” oleh Tuhan untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri, DALAM HAL APAPUN. Sebagai contoh:
- Seorang perempuan jalan-jalan di sebuah mal. Dia melihat sebuah baju bagus yang dijual dengan diskon 50%. Maka PIKIRAN SPONTAN si perempuan ini akan berkata, “Wah, harus beli nih!”
- Seorang pemuda secara tak sengaja melihat perempuan seksi lewat di depan matanya. Maka secara spontan dia akan berkata di dalam hati, “Wah, cantiknya! Andai dia jadi milikku.”
- Seseorang yang disenggol oleh orang asing secara tak sengaja, maka secara spontan emosinya akan naik dan timbul NIAT SPONTAN untuk marah atau membalas tindakan tersebut.
Hal-hal seperti contoh di atas adalah REAKSI SPONTAN manusia ketika menghadapi situasi tertentu. Dan reaksi spontan ini adalah hasil pekerjaan OTAK KANAN.
Setelah reaksi spontan itu muncul, biasanya kita tidak langsung bertindak. Misalnya pada contoh nomor 1. Setelah si perempuan secara spontan berkata “harus beli”, maka dia kemudian berpikir. “Jadi beli enggak, ya?” Pikirannya pun penuh oleh berbagai macam pertimbangan. Hingga akhirnya dia MUNGKIN tak jadi beli.
Aktivitas “penuh pertimbangan, banyak mikir” dan seterusnya ini merupakan hasil kerja dari OTAK KIRI.
Secara hukum alam, kita para manusia ini memang terbiasa mengerjakan apapun dengan otak kanan dulu baru otak kiri. Spontan dulu baru mikir-mikir. Ini adalah hukum alam, sangat sesuai dengan fitrah manusia.
Masalahnya: Dalam menulis kita justru melawan hukum alam. Kita melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia!
Kita mulai menulis dengan berbagai macam pikiran dan pertimbangan:
- Tulisan ini nanti jadinya bagus tidak ya?
- Bagaimana kalau hasilnya jelek?
- Bagaimana kalau nanti tulisan ini diejek oleh orang lain?
- Bagaimana kalau tulisan ini tidak sesuai dengan tata bahasa dan ejaan yang berlaku?
- Kalau tulisan ini saya kirim ke Kompas, dimuat enggak ya?
- Saya ingin membuat tulisan sebagus tulisan Andrea Hirata. Tapi bagaimana kalau tulisan saya nantinya tidak bagus, jauh dari kualitas Andrea Hirata?
- Dan seterusnya!
Dengan kata lain, belum apa-apa kita sudah pakai otak kiri! Padahal, hukum alam justru mengajarkan kita untuk menggunakan otak kanan dulu baru otak kiri. Ini berlaku dalam hal apapun, termasuk dalam MENULIS.
Maka, ketika saya belakangan ini rajin memasyarakatkan KIAT MENULIS BEBAS kepada teman-teman penulis, itu didorong oleh keinginan saya agar para penulis kita kembali ke fitrahnya, kembali ke hukum alam dalam hal menulis.
Memang, kecenderungan kita untuk MELAWAN HUKUM ALAM ketika menulis sedikit banyaknya dipengaruhi oleh sistem pendidikan kita di sekolah. Sejak kecil, kita diajarkan oleh Guru Bahasa Indonesia bahwa menulis harus pakai kerangka karangan, harus mematuhi EYD, harus taat pada tata bahasa, dan seterusnya dan seterusnya. Ajaran seperti ini membuat kita berpikir bahwa menulis itu rumit, membingungkan, dan sulit untuk dipraktekkan.
Padahal sebenarnya, menulis itu sangat gampang! (seperti kata Arswendo Atmowiloto pada bukunya “Mengarang Itu Gampang!”). Bagaimana caranya agar gampang? Ya tentu saja dengan KEMBALI KE HUKUM ALAM. Kikislah habis “aliran sesat” yang diajarkan oleh guru kita di sekolah dulu. Mulai sekarang, menulislah dengan otak kanan dulu baru otak kiri.
Bagaimanakah Cara Menulis Bebas Tersebut?
Caranya sangat gampang. Ya, DEMI TUHAN INI SANGAT GAMPANG!
Tahap ke-1: Otak Kanan:
Mulailah menulis secara spontan. Apapun yang muncul di pikiran Anda, langsung ditulis saja. Bahkan ketika Anda bingung harus menulis apa, coba tulis saja:
“Saya bingung nih, mau nulis apa. Apa yang harus saya tulis, ya? Kenapa ide sama sekali tidak muncul? Padahal kemarin saya ada ide, lho. Kenapa sekarang idenya hilang tak berbekas? Kenapa? Kenapa saya jadi blank begini?…..”
Apa susahnya menulis seperti itu?
Tentu saja Anda tidak harus menulis persis seperti kalimat-kalimat yang saya tulis. Itu hanya contoh untuk menjelaskan bahwa menulis bebas itu SANGAT MUDAH. Oke?
Ketika menulis bebas tersebut, HILANGKAN SEMUA BEBAN PIKIRAN ANDA.
Ya, SEMUANYA. Jadi apapun itu yang menghantui Anda ketika menulis, yang membuat tangan Anda berhenti menulis, yang membuat Anda bengong dan kembali blank atau bingung harus menulis apa lagi, LUPAKAN ITU SEMUA. BUANG JAUH-JAUH.
Yang tak kalah penting: Jangan diedit atau direvisi sebelum selesai.
Walau tulisan Anda kacau balau, kalimatnya ngelantur ke sana ke mari, banyak salah ketik, atau Anda merasa tulisan tersebut sangat jelek, membosankan dan tak ada bagus-bagusnya, bahkan bila banyak kalimat yang berisi kata-kata vulgar, berbau SARA, membuka aib, dan seterusnya, BIARKAN SAJA. Jangan diedit atau direvisi dulu. Lanjutkan saja proses menulis Anda hingga semua ide tertuang dalam bentuk tulisan.
Kenapa tidak boleh diedit? Sebab begitu Anda mulai mengedit, maka itu akan menjadi sumber kemandegan yang baru. Percayalah!
Tahap ke-2: Otak Kiri:
Setelah tahap ke-1 selesai, diamkan dulu naskah Anda sekitar satu atau dua hari. Atau kalau buru-buru, satu atau dua jam cukup deh. Lalu baca lagi tulisan tersebut. Kini, mulailah MEREVISI dengan otak kiri. Buatlah tulisan tersebut menjadi lebih bagus. Bila ada salah ketik, saatnya diperbaiki. Bila topiknya melebar ke mana-mana, saatnya difokuskan ke tujuan semula. Bila Anda merasa tulisannya kurang menarik, kini saatnya dibuat lebih menarik. Dan seterusnya dan seterusnya.
“Bagaimana cara merevisi? Apa saja yang harus saya edit?”
Oke, pertanyaan bagus!
Hal utama yang harus Anda sadari, “Saya ini penulis, bukan editor.”
Karena itu, Anda tidak harus bekerja seperti para editor di penerbitan buku, atau redaktur di media cetak. Tidak harus!
Kalau Anda mau belajar editing secara lebih mendalam, ya itu bagus. Saya juga sangat setuju dan akan mendukung Anda sepenuhnya! Tapi tanpa berbuat seperti itu pun, Anda sebagai PENULIS bisa mengedit atau merevisi tulisan Anda secara layak plus memadai.
Caranya:
Edit atau revisi saja tulisan tersebut semampu Anda. Tidak ada patokan bagian mana yang harus direvisi atau bagaimana cara mengeditnya dan seterusnya. Pokoknya edit dan revisi saja semampu Anda. Yang penting Anda merasa bahwa hasil editing atau revisi tersebut membuat tulisan Anda lebih bagus dari sebelumnya. Itu saja. Titik.
Hasil Otak Kanan = Draft (atau Ruang Privat)
Selama ini, hampir semua peserta pelatihan mengaku puas setelah mempraktekkan kiat menulis bebas yang saya ajarkan. Bahkan banyak di antara mereka yang mengaku sudah bertahun-tahun tak bisa menulis, kini bisa menulis dua – bahkan lebih – halaman secara lancar tanpa hambatan sama sekali.
Bahkan, banyak peserta yang awalnya bingung harus menulis apa, tapi – setelah mempraktekkan kiat menulis bebas – justru protes ketika saya berkata “waktu sudah habis, silahkan tulisannya dikumpulkan”. Mereka berkata bahwa tulisan mereka belum jadi, masih banyak ide yang belum sempat dituliskan.
Alhamdulillah, ini menjadi bukti bahwa kiat menulis bebas memang benar-benar jitu!
Tapi tentu saja, ada juga peserta pelatihan yang protes, masih bingung, bahkan marah dan mengkritik saya. Sebagai contoh, TIGA ORANG peserta Pelatihan Penulisan di Cipanas Bogor tanggal 11 Juni 2009 lalu (yang diadakan oleh Serikat Penerbit Suratkabar Pusat) berkata dengan penuh emosi:
“Pak Jonru. Kami ini staf Public Relation dari berbagai perusahaan dan instansi di Indonesia. Kami datang ke sini untuk mengetahui kiat apa yang paling jitu agar kami bisa membuat tulisan yang membangun citra positif bagi perusahaan kami. Kalau kami menerapkan kiat menulis bebas seperti yang Pak Jonru ajarkan, bukankah itu justru berbahaya? Kami menulis sebebas-bebasnya, tidak peduli apakah di dalam tulisan tersebut ada rahasia yang tidak seharusnya diketahui oleh publik, bahkan dengan tulisan bebas itu citra perusahaan kami jadi hancur berantakan. Bagaimana dong?!”
Terus terang, ini adalah pengalaman paling seru yang saya alami dalam mengajarkan kiat menulis bebas. Terlebih ketika dua hari kemudian saya mengisi pelatihan di Unibraw Malang dengan membawakan tema yang sama, salah seorang peserta – mahasiswa – pun mengajukan protes yang sama. Dia berkata:
“Saya sering disuruh dosen untuk menulis dengan kriteria dan aturan tertentu. Kalau saya menerapkan kiat menulis bebas, bagaimana dong? Saya tentu tidak bisa membuat tulisan yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan oleh dosen!”
Saya kira, protes seperti ini dapat dimaklumi, karena para peserta tersebut masih salah persepsi – atau lebih tepatnya belum mengerti – tentang konsep KIAT MENULIS BEBAS.
Kiat menulis bebas adalah OTAK KANAN DULU BARU OTAK KIRI.
Dengan kata lain (seperti yang Anda bisa lihat juga pada penjelasan di atas), kiat menulis bebas dilakukan dalam DUA TAHAP.
Tahap pertama adalah TAHAP OTAK KANAN.
Pada tahap otak kanan ini, tulisan yang dihasilkan adalah DRAFT. Atau meminjam istilah Hernowo, tulisan hasil otak kanan adalah untuk konsumsi ruang privat. Atau bahasa gamblangnya, “Ini adalah tulisan untuk diri Anda sendiri. Bila misalnya Anda hendak mengirim tulisan ke Kompas, bukan draft atau hasil otak kanan tersebut yang Anda kirim.”
Tahap kedua adalah TAHAP OTAK KIRI.
Pada tahap inilah, Anda merevisi atau mengedit draft tersebut. Setelah jadi, setelah tulisannya menjadi bagus dan sesuai harapan Anda, barulah tulisan tersebut diarahkan ke tujuan semula. Bila sejak awal tulisan itu hendak Anda kirim ke Kompas, maka kini saatnya Anda mewujudkan rencana tersebut.
Meminjam istilah Pak Hernowo, hasil tulisan dengan otak kiri adalah untuk ruang publik. Maksudnya, ini adalah hasil tulisan yang akan Anda PUBLIKASIKAN.
Sekadar Info:
Tulisan-tulisan yang Anda baca di koran, majalah, tabloid, buku, bulletin, jurnal, dan seterusnya, semua itu BUKANLAH tulisan yang sekali tulis langsung jadi. Semua tulisan itu pastilah hasil dari draft 1, lalu direvisi menjadi draft 2, draft 3, draft 4, dan seterusnya. Ketika ada tulisan yang dimuat di sebuah koran, bisa saja itu adalah tulisan yang telah melewati sepuluh atau dua puluh editing atau revisi.
Karena itu, bila Anda hendak membuat tulisan yang SEKALI TULIS LANGSUNG SEBAGUS TULISAN YANG DIMUAT DI KORAN ATAU MAJALAH, maka ini adalah pemikiran yang keliru.
Jadi, sebenarnya tidak masalah bila di TAHAP AWAL tulisan Anda masih jelek, masih berantakan, masih kacau balau. Sebab setelah draft awal selesai, Insya Allah Anda masih punya kesempatan untuk merevisinya agar menjadi bagus dan sesuai harapan Anda.
Kiat Menulis Bebas = Cocok untuk Jenis Tulisan APAPUN
Ya, tulisan jenis apapun yang Anda tulis, semuanya cocok untuk ditulis dengan kiat menulis bebas. Cerpen, artikel, opini, memoar, karangan ilmiah, skripsi, esai, resensi, puisi, novel, skenario sinetron, berita, dan seterusnya. Pokoknya tulisan apapun itu, SEMUA COCOK!
Jadi jangan berpikir bahwa kiat menulis bebas hanya cocok untuk tulisan tertentu. SEMUA COCOK deh pokoknya! Kalau tidak percaya, coba simak subjudul berikut ini.
Kiat Menulis Bebas = Kiat SEJUTA UMAT dalam Menulis
Di atas saya sudah menyebutkan:
“….apapun itu yang bisa menghantui Anda ketika menulis, yang membuat tangan Anda berhenti menulis, yang membuat Anda bengong dan kembali blank atau bingung harus menulis apa lagi, LUPAKAN ITU SEMUA. BUANG JAUH-JAUH.”
Ya, APAPUN itu.
Tapi walau saya sudah menulis APAPUN dengan HURUF KAPITAL untuk menegaskannya, ternyata masih banyak juga teman yang belum memahaminya. Buktinya, mereka masih juga bertanya-tanya, mengajukan kasus yang mereka hadapi. Mereka mengaku masih tetap mandeg, bingung harus menulis apa, dan seterusnya.
Sebenarnya, bila Anda sudah sangat memahami makna dari kata APAPUN, percayalah bahwa masalah mandeg atau bingung atau blank dalam menulis tak akan pernah lagi Anda hadapi. Sebab seperti yang sudah diulang di atas, masalah APAPUN yang membuat Anda mandeg dalam menulis, maka kiat paling jitu untuk mengatasinya adalah KIAT MENULIS BEBAS.
Itulah sebabnya kenapa saya menyebut kiat ini sebagai KIAT SEJUTA UMAT DALAM MENULIS.
Untuk lebih jelasnya, saya akan sebutkan beberapa contoh saja (ingat, INI HANYA BEBERAPA CONTOH, sebagai gambaran belaka. Saya yakin, setelah membaca contoh-contoh ini, Anda akan bisa menerapkannya untuk hal-hal lain yang juga membuat Anda mandeg dalam menulis, atau setidaknya memperlambat proses penulisan Anda).
Contoh 1: Kerangka Karangan:
Anda menulis dengan didahului oleh pembuatan kerangka karangan atau outline, atau apalah itu namanya. Maka tulislah naskah Anda dengan cara seperti yang saya jelaskan di sini:
(1) Dengan asumsi bahwa Anda memang butuh kerangka karangan, awali proses penulisan Anda dengan membuat kerangka karangan. Bagaimana format dan caranya? Di atas sudah dijelaskan. Oke?
(2) Setelah itu, mulailah menulis. Menulislah secara bebas, spontan, sesuka Anda. Hilangkan semua beban dari pikiran Anda. Lupakan dulu semua teori, kiat menulis, dan seterusnya. Pokoknya menulislah sesuka-suka Anda.
….
Termasuk kerangka karangan yang telah Anda buat tadi, silahkan lupakan dulu. Jangan diingat-ingat. Jangan sampai Anda dibayang-bayangi oleh makhluk yang bernama kerangka karangan tersebut. LUPAKAN DIA UNTUK SEMENTARA. Oke?
(3) Setelah semua ide berhasil dituangkan ke dalam tulisan, barulah kerangka karangan tadi dilirik lagi. Silahkan sekarang Anda mencocokkannya dengan tulisan yang telah dibuat.
Cara mencocokkannya lebih kurang sama seperti ibu-ibu yang mencocokkan check list daftar belanjaan dengan barang-barang yang telah dia beli di mall. Ingat contoh tentang ibu-ibu di atas. Begitulah caranya.
Contoh 2: Jumlah Halaman:
Katakanlah Anda hendak mengirim naskah cerpen ke Koran A. Lalu oleh Koran A, dibuat aturan bahwa naskah opini hendaknya sepanjang 6 sampai 8 halaman kuarto, ketik 1,5 spasi, dan seterusnya.
Maka ketika menulis, awalilah dengan spontan atau menulis bebas. Lupakan dulu aturan dari Koran A tersebut. Tuliskah sepanjang-panjangnya, tidak peduli berapa halaman pun itu. Setelah selesai, baru deh masuk ke tahap otak kiri. Sekaranglah saatnya Anda mengingat lagi aturan dari Koran A tersebut. Revisilah naskah Anda sehingga dia menjadi sekitar 6 atau 8 halaman kuarto, ketik 1,5 spasi.
Contoh 3: Kualitas Tulisan
Anda ingin membuat tulisan yang benar-benar bagus, menarik, dan menggugah perasaan para pembaca. Anda tidak ingin membuat tulisan yang standar bahkan jelek. Maka ketika menulis, Anda dihantui oleh keinginan seperti ini. Anda selalu berpikir, “Hasilnya nanti bagus enggak, ya?”
Karena dihantui seperti itu, Anda jadi mandeg. Maka kembalilah ke kiat menulis bebas. Mulailah menulis secara spontan. Lupakan saja dulu keinginan Anda tersebut. Walau Anda merasa hasil menulis spontan itu sangat jelek, tak ada bagus-bagusnya dan seterusnya, biarkan saja. Terus saja menulis. Setelah selesai, baru deh masuk ke tahap otak kiri. Saatnya Anda merevisi tulisan tersebut sehingga menjadi lebih bagus, menarik dan menggugah para pembaca.
Contoh 4: Kaidah-kadiah pada tulisan ilmiah
Tulisan ilmiah penuh oleh kaidah-kaidah yang membatasi kita dalam menulis. Bila kita langsung memikirkan dan memperhatikan kaidah-kaidah tersebut ketika menulis, maka dapat dipastikan bahwa masalah mandeg akan muncul. Karena itu, coba terapkan kiat menulis bebas. Menulislan secara spontan, lupakan dulu kaidah-kaidah tersebut. Setelah selesai, baru deh masuk ke tahap otak kiri. Saatnya Anda merevisi tulisan dengan cara menerapkan kaidah-kaidah yang berlaku pada penulisan karya ilmiah.
Contoh 5: Referensi Data
Pada jenis tulisan tertentu (misalnya esai atau karangan ilmiah), referensi data pendukung sangat penting. Nah, banyak penulis yang mandeg karena mereka mencari data sambil menulis. Ini cara yang salah! Saran saya, terapkan saja kiat menulis bebas. Mulailah menulis secara spontan. Lupakan dulu semua data pendukung yang Anda butuhkan. Katakanlah Anda hendak menulis data tertentu tapi lupa-lupa ingat (seperti judul lagu Kuburan). Maka tulis saja seperti contoh berikut:
“Berdasarkan data penelitian lembaga …. tahun ….., jumlah penduduk miskin di Jakarta pada tahun 2006 adalah sebanyak …. orang. Bahkan Bapak …., seorang pakar Ekonomi moneter berpendapat bahwa…… (dikutip dari Majalah Tempo edisi …….).”
Tidak masalah bila masih titik-titik seperti itu. Toh itu baru draft. Setalah tahap otak kanan selesai, atau setelah semua ide tertuang di dalam tulisan, maka selanjutnya Anda masuk ke tahap otak kiri. Pada saat itulah Anda bebas mencari data, melengkapi titik-titik tersebut dengan data yang relevan.
Contoh 6: Dikejar Deadline
Anda mungkin diperintahkan oleh Bos untuk membuat tulisan dan harus jadi dalam waktu satu jam dari sekarang. Maka, Anda pun menulis sambil dihantui oleh deadline. Anda selalu khawatir, “sudah satu jam belum ya?”
Saran saya, cobalah menulis secara spontan saja. Lupakan saja deadline dari bos tersebut. Kosongkan pikiran Anda dari rasa khawatir. Menulislah seolah-olah deadline tidak ada. Tapi tentu saja, Anda harus berpikir bahwa tulisan ini harus selesai SESEGERA MUNGKIN. Dengan cara ini, insya Allah Anda akan bisa lebih lancar dalam menulis. Dan kemungkinan besar Anda bisa menyelesaikan tulisan tersebut sebelum deadline tiba.
Contoh 7: Beban Psikologis
Ketika baru mulai menulis, Anda langsung berpikir, “Nanti tulisannya bagus enggak, ya? Bagaimana kalau diejek orang? Bagaimana kalau ditolak oleh majalah? Bagaimana kalau setelah saya muat di blog, tak ada orang yang mengomentari tulisan ini? Bagaimana kalau… bla… bla… bla….”
Bila pikiran-pikiran seperti itu menghantui Anda, sadarilah itu hanya PERASAAN ANDA. Anda membayangkan hal-hal yang sebenarnya BELUM TERJADI. Tentu sangat konyol bila kita terlalu memikirkan hal-hal yang belum terjadi, padahal itu BELUM TENTU terjadi!
Maka saran saya, langsung saja menulis, lupakan semua beban psikologis yang menghantui pikiran Anda tersebut. Menulislah secara spontan. Gunakan dulu otak kanan Anda. Setelah selesai dalam bentuk draft, saatnya Anda boleh memikirkan lagi semua beban psikologis tersebut. Bila misalnya Anda khawatir tulisan tersebut akan diejek orang, maka revisilah naskah itu sebagus mungkin. Kalau sudah bagus, tentu KEMUNGKINAN untuk diejek oleh orang lain menjadi lebih kecil.
Contoh 8: Tata Bahasa, EYD, Kiat & Teori Penulisan
Banyak mahasiswa dan lulusan Fakultas Sastra yang tidak berani menulis, karena mereka dihantui oleh teori-teori yang mereka dapatkan di bangku kuliah. “Nanti kalau tulisan saya tidak sesuai teori ANU, gimana dong?”
Walau bukan dari Fakultas Sastra, saya yakin Anda pun mungkin pernah berpikir seperti itu. Ketika menulis, pikiran Anda penuh oleh teori penulisan, kiat penulisan, tata bahasa, dan seterusnya. Dan ini tentu membuat Anda mandeg menulis.
Saran saya, LUPAKAN DULU SEMUA ITU! Mulailah menulis dengan spontan, semau-mau Anda. Gunakan dulu otak kanan Anda. Semua teori dan kiat serta aturan penulisan itu, SILAHKAN LUPAKAN DULU.
Setelah selesai dalam bentuk draft, baru deh semua teori, kiat dan aturan tersebut diingat-ingat lagi. Sekarang saatnya pakai otak kiri. Revisilah tulisan Anda agar sesuai dengan teori, aturan dan kiat yang sudah Anda pelajari tersebut.
Satu hal yang perlu Anda ketahui:
Teori, kiat dan aturan dalam menulis bisa dipelajari sambil jalan. Anda tidak harus menguasai semuanya sebelum mulai menulis. Justru dari praktek menulislah, Anda akan menjadi makin mahir, makin ahli, dan makin mudah dalam memahami teori, kiat dan aturan penulisan yang ada.
“Anda tidak harus menjadi ahli untuk memulai, tapi Anda harus memulai untuk menjadi Ahli,” demikian bunyi sebuah kata bijak
* * *
Oke, delapan contoh sudah cukup ya?
Saya yakin Anda bisa mencari contoh-contoh lain. Intinya: APAPUN masalah yang menyebabkan Anda mandeg dalam menulis, maka atasi dengan kiat menulis bebas.
Dan inilah sebabnya kenapa pada subjudul sebelumnya saya mengatakan bahwa kiat menulis bebas cocok untuk jenis tulisan apapun!
Kiat Menulis Bebas = Alat Bantu Belaka
Bila Anda baru belajar menulis, dan menerapkan kiat menulis bebas pun terasa masih sangat sulit, maka Anda bisa dianalogikan seperti seorang anak SD atau TK yang baru belajar membaca.
Pada kondisi seperti ini, “kiat menulis bebas” bisa disebut sebagai ALAT BANTU yang ditujukan bagi Anda yang masih sangat pemula dalam menulis. Dengan alat bantu ini maka orang yang paling pemula pun diharapkan bisa menulis secara lancar selancar-lancarnya, tanpa mandeg atau mentok sama sekali.
Tapi Anda juga tentu paham bahwa keahlian apapun akan bisa diasah melalui PRAKTEK. Semakin sering menulis, maka Insya Allah keterampilan Anda dalam menulis pun makin terasah. Sama seperti seseorang yang belajar menyetir mobil. Awalnya terasa sulit, sering nabrak, dan seterusnya. Tapi semakin sering menyetir, dia makin mahir mengenderai mobil.
Maka, keahlian menulis yang Anda miliki akan makin terasah, Anda akan makin terampil atau mahir menulis, bila Anda semakin sering praktek menulis.
Dan bila Anda sudah sampai pada tahap MAHIR atau AHLI, mungkin KIAT MENULIS BEBAS tidak terlalu relevan lagi bagi Anda. Anda mungkin bisa menulis dengan lancar walau sambil sesekali mengedit tulisan yang baru saja Anda ketik, misalnya. Terus terang, saya pun sering seperti itu
Tapi selama “pelanggaran” yang Anda lakukan terhadap kiat menulis bebas ini tidak membuat Anda mandeg menulis, atau justru membuat Anda makin lancar menulis, maka silahkan lanjutkan “pelanggaran” tersebut.
Kenapa? Sebab kita tibak boleh memperlakukan kiat menulis bebas ini sebagai sebuah kitab suci yang tak terbantahkan. DIA HANYALAH ALAT BANTU. Sebagai alat bantu, kita hanya membutuhkannya bila dia memang benar-benar bisa membantu pekerjaan kita. Bila dia justru mempersulit pekerjaan kita, lantas buat apa dipakai?
Dan dalam menerapkannya pun, fleksibel sajalah. Jangan terlalu kaku. Seperti yang saya jelaskan di atas: Tidak mematuhi kiat ini secara seratus persen bukanlah masalah. Yang penting Anda tetap dapat lancar dan nyaman dalam menulis.
Info selengkapnya tentang cara memperlakukan alat bantu dalam menulis, silahkan klik di sini.
Kiat Menulis Bebas = Untuk Dipraktekkan, Bukan untuk Dibaca atau Dihafal Belaka
Banyak teman penulis yang mengaku sudah paham tentang kiat menulis bebas yang saya ajarkan. Tapi begitu mulai menulis, mereka masih mandeg, masih dihinggapi penyakit writer’s block, masih bingung harus menulis apa.
Saya katakan pada mereka, “Bila Anda memang sudah benar-benar memahami apa itu kiat menulis bebas, saya yakin Anda tidak akan bingung lagi, tak akan mandeg lagi. Saya yakin Anda pasti bisa menulis dengan sangat lancar.”
Mereka manggut-manggut, tapi tetap mengeluh dan berkata bahwa mereka masing bingung, masih belum tahu harus menulis apa, dan seterusnya.
Saya hanya tersenyum geli. Untuk menghadapi orang seperti ini, kiat paling jitu adalah LANGSUNG MENYURUH MEREKA MENULIS.
“Silahkan langsung dipraktekkan. Kiat menulis bebas itu bukan untuk sekadar dibaca atau dihafal.. Sebab Anda baru bisa merasakan dampak dan kedahsyatannya bila kamu mencobanya langsung. Oke?”
Setelah saya “paksa” (karena awalnya mereka terlihat ogah-ogahan), barulah si penulis bingung tersebut mulai menulis. Awalnya mereka berkata masih tetap bingung. Tak tahu harus menulis apa. “Pikiran saya blank,” ujarnya.
“Kalau pikiran Anda blank, cobalah menulis tentang blank. Tulis saja ‘saya lagi blank, tak tahu harus menulis apa, bingung harus ngapain. sudah disuruh menulis oleh Jonru tapi saya kok tetap blank juga ya?????’ Saya tidak percaya kalau Anda katakan tidak bisa. Yang penting, YAKINKAN DIRI, ‘Saya Bisa Menulis!’ Dengan keyakinan seperti itu, Insya Allah Anda akan bisa menulis dengan lancar. Oke?”
Alhamdulillah, teman penulis tersebut akhirnya berhasil menulis. Hanya satu paragraf. Tapi dengan satu paragraf itu dia akhirnya percaya dan bisa merasakan sendiri, bahwa kiat menulis bebas itu memang sangat jitu!
Jadi bagi Anda yang masih bingung juga setelah membaca tulisan ini, AYO LANSGUNG DIPRAKTEKKAN SAJA. Silahkan LANGSUNG MENULIS!
Oke?
Selamat Menulis dan Salam Sukses!
Jonru
Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat
http://www.SekolahMenulisOnline.com
Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
Panduan Langkah-langkah Penulisan & Penerbitan Buku untuk Pemula
Silahkan pesan di http://www.MenerbitkanBukuItuGampang.com
Comments
104 Comments on Kiat Menulis Bebas: Kiat Paling Jitu agar Kita Selalu Lancar Menulis!
-
ekobs on
Fri, 19th Jun 2009 09:46 am
-
Wahyu Liz ada ide aja on
Fri, 19th Jun 2009 09:48 am
-
okti Li on
Fri, 19th Jun 2009 10:05 am
-
Evi Indrawanto on
Fri, 19th Jun 2009 10:31 am
-
Maitink on
Fri, 19th Jun 2009 10:58 am
-
epa on
Fri, 19th Jun 2009 11:18 am
-
Yuris Dewandaru on
Fri, 19th Jun 2009 11:51 am
-
emmy on
Fri, 19th Jun 2009 11:57 am
-
Jonru on
Fri, 19th Jun 2009 01:21 pm
-
vistamulia on
Fri, 19th Jun 2009 01:27 pm
-
[Kiat Menulis] Tentang Kerangka Karangan dan Aliran Sesat | Jonru on the Web on
Fri, 19th Jun 2009 01:45 pm
-
el sadra on
Fri, 19th Jun 2009 02:30 pm
-
Hangga Nuarta on
Fri, 19th Jun 2009 02:38 pm
-
Gustri Yeni on
Fri, 19th Jun 2009 04:21 pm
-
Luthfie on
Fri, 19th Jun 2009 04:22 pm
-
nulani on
Fri, 19th Jun 2009 04:43 pm
-
Jonru on
Fri, 19th Jun 2009 04:52 pm
-
fakhrul on
Fri, 19th Jun 2009 05:00 pm
-
Billy Koesoemadinata on
Fri, 19th Jun 2009 05:14 pm
-
itapage on
Fri, 19th Jun 2009 05:51 pm
-
bowo on
Fri, 19th Jun 2009 06:35 pm
-
koko nata on
Fri, 19th Jun 2009 06:40 pm
-
fatimah on
Fri, 19th Jun 2009 07:29 pm
-
siswanto on
Fri, 19th Jun 2009 07:48 pm
-
Mona on
Fri, 19th Jun 2009 07:54 pm
-
budi on
Fri, 19th Jun 2009 07:55 pm
-
indah ip on
Fri, 19th Jun 2009 08:02 pm
-
rizan on
Fri, 19th Jun 2009 08:16 pm
-
sari on
Fri, 19th Jun 2009 08:34 pm
-
piyu puji andayani on
Fri, 19th Jun 2009 08:40 pm
-
haerulsohib on
Fri, 19th Jun 2009 09:42 pm
-
Lily Multatuliana on
Fri, 19th Jun 2009 10:35 pm
-
fakhrul on
Fri, 19th Jun 2009 10:42 pm
-
masteg on
Sat, 20th Jun 2009 12:15 am
-
erensdh on
Sat, 20th Jun 2009 03:56 am
-
Wasi Abd on
Sat, 20th Jun 2009 06:50 am
-
Ilman on
Sat, 20th Jun 2009 08:59 am
-
Ufik saladin on
Sat, 20th Jun 2009 10:14 am
-
Titik Setyowati on
Sat, 20th Jun 2009 10:40 am
-
ADhy on
Sat, 20th Jun 2009 10:49 am
-
heni prasetyorini on
Sat, 20th Jun 2009 11:08 am
-
yus safrudin on
Sat, 20th Jun 2009 11:08 am
-
quantumillahi on
Sat, 20th Jun 2009 03:25 pm
-
Yana Yan on
Sat, 20th Jun 2009 04:18 pm
-
Yana Yan on
Sat, 20th Jun 2009 04:20 pm
-
dewo on
Sat, 20th Jun 2009 05:57 pm
-
wahyu on
Sun, 21st Jun 2009 12:05 am
-
Sahman Sabirin on
Sun, 21st Jun 2009 04:48 am
-
fitri on
Sun, 21st Jun 2009 08:11 am
-
nathan on
Sun, 21st Jun 2009 10:20 am
-
sunarno on
Sun, 21st Jun 2009 10:43 am
-
nur on
Sun, 21st Jun 2009 11:28 am
-
zulmadi on
Sun, 21st Jun 2009 01:52 pm
-
febri on
Sun, 21st Jun 2009 07:46 pm
-
E. Utami on
Sun, 21st Jun 2009 08:00 pm
-
gita dewi on
Sun, 21st Jun 2009 08:31 pm
-
eshape on
Mon, 22nd Jun 2009 06:57 am
-
amin mustofa on
Mon, 22nd Jun 2009 08:37 am
-
Saunt on
Mon, 22nd Jun 2009 08:56 am
-
juwariyah sukiyadi on
Mon, 22nd Jun 2009 09:18 am
-
Mimi on
Mon, 22nd Jun 2009 09:57 am
-
ram mukidevic on
Mon, 22nd Jun 2009 10:31 am
-
meyria on
Mon, 22nd Jun 2009 03:39 pm
-
ayumas on
Mon, 22nd Jun 2009 04:14 pm
-
ntiena on
Mon, 22nd Jun 2009 10:46 pm
-
Agus Susanto on
Tue, 23rd Jun 2009 08:50 am
-
Aswar on
Tue, 23rd Jun 2009 12:51 pm
-
hary on
Tue, 23rd Jun 2009 01:47 pm
-
joko triyono on
Tue, 23rd Jun 2009 04:15 pm
-
mohammad hartono on
Wed, 24th Jun 2009 01:46 am
-
nube on
Wed, 24th Jun 2009 11:45 am
-
Ynozzz on
Wed, 24th Jun 2009 07:50 pm
-
marina on
Wed, 24th Jun 2009 10:45 pm
-
heritrisilo on
Thu, 25th Jun 2009 10:08 am
-
maritsa on
Thu, 25th Jun 2009 12:07 pm
-
dinu-chan on
Sat, 27th Jun 2009 09:41 am
-
Fifi Alfida on
Sun, 28th Jun 2009 08:34 pm
-
TRIMANTO on
Sat, 4th Jul 2009 09:13 pm
-
Kosmas Lawa Bagho on
Thu, 9th Jul 2009 07:38 am
-
4tune on
Sat, 18th Jul 2009 11:00 pm
-
dyan on
Sun, 19th Jul 2009 07:28 pm
-
windy on
Fri, 14th Aug 2009 11:31 am
-
Aya on
Wed, 26th Aug 2009 04:28 pm
-
RajaKerupuk on
Tue, 1st Sep 2009 10:24 am
-
endah budi astuti on
Fri, 11th Sep 2009 07:18 pm
-
bung bonafit on
Mon, 21st Sep 2009 09:20 am
-
IWANKA on
Mon, 21st Sep 2009 12:16 pm
-
nurman on
Sun, 27th Sep 2009 09:26 am
-
FF on
Fri, 9th Oct 2009 08:33 am
-
ghe on
Sat, 7th Nov 2009 08:17 am
-
yZLily on
Wed, 3rd Feb 2010 09:16 pm
-
nabil on
Sat, 6th Feb 2010 08:20 am
-
Jenifferhx on
Sun, 7th Feb 2010 09:34 pm
-
wandi on
Wed, 3rd Mar 2010 02:49 pm
-
sally on
Sat, 6th Mar 2010 10:22 pm
-
sally on
Sat, 6th Mar 2010 10:36 pm
-
budhi on
Fri, 19th Mar 2010 08:31 pm
-
rauff risharasakti on
Tue, 23rd Mar 2010 10:55 am
-
Bagaimana Cara Menjadi Penulis « Koleksi Artikel's Blog on
Fri, 23rd Apr 2010 04:42 pm
-
Rachmadi Triatmojo on
Wed, 7th Jul 2010 01:47 pm
-
ari yusuf on
Wed, 14th Jul 2010 03:16 pm
-
Triagung on
Fri, 20th Aug 2010 11:03 pm
-
selalu belajar on
Mon, 23rd Aug 2010 04:07 pm
-
Aretha Aprilia on
Mon, 30th Aug 2010 12:55 pm
Bang,
gimana ebook saya ini … apa sudah memenuhi ?
http://ekobs.multiply.com/journal/item/175/E-Book_Gratis_Facebook_Bango_dan_Linux_-_Build_1
ya, saya sepakat Pak Jonru..
kreativitas itu unlimited, cuma kadang ke-kiri-an kita yg memblokir diri sendiri
seyogyanya, Let It Flow ajaa
siip..!
wedew, klop bener dech bang Jonru ![]()
ilmunya perlu disebarluaskan nich, agar budaya baca seiring dengan budaya nulis hi..hi..hi..!
Make Indonesian better!
Gara-gara jarang update blog ( kalau update status fb mah rajin:)) jadi mampir ke sini Pak. Mental block untuk tidak menulis atau maunya menulis yg bagus tapi tidak merasa sanggup, memang tidak menyehatkan kalau dipelihara..Terima kasih ya. Mudah2an setelah ini saya menulis lagi di blog sendiri
Bujur melala atas masukan n pencerahannya pak…..
Smoga kita bisa SUKSES BERSAMA……
Thanks postingannya pak…sangat mencerahkan buat saya.
Terimakasih buat kiat2nya.. ini menjadi pemantik semangat saya untuk terus menulis, menulis dan menulis..
dear Jonru,
ketemu lagi. Saya kagum dengan aktifitasmu yang sangat fokus di dunia tulis menulis. Setelah menunda sekian tahun, dan hanya fokus di dunia tulis menulis artikel buat majalah buatan sendiri, serta event organizing, saya mulai berani mengumpulkan mimpi lagi untuk menulis fiksi, rencana menerbitkan antologi dan novel. Dengan berbagai peluang yang terbuka sekarang ini, rasanya sayang sekali kalau tidak dimaksimalkan ya.
Thanks untuk artikelnya yang sangat bagus. Mungkin kita bisa kerjasama untuk membuat acara-acara penulisan dengan skala yang lebih besar.
Thanks.
@Emmy: Terima kasih banyak atas tawarannya. Saya dan tim terbuka lebar2 untuk kerjasama. Info selengkapnya coba klik di sini ya
Thanks
Jonru
Mas Jonru,
Tulisannya bagus! I got inspired. Saya tidak akan menghafalkan, atau menyimpan tulisan ini. Tapi saya akan praktekkan. Semua seperti yang saya alami. Thanks. Tuhan memberkati Anda.
[...] (Artikel tentang kiat menulis bebas bisa dibaca di sini) [...]
Bagus sekali tipnya mas Jonru… langsung take action…!!!
Wah om… Panjang banget tulisannya…
But saya dapat satu hal yang menurut saya sangat berharga: Menulis dengan bebas, dengan senang, sesuai hukum alam.
Thanks om Jonru!
Pak Jonru
Trik yang bapak berikan sering dalam bentuk penulisan umum walaupun sebenarnya trik itu juga untuk semua jenis tulisan. Tapi bisa bapak kasih trik spesipikasi dalam bentuk tulisan ilmiah.
Makasih
Terima kasih Bang Jonru, saya sebenarnya memiliki kendala psikologis ketika membuat tulisan terkait pengalaman masa kecil. Tapi, dengan membaca kiat ini saya bertekad untuk menghancurkan kendala tersebut. Sekali lagi terima kasih.
Duh, pak Jonru, bisa lebih singkat lagi menulisnya ? Sepertinya menulis di media kertas beda dengan layar komputer ya ? Sepertinya kata-katanya harus ‘magnetis’ sehingga si pembaca tak mau berpaling ke layar televisi misalnya. Mungkin karena posisinya tak bisa bervariasi jadi malas berkonsentrasi, kecuali kalau ‘disihir’ oleh tulisan itu sendiri. Setuju ? Coba diteliti, bisa-bisa natni dibuat bukunya, sekaligus kursusnya. Menulis efektif untuk media e-book, mungkin begitu judulnya.
@Nulani:
Memang penjelasannya harus panjang
Kalau repot bacanya, coba di print dulu
Asyik jga trik bebas nii,kyakny hrus lngsung dpraktekan..mksih pak tas trik jtuny..
konsep nulis bebas ini juga yang dulu diajarin ke saya waktu saya pertama kali masuk kelas nulis sama mentor saya. dan, memang benar koq.. harus begitu karena kita jadi lebih bebas dan meledak2 ide yang akan ditulisnya..
terima kasih, artikel yg bagus & membuka pikiran saya. Boosting yg bagus!
wah bagus sekali tulisan nya pak..
mencerahkan..
Pembahasan yang ilmiah dan dapat dipercaya, Mas
dulu bisa dan pernah begitu enjoy merasa bisa menulis bebas. tapi sejak mulai kerja, ko mandeg ya?
tapi kiatmu ini jitu banget. siip dehh….
mas Johru…apakah proses menulis saya ini termasuk menulis bebas:
saya biasa membuat sebanyak mungkin pertanyaan atas suatu topik. atas jawaban ( data dan info ) yang terkumpul, saya beri penilaian/ suatu kesimpulan-kesimpulan yang mana kesimpulan-kesimpulan tersebut nantinya saya olah menjadi pikiran utama paragraf-paragraf tubuh. dan sebagai ide/ gagasan/ tesis tulisan saya adalah membuat satu kesimpulan dari kesimpulan-kesimpulan atas pertanyaan-pertanyaan tersebut. jadi, ide/ gagasan untuk menulis saya dapat setelah melakukan pembahasan.
salam,
meskipun secara formal saya tidak terdaftar sebagai murid mas Johru,tapi saya anggap anda salah satu guru saya. semoga mas Johru tidak bosan memotivasi…
Otak kiri selalu menuntut untuk sempurna, itu masalahnya. Otak kanan sedikit nakal, dia ngga mau dipaksa-paksa menjadi anaknya sikiri, mangkanya… jangan paksa-paksa si kanan, bikin ngga kreatif.
Thanks atas kiatnya.
makasih om atas tipsx…akan LANGSUNG saya praktekkkan.
Bravo om Jonru….
(tapi bravo itu artinya apa yaw?)
hehehehe:)
![]()
makasih sharingnya yang bermanfaat banget mengatasi ‘beku inspirasi’, bang Jonru.
jadi inget seorang teman yang piawai menulis puisi, saya bertanya2 gimana dia bisa seproduktif itu, apa nggak pernah kena writer’s block, jawabnya: ‘karena saya menulis, menulis dan menulis. nggak mikir apakah puisi itu bagus atau enggak, apakah orang suka membacanya atau enggak, apakah layak dipublikasikan apa enggak.jadi begitu ada ide, meski cuma satu kata, catat langsung, karena otak kita mudah lupa.’
ada satu lagi teman yang juga saya kagumi puisi2nya, pertanyaan yang sama saya sampaikan, jawabannya: ‘kalau lagi beku inspirasi, berhentilah sejenak dan lupakan. bebaskan diri. pergi ke suatu tempat, buka mata, buka hati buka telinga, buka wawasan. lakukan hal yang sama sekali gak nyangkut2 sama nulis, lakukan hal yang bikin hati hepi dan enjoy. setelah puas, kembalilah dan kalau merasa siap, baru mulai nulis lagi.’
makasih bnyak pak jonru..
artikel anda benar2 membuat saya semangat untuk menulis.
makasih banyak mas jonru,terus terang postingan diatas itu sama persis dg yang sedang dialami oleh saya.mandeg menulis,kosong ide dsb.Insyaallah mulai sekarang saya akan PD menulis dan akan menerapkan otak kanan dulu baru otak kiri.hemmm..kalo ngga ada mas jonru,sudah pasti saya jadi orang yang sangat pemalas nulis.
mas jonru,kunjungi ya blog saya,thanks.
bang Jonru, trim’s banget kiat2 menulisnya
jadi tambah semangat menulis apa pun itu yang penting menulis..menulis..dan menulis.
I will try my best, bang.
God bless you
Menulis adalah kebebasan, menulis juga bisa menjadi self terapi yang paling bagus, mengingat keadaan sekarang manusia paling mudah terkena stress, Menulis adalah salah satu jawabannya. saya kira demikian…
mo mulai nulis ah di mp heheheh….
kelamaan di fb nih…
ketemu temen melulu sapa sapaan…
tapi kan nulis juga ya…
nulis terus kok di komen satu paragraph…
..rme2 nulis yoo dngan sebebas bebsny dan trkendali,trmaksih pak ats trik2 jtuny, smga dpt membntu and memprlncar krya q..
Terima kasih banyak om Jonru, artikelnya sangat mencerahkan !
salam sukses selalu
Ini kiat yang luar biasa sederhana, namun sangat brilian! Salut buat mas Jonru, sangat cerdas dan telah mau berbagi bagi sesama anak bangsa!
Memang menulis itu mudah, terutama bagi orang yang sudah dapat menulis, namun banyak kendala jika penulis banyak harapan dari tulisannya itu.
Inti dari keberhasilan menulis sebenarnya adalah,manakala apa yang kita tulis sudah cukup dipahami oleh orang yang membacanya.Apa yang kita tulis sudah cukup menyuarakan apa yang kita maksud.
Namun jika maksud menulis sebagai komersialisasi memang sulit, karena tulisan, ide dan dan tujuannya harus dapat berkompetisi dengan tulisan orang lain, dan biasanya hanya ada 1 atau dua pemenang.
Jika menulis yang model ini,tentu tak cukup hanya mengandalkan spontanitas dan perasaan, keberanian dll, itu namanya nekat.
waaah… selamat bang.. artikelnya jitu sekali, mengena pada permasalahanku dalam menulis..
Pak, ini saya ufik terima kasih atas pelajaran yang berharga itu!
Pak Jonru..wah bagus2 tips2nya langsung dech…nulis…di catatan FB sy satu minggu dan bisa masukin 2 tulisan, biar jelek, biar di ejek biar isinya gak karuan yang penting nulis aja..hee..:) thks sukses buat Bpk dech..di tunggu tips2 selanjutnya..ya Pak
terima kasih ya buat pak junro atas saran dan bantuannya!!!!
klo boleh minta tolong liat hasil tulisan ku donk di rajawali-adhy3plexxx.blogspot.com isinya cuman beberapa puisi dan 2 cerpen! dan tolong dikomentari ya!!!!!
ya. menulis sambil mencari data, itu yang sering saya lakukan. dan itu malah semakin lama. teknik titik-titik itu solusi cerdas menurut saya. terima kasih inspirasinya mas Jonru.
pak jonru saya udah baca kiriman terakhir saya akan coba walau agak lemot, maklum udh tua, umurku 58 tahun tapi keinginan menulis, atau megarang atau mengaktualisasikan sesuatu di lingkungan atau kejadian sesuatu… kedalam suatu tulisan
Terima kasih Bang Jonru atas spiritnya dalam menulis, akan sy ikuti terus petunjuknya, karena sy termasuk type2 sulit menulis.
Wah,dpt pelajaran berharga lg nih dr Mas Jonru…thanx..
Hmm,,dpt pelajaran berharga lg nih dr mas Jonru.Thanks…
wow….itu yang pertama kali terlintas di pikiran saya setelah baca artikel ini. Two thumbs up kata orang-orang bule ya
. bermanfaat sekali artikel dari Bung Jonru. Identifikasi masalahnya tepat, analisanya yahud, resepnya manjur dan harganya murah banget (karena gratis artikelnya
). Seringkali kali writer’s block menghantui saya. Baru kali ini saya sadar bahwa untuk menulis pun kita harus sesuai hukum alam. Emang benar, kita hidup harus sesuai dengan hukum alam. Kalo tidak, Alam yang akan menghukum kita. Terbukti, sekali lagi menulispun harus sesuai hukum alam. Once again, “Two Thumbs up”.
trims Bang Jonru. HAri minggu besok saya akan mengikuti kunjungan BAng Jonru di Tegal. Saya tunggu untuk info jitu selanjutnya.
Thank Bos,
Semua kiat dari Bos sangat berguna bagi semua calon penulis bahkan penulis kondang pun masih memerlukan kiat itu untuk presentasi.
Terma kash banyak.
Makasih y bg ats inspirasinya…
saya punya sedikit masalah dengan menulis. dalam kondisi normal justru saya tidak bisa menulis. tapi ketika sedih, kecewa, banyak sekali tema yang melintas dan saya bisa menuliskan sebuah cerita yang menarik. what should i do?
terima kash Mr. Jonru
saya sangat suka dengan konsep ini, karena saya lebih sering menerapkannya dan tak peduli apapun yang terjadi, pokok nulis terus, urusan ada yang salah itu bisa kapan-kapan
aku g bs nulis tp keinginan untuk nulis ada sama enggak ya seperti nulis di buku diare, karna saya mau menceritakan pengalaman saya waktu kecil sebelumnya makasih ya pak jonru
Assalammualaikum WW !
Bapak Jhonru yang baik, dan bapak/ibuk/sdr/i pembaca yang budiman ! Berkaitan dengan penggunaan otak kanan dan otak kiri dalam menulis sebagaimana yang di sampaikan bapak jhonru di lembaran ini, maka penggunaan otak kanan menurut saya jauh lebih penting dari penggunaan otak kiri, sekalipun otak kanan itu belum atau kurang menarik. Tapi dengan penggunaan otak kanan itu, itu adalah kata dan kalimat yang sebenarnya kalimat dari-Nya tanpa ada unsur rekayasa, ditambah dengan ganguan ketakutan lainnya. Karena penulis menurut hemat saya adalah wakil-wakil Tuhan untuk menyampaikan sesuatu kepada umatnya. Maka apabila karya tulisan yang dihasilkan oleh otak kanan dipengaruhi dan telah dibumbui oleh otak kiri, maka itu maaf mungkin sudah dipengaruhi oleh syaitan-syaitan yang terkutuk. Singkatnya untuk menghasilkan karya yang baik, dalam arti kata dapat dipublikasikan dan sipenerima perintah untuk menyampaikan ayat-ayat dalam pembinaan manusia disekitarnya dengan jalan menerbitkan sebuah yang namanya tullisan itu, memang tetap dilakukan dalam dua tahap. tapi pergunakanlah otak kanan dan jangan menggunakan otak kiri yang cenderung memunculkan tulisan angkat telur alias ambil muka untuk mengorbitkan seseorang misalnya. Terima kasih dan salut selalu buat bapak jhon ru semoga Allah akan selalu membukakan hati bapak dalam menyampaikan ayat-ayat-Nya wassalam
zulmadi Padang Sumatera Barat
trims informasinya, jangan lupa untuk melihat tulisan saya di blog saya yaaa
Hallo Jonru,
Trims utk artikelnya. Sangat menarik dan inspiratif sekali. Saya sdh mulai praktekkan kok dikit-dikit ilmu-ilmu kepenulisan dari anda terutama…he..he…gara-gara ikutan kursus online gratis 9 minggu nih saya jadi lebih termotivasi. Saya udah mulai rasakan betapa heboh-nya akibat dari menulis bebas. Saya baru sadar lagipula ternyata otak kanan saya memang jauh-jauh lebih unggul daripada yg kiri…
Sukses selalu utk anda.
Assalamualaikum wr wb.
Saya telah mempraktekkan apa yang bang Jon tulis, memang benar sih, saya menulis bebas pada awalnya dengan kebebasan seratus persen, namun biasanya di awal saya sudah menentukan mau menulis topik apa. Misalnya tentang bahaya merokok. Nah dari situ saya sudah melakukan eksplorasi isi pikiran saya sebebas-bebasnya namun tetap dalam koridor tentang rokok dan saudara-saudaranya itu.
Jadi, ketika saya mau menulis tentang rokok, tetapi yang saya keluarkan misalnya tentang hujan lebat, pasti nya nyambung juga. Mungkin gara-gara hujan yang terus menerus turun, hawa jadi dingin, maka bagi sebagian perokok, itulah saat paling nikmat untuk menghisap nikotin. Ini sih cuma contoh menulis bebas.
Yup…. seratus persen betul buat teory menulis bebas. Ingin bukti, ya buktikan sendiri.
Terimakasih atas pencerahan nya Bang.
Ditunggu lagi rumus dan jurus menulis yang paling ampuh.
Wassalamu alaikum
Gita
Salam
Memang Bang Jonru ini hebat bener.
Saya akan merekomendasikan blog ini untuk teman-teman saya yang masih belum juga bergerak untuk menulis.
Setiap memulai pelajaran cara menulis di blog, saya juga selalu mempraktekkan perbedaan antara otak kanan dan otak kiri.
Di blog ini Bang Jonru menjelaskan dengan sangat detil, kalau saya sih menjelaskannya dengan penuh canda ria [namanya saja pelatihan sambil guyon atau guyon sambil pelatihan]
Makasih “sharing”nya bang.
Salam kompak selalu.
eshape
nb
ini cerita pak Dhe ketika ikut pelatihan blog
http://eshape.wordpress.com/2009/06/20/pak-dhe-belajar-blog/
thanks 4 u email for me Sir jon, god Bless u. i really need it for along time ago.
Terima kasih Pak Jonru, saya diingatkan lagi pada materi WS Cara Dahsyat menjadi penulis hebat yaitu menulis terus menulis jangan berhenti. memang kemarin lalu sempat mandek. ok mulai hari ini saya akan menulis lagi.
terimakasih banyak atas artikelnya, sedikit terbuka wawasan tentang menulis, untuk lebih bagusnya saya ingin sekali ketemu dengan Anda, kapan ya ? saya tunggu pelatihan menulisnya di Bogor, kota hujan./ OK.thanks
Thanks ya Pak Jonru,,,tipsnya ok banget sebagai katalisator tuk memulai dan menyempurnakan tulisan apapun,,
Thanks banget bang Jonru, semangat nulisku tumbuh lagi. Banyak anganku yang belum terwujud sejak SMP. Buaaanyaaaaak sekali…dan sekarang aku bersemangat nulis lagi. Kayaknya punya teman yang buanyak dan lagi bersemangat nulis semua. Kalau semua orang Indonesia gemar menulis pasti negara ini makin pinter dan disegani bangsa lain. Memang bener bang otak kanan harus dipupuk terus biar tetep nakal sedang otak kiri yang ngontrol kenakalan. Gemar menulis bikin bangsa makin kritis.
dari sekolah dasar saya sangat suka mengarang cerita, katakanlah sebuah novel. hobi ini berjalan sampai saya smu.banyak karya saya di rumah yang sudah 10 tahun tidak saya buka atau edit lagi. saya merasa cerita itu buruk dan tak mungkin bisa dipublikasikan.karena saya tidak tahu bagaimana cara mempublikasikannya. sekarang saya bekerja di perusahaan perkebunan karena gelar sarjana teknik sipil saya mengharuskan diaplikasikan di perusahaan tersebut. Waktu saya tersita untuk bekerja. Padahal cita2 saya dari kecil adalah sebagai penulis novel terkenal walaupun hanya punya 1 karya saja. Saya butuh motovasi…dan ingin bangkit ke dunia saya yang dulu.
dengan ajakan mas jonru, membuat saya akan menulis wla hanya diary pribadi ,siapa tahu hasil diaryku bisa menghasilkan tulisan yg bagus..wla kisah nyata bisa buat motivasi teman2 yang lain.
thanks atas motivasi menulisnya
praktek dapet satu paragraf, nulis lagi dapet satu paragraf. tapi kok jadi beda topik yach? gimana membuatnya supaya menyatu? pisahkan dan endapkan dulu, besok nyambung lagi? baru nyambung per topik?… tq yaaa.
saya mencoba untuk memulai menulis dengan memberikan komentar pada beberapa artikel dari bang jonru. dan benar saja, dengan saya menulis dengan mendahulukan menggunakan otak kanan, sayan merasa menulis dengan lancar tanpa beban. apa yang saya pikirkan langsung saya tuangkan dalam tulisan dalam komentar ini. terima kasih bang jonru. tapi masalah saya adalah saya kadang merasa malas untuk menulis. karena saya berfikir untu apa kita menulis. tidak ada gunanya? mohon nanti bang jonru membuat artikel tentang manfaat kita menulis. dan tolong juga kalau kita sudah punya banyak tullisan mau diapain?
(atau jangan 2 bang jonru sudah pernah membahasnya.heheheh ….maklum saya baru mengenal web ini?
Terima kasih Bang Jonru. Dapat ilmu menulis, jadi saya tidak perlu lagi ikut training dan sejenisnya. Saya kan sudah JAGO menulis.HEHEHE… Alhamdulillah, semua informasi itu langsung dipraktekkan saja. Pasti jadi tulisan. HEBAT. LUAR BIASA. FANTASTIK. Saya seorang PENULIS. Optimis supaya bisa nulis terus. Betul begitu kan, Bang?
Thanks Very much bang, sY jd t’motivasi uNtuk mLai mNulis, tipsnya sNgat b’guna, mMang bNar, untuk memulai sSuatu mSti sMua yang b’hBungan dGan keraguan dihilangkan, thanks dech……
untuk yang kesekian kalinya pak,…matur tengkyu banget..saya jadi lebih semangat untuk terus meulis dan menulis….makasih pak..
http://www.google.com
Trim bang jonru atas nasehatnya mengenai gaya bebas penulisan dari bang jonru .saya jadi senang dengan nasehat bang jonru karena gaya bebas penulisan membuat saya ada perhatian dari istri saya maklum istri saya senangnya gaya bebas.Menulis gaya bebas bagi saya adealah ekpresi jiwa saya dari sesudah kerja saya biasa membuat tulisan …kadang kadang kalau saya revisi atau saya kembali baca beberapa bulan sesudahnya sepertinya ada hubungannya dengan awal mula saya menulis kenapa tulisan saya tidak ada kemajuan gaya bahasa dari sebagian orang yang ahli menulis…Pertanyaan saya apakah mungkin seorang penulis bisa handal karya tulisannya hanya lulusan sd atau sma?
terima kasih atas tambahan pelajarannya Pak Guru Jonru, jasamu tiada tara…
kanan dulu baru kiri
kanan dulu baru kiri
kanan dulu baru kiri
hapal dah…..
dengan membaca tulisan pak jonru, saya seakan-akan menemukan teorinya dari praktek yang saya lakukan selama ini. Terus terang sejauh ini saya sudah melakukan apa yg pak jonru katakan yaitu menulis bebas dan tulisan saya memang lancar. Saya nulis ngalir saja, apa pun bisa jadi ide tulisan dan bahkan ketika menulis itulah bahan-bahan keluar begitu saja. Tapi saya akui tata bahasanya yang saya merasa kacau balau dan membuat saya tidak PD untuk dipublikasikan. Jadi mau ngedit juga, saya belum punya teori selanjutnya. Kayaknya tahap saya baru sampai sini deh.
Saya ucapkan terimaka kasih kepada Bank Jonru, mohon maaf sebelumnya, karena putus asa saya sempet tidak mengindahkan nasehat-basehat abank, tetapi begitu ada nasehat menulis bebas dan saya renungkan kembali, saya semangat lagi. Saya pingin bebas saya ingin “goooooooo freeeeedom”. Dan jangan bosan untuk menasehat dan memberi semangat kepada kami yang awam akan menulis dan dihantui perasaan takut salah
terimakasih pak jonru, saya termasuk orang yang suka berimajinasi alias menggunakan otak kanan jadi sangat mudah bagi saya untuk menulis “ngawur” tapi saat ini saya juga lagi mengasah otak kiri saya dengan terus mempelajari kiat yang pak jonru berikan, thanks…
Pak Jonru….. Terima kassiih……
![]()
tak mampu bermanis-manis kata nih, yg pasti it’s help me more…
Assalamu’alaikum Pak Jonru…
Wah, kok bisa pas bener nih. Baru tadi siang saya ke kondangan sodara. Duduk-duduk merhatiin para tamu (soalnya saya cuma ipar sepupu) dan mulai mengoreksi apa saja yang menjadikan acara ini tidak nyaman. Saya ingat di tas ada notebook dan pulpen. Awalnya cuma niat bikin poin-poin penting aja…eh tanpa terasa 2.5 halaman penuh dengan komentar negatif bahkan solusinya sekalian. Dan yang mengherankan saya adalah, saya menuliskan itu semua SPONTAN. Dan yang lebih aneh bagi saya adalah…saya merasa pulpen saya mengalirkan kata-kata sesukanya, serasa bukan dari keinginan saya. Dan kegiatan itu berhenti hanya karena waktu bukan karena mandeg idenya.
Nah, maka ketika malam ini saya buka posting Pak Jonru soal otak kanan dulu baru kiri…SUBHANALLAH,…saya telah merasakannya dulu baru tau teorinya.
Semoga ilmu Pak Jonru berkah. Amin.
Wah benar-benar luar biasa. Ini sangat bermanfaat bagi saya. Matur nuwun njih.
Salam dari wong Solo
(Ketua FLP Depok 2009-2011)
Terima kasih mas Jonru…
Tulisan ini sangat menggugah dan menginspirasi saya untuk segera ambil tindakan untuk menulis … sebab dengan terus menulis diharapkan bisa menjadi penulis biar tidak sehebat penulis besar paling kurang bisa mengobati diri sendiri. Mas sekali lagi terima kasih atas bantuannya via 9 minggu latihan menulis gratis and tulisan-tulisan lain yang selalu kirim ke email saya. Saya kumpulkan semuanya sejak awal semoga senantiasa memotivasi saya untuk terus menulis. Mas bisa kritik tulisan saya pada blog yang alamatnya saya cantumkan di alamat web. terima kasih banyak anak rantau dari Flores, Indonesia paling timur………..
Siip………Siip…..
Saya minta tolong dikirimi tips-tips menulis yang lain dong. Kalo bisa yang banyak yah…Soalnya ni saya baru pemula
Trimakasih
Assalamu’alkaikum
inilah yang saya butuhkan saat ini.Jazakillahu khairan
terima kasih banyak pak Jonru, dari sekarang saya akan coba menulis, tapi kadang tulisan saya berantakan.
Kiat menulis bebas itu harus sekali jalan selesai ato bisa dilanjutkan lagi nanti nanti?
Pak Jonru, terima kasih tips & triknya..saya baru sadar, ternyata semua permasalahan yg dibahas disini, ada semuanya pd diri saya..jadi malu neh…tpi setelah saya baca tips dr Pak Jonru, insya Allah saya akan mempraktekannya, gak perduli hasil tulisannya sperti apa..pokoknya nulis aja dulu
aduh hebat sekali bapak jonru ini. dan kebetulan sekali saat ini sekolah kami sedang mengunggulkan bidang penulisan, sayangnya kami minim SDM padahal peminatnya buanyak banget. jadinya kami buat berbagai aktifitas, misal ekskul jurnalistik, karya ilmiah, majalah sekolah dll.Trimakasih atas motivasinya
Alhamdulillah
tambah lagi deh wawasanku tentang tips penulisan pro !!
terimakasih banyak bung Jonru
ANDA SAYA UNDANG DATANG DI BLOG SAYA
sALAM SEHAT DAN TAMBAH TINGGI
BUNGBONAFIT
BAGI Ulama kita, kegiatan menulis (ta’lif) adalah hasil dari pembelajaran (pembacaan) yang sangat panjang dan melelahkan. Maka, karya-karya mereka terus menarik untuk dikaji dan dikaji. Membaca dan Menulis, adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. DR. Quraysy Shihab telah mencontohkan.Karya-karyanya seperti telaga.Oase di tengah gurun pasir.
Semoga kita bisa meneladani. Dan, Tips ini, adalah awal dari proses peneladaan itu. Insya Allah. Terima kasih,postingannya….
Ass. Trima kasih buat pencerahannya pak Jonru. Smoga amal baik bpk dilipatgandakan di dunia dan akhirat. Amin
THANKS pak Jonru.untuk penjelasannya.Saya sangat terbantu dgn penjelasan bapak.dan ada 1 pertanyaaan lagi,setelah otak kanan bekerja artinya setelah semua yg ingin kita tulis selesai,giliran otak kiri yg bekerja.untuk merevisi gmana ya,karna rencana tulisan saya akan diterbitkan.apa langkah selanjutnya yg hrs saya lakukan.karna ini adlaha kali pertama sy tidak ada pengalaman ini.Tolong berikan tips untuk kelanjutan setelah semua dikerjakan,untuk msk ke percetakan apa yg hrs dilakukan.
sekali lagi thanks pak untuk tips menulisnya.sbg info tulisan saya adalah tentang kisah nyata.
sukses untuk pak Jonru
terima kasih atas sarannya……dan ketika saya praktekkan sangat membantu……
Your knowledge reffering to this post supposes to be useful and people will plainly use it for the custom written essay or online term papers. I do think that will be a really good solution for students which do not really have time to buy a research paper. But for me, it’s more workable to utilize an assistance of the assignment writing service.
kok gak da contoh naskah tentang promosi sekolah seh, pak tolong bantuin donk dan kirimin ke email saya yEa.
A smashing knowledge just about this topic ! Someone can select essay writing service to buy an essay, as well students want to order custom essays.
keraguan saya semakin hilang laksana bang jonru mengatakan fungsi otak kiri yang selama ini tumplek ke otak kiri yang berakibat tidak bangkit karena penuh ragu-ragu. bang jonru hebat sungguh hebat karena telah membakar semangat saya untuk menulis
Hidup Jonru…!!! ini gw lagi pake gaya nulis bebas. bingung en mandeg dah jauh deh. mudah – mudahan c. hehhee. mudah – mudahan, setelah ngikutin ajaran Jonru, gw bisa nulisa sebagus Jonru. Amien…
Hidup Jonru..!!! . Ini gw lagi nulis bebas gaya Jonru. Jonru bikin gw semangat buat nulis. Banyak ide, banyak cerita, tapi kalo gak ditulis – tulis, percuma. menulis.. menulis.. gw suka banget nulis. Karena itu gw rela mengorbankan apapun demi menulis.
wah .. than mas gue jadi punya inspirasi nulis ….. memang sering kita ketakutan akan nulis
Sebenarnya saya mau nuntut pak Jonru, gara2 semangat motivasinya ditularkan kepada ku saya sampai g berhenti nulis, pengenya nuliiiiis aja. Hehehehe
[...] Selengkapnya, coba baca di sini. [...]
Bismillah..iya Bang …sebelum ini saya juga pake kiat ini …. Top Markotop !
wah….saya dapat menarik kesimpulan yang baik dari pengarahan ini…jadi semngat buat menulis….ternyata saya sadar kalau kelemahan saya banyak sekali dalam hal menulis…insya Allah saya akan lebih semangat menulis!! suskses pak jonru terima kasih banyak….
harus selalu diingat otak kanan dulu baru otak kiri….hmm…semangat menulis!! pasti bisa!!
wah dahsyat banget pak, ditengah perjalanan membaca tulisan ini saya langsung praktek, hasilnya sungguh luar biasa, ternyata saya mampu membuat sebuah tulisan dimana tidak ada jeda untuk berhenti, semuanya mengalir bebas saja, semau saya heheh…oya pak saya baru order neh, paket yang 2 (menjadi penulis hebat), thanks banget atas diskonnya dan ilmunya….
Salam pak Jonru,
saya sepakat sekali dengan perkataan bapak dan sekarang juga saya kembali sadar, bahwa pemikiran kita yang membuat kita bingung untuk memulai, saya kepingin sekali membuat tulisan bagus dan karena terpikir buat tulisan yang bagus akhirnya saya enggak jadi nulis heheheheh, maklum, ini baru membuka otak saya untuk mulai membebaskan pikiran dari hal-hal baku terlebih dahulu untuk mendapat yang bagus…mungkin ini kata-kata saya yang tidak pakai editan, dan semoga bisa terus belajar dengan pak Jonru. Oya…Trimakasih Pak…(^_^)
Saya setuju sekali dengan solusinya untuk mengatasi ‘writers block’. Sebagai penulis dan peneliti, saya sering sekali mengalami hal tersebut dan terkadang merasa ‘sayang’ kalau sudah mengetik banyak halaman, tetapi harus di-delete sana sini. Tapi itulah part of the process yang harus dilewati. Btw, saya juga sudah baca buku MBIG sebelum menerbitkan buku saya yang pertama, yang telah di-publish oleh Gramedia Pustaka Utama Februari lalu. Terima kasih pak Jonru!
Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.
Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
-
Jonru's Fan Page
-
Twitter
-
Koprol, atau
-
Account Facebook Saya
Mau diskusi atau konsultasi seputar penulisan? Klik di sini









Blog ini sangat 









