“Jonru, Berapa Tarif Anda?”
Tanggal 1 Juni 2005 lalu, Helvy Tiana Rosa menulis sebuah posting di blognya dengan judul “Berapa Harga Faiz”. Berikut kutipannya.
….siang ini saya terkejut dan gundah, ketika seorang perempuan menelpon saya begini:
“Selamat siang. Harga Faiz berapa untuk satu jam!?”
Saya terdiam, seperti tak percaya apa yang saya dengar.
“Harga Faiz berapa? Kami mau minta dia isi acara. Sebutkan saja!”
Saya tersentak. Sedih. Seseorang bertanya tentang Faiz dengan cara seperti itu…langsung menyamakannya dengan uang? Tidak ada sedikit saja prolog?
Saat membaca tulisan Mbak Helvy ini, saya berpikir bahwa kejadian seperti ini tak akan pernah menimpa saya. Atau setidaknya MASIH SANGAT JAUH.
Tapi sejak beberapa bulan lalu, secara tak terduga mulai banyak orang yang menanyakan hal serupa pada saya.
- Jonru, berapa tarif Anda?
- Kami ingin mengundang Anda menjadi pembicara pada pelatihan penulisan yang kami adakan. Tapi kami khawatir tak sanggup membayar Anda.
- Honor Anda pasti mahal sekali, ya?
Seperti Mbak Helvy yang merasa jengah ketika menghadapi pertanyaan seperti itu, saya pun sama. Saya bahkan surprise ketika menyadari, ternyata banyak orang yang kini memandang saya terlalu berlebihan.
Baiklah, saya akan membahas hal ini, agar semuanya jadi jelas dan tak ada lagi salah persepsi.
.
Satu: Saya orangnya senang berbagi
Bila saya tiba-tiba menemukan sebuah ilmu baru, pengetahuan baru, wawasan baru, keahlian baru, saya biasanya tidak sabaran untuk segera membagi-bagikannya kepada orang lain. Ini adalah salah satu sifat saya yang paling mendasar. Saya rajin berbagi bukan karena alasan uang, popularitas, atau semacam itu. Tapi berbagi adalah salah satu hobi dan kesenangan yang paling mengasyikkan bagi saya.
Karena itu, bila ada orang yang meminta saya untuk berbagi ilmu, wawasan, pengetahuan, dan seterusnya, dan saya sanggup memenuhi permintaan itu, maka saya akan dengan senang hati menurutinya, walau tidak dibayar sepeser pun.
.
Dua: Ilmu itu gratis
“Lho, tapi kenapa Anda mendirikan Sekolah-Menulis Online (SMO) yang semua pesertanya harus membayar agar bisa bergabung?”
Ya, memang benar bahwa saya berbisnis lewat SMO. Tarif untuk mendaftar sebagai siswa di SMO disebutkan dengan amat jelas.
Tapi dalam hal ini, saya kira terdapat perbedaan yang sangat signifikan antara “ilmu” dengan “media, perangkat dan sistem untuk mengajarkan ilmu tersebut”.
Ilmu, kiat dan teori penulisan yang diajarkan di SMO adalah gratis. Ya, benar-benar gratis. Sebab ilmu itu datangnya dari Allah. Bahkan di dalam ajaran Islam (sepanjang pengetahuan saya, maaf dan mohon koreksinya bila keliru) ada disebutkan; bila ada orang yang menahan-nahan ilmu dengan sengaja serta tidak membagikannya kepada orang lain, maka dia berdosa.
Jadi, ilmu apapun pada dasarnya adalah gratis!
Adapun tarif yang dikenakan kepada para siswa SMO adalah tarif untuk membayar “media, perangkat dan sistem untuk mengajarkan ilmu tersebut”.
Dalam mengelola SMO, kami tentu harus membangun sistem tertentu, menyediakan media dan layanan tertentu. Kami bahkan menyewa ruang kantor dan membayar staf untuk menangani tugas-tugas di SMO. Semua ini tentu butuh biaya, pengorbanan tenaga, waktu dan seterusnya. Untuk hal-hal seperti inilah tarif tersebut ditetapkan.
Penjelasan ini semoga membuat Anda menjadi paham mengapa seorang guru, dosen, pendidik dan seterusnya SELAYAKNYA dibayar ketika mereka mengajarkan ilmu tertentu kepada orang lain. Kini semakin jelas dan masuk akal, kenapa kita harus membayar untuk bersekolah atau mengikuti kursus/pelatihan tertentu.
Bukan ilmunya yang dibayar, tapi “pengorbanan” si pengajar dalam membagikan ilmu tersebut.
Anda tentu bisa membedakannya, bukan?
Sekadar bocoran: Saya sering diajak berdiskusi soal penulisan oleh teman-teman tertentu melalui Yahoo! Messenger atau handphone (penjelasan tambahan ada di bagian NB). Pernah ketika saya sedang meeting dengan seorang mitra bisnis di sebuah restoran, seorang teman dari luar kota menelepon saya dan bertanya banyak hal seputar dunia penerbitan buku. Saya mencoba melayani pertanyaan-pertanyaan dia semampu saya dan sebaik mungkin.
Tentu saja, saya tak perlu menetapkan tarif apapun untuk “layanan” seperti ini. TENTU SANGAT KONYOL bila pada saat menerima telepon, saya segera berkata, “Oke, pertanyaan Anda saya ladeni. Tapi mohon transfer dulu biaya konsultasinya.”
Tidak selamanya segala sesuatu itu harus diukur dengan uang. Saya sangat setuju dan percaya pada prinsip ini.
.
Tiga: Mengenai Sikap elegan dan profesionalisme
Saya pernah mengundang seorang penulis terkenal untuk menjadi pembicara pada sebuah pelatihan penulisan. Belum apa-apa, si penulis ini langsung berkata, “Honor saya minimal Rp sekian juta, ya.”
Terus terang, pandangan saya terhadap si penulis terkenal ini langsung berubah.
Memang, banyak trainer atau pembicara yang punya tarif tertentu. Tapi biasanya, yang menetapkan tarif tersebut adalah manajer mereka, BUKAN MEREKA SENDIRI.
Sekitar lima tahun lalu, saya – mewakili perusahaan tempat saya bekerja – pernah mengundang seorang pakar bisnis untuk menjadi pembicara di sebuah acara talk show. Begitu saya menelepon dan baru saja berbicara, dia segera menjawab, “Untuk urusan undangan, coba langsung ke manajer saya saja, ya. Coba catat nomor HP-nya.”
Saya kira, ini adalah sikap yang profesional dan jauh lebih elegan plus bermartabat.
Kenapa? Sebab sesuai namanya, manajer adalah orang yang bertugas untuk “mengelola” sang tokoh. Dan untuk urusan pengelolaan ini, tentu si manajer harus mengeluarkan banyak biaya, tenaga, kerepotan, dan seterusnya. Pada umumnya, penghasilan si manajer biasanya diambil dari honor atau bayaran untuk si tokoh. Dalam konteks inilah, sangat wajar dan sah-sah saja bila si manajer menetapkan tarif tertentu bila Anda hendak mengundang orang yang “dikelola”nya.
Sementara bila ada tokoh atau trainer yang secara langsung menetapkan tarif untuk diri mereka sendiri, saya kira ini adalah contoh sikap yang tidak profesional. Dan orang yang seperti ini biasanya sangat mudah kehilangan simpati orang lain.
Saya tentu tidak ingin bernasib seperti ini. Bagi saya, hubungan baik dengan siapa saja jauh lebih penting daripada honor yang sebesar apapun.
Lagipula, saya sering membuktikan bahwa berbagi secara tulus dan ikhlas jauh lebih bermanfaat, dan kita justru sering mendapat rezeki yang tak terduga-duga karenanya.
Saya pernah menghadiri sebuah pelatihan penulisan, dan sejak awal panitianya tidak menjanjikan apapun pada saya. Bahkan tidak ada pembicaraan ke arah itu sebelumnya.
Ketika pulang, saya benar-benar surprise karena panitia menyodorkan sebuah amplop, dan menghadiahi saya sekeranjang buah-buahan yang sangat segar plus lezat. Saya pulang ke rumah, dan buah-buahan segar tersebut membuat anak dan istri saya sangat bahagia. Bagi saya, kebahagiaan seperti ini jauh lebih berharga dari apapun termasuk uang.
Coba bayangkan bila saya sejak awal meminta bayaran Rp 1 juta misalnya. Saya sangat yakin bahwa yang akan saya dapatkan hanya Rp 1 juta tersebut, plus sikap panitia yang berjanji tak akan pernah lagi mengundang saya.
Hal seperti ini sudah sering terjadi. Dan ini adalah kondisi yang sangat buruk, saya kira
.
Empat: Saya belum punya manajer
Ini masih berkaitan dengan nomor tiga di atas. Tokoh atau trainer yang punya manajer biasanya sudah memiliki standar tarif tertentu. Alasannya sudah saya jelaskan di atas
Dan karena saya belum punya manajer, tentu standar seperti ini belum berlaku bagi saya
Memang, saya sebenarnya ada rencana untuk memiliki manajer. Bukan karena ingin gaya-gayaan atau agar saya punya alasan yang profesional untuk menetapkan tarif. Demi Tuhan bukan itu alasannya!
Saya ingin punya manajer, sebab berdasarkan pengalaman selama ini, saya sering kerepotan ketika harus mengurus segala sesuatunya sendirian. Saya berpikir bahwa seorang manajer akan membuat saya bisa lebih fokus dan tenang dalam menyiapkan materi pelatihan. Sementara urusan administrasi, kesepakatan dengan panitia penyelenggara dan seterusnya, biarlah sang manajer yang mengurus.
Dan yang paling penting, ketiadaan manajer menyebabkan saya sering berada di pihak yang dirugikan ketika menghadiri undangan tertentu. Panitia yang tidak bertanggung jawab misalnya, atau kesepakatan yang kurang jelas sehingga terjadi sikap saling sungkan dan seterusnya. Saya kira, hal-hal seperti ini akan bisa diatasi dengan baik oleh seorang manajer yang profesional.
Namun bila nanti keinginan untuk punya manajer tersebut terwujud, saya ingin sekali agar saya tidak sampai menetapkan tarif sebagaimana halnya para trainer lain yang sudah punya manajer. Namun seandainya nanti manajemen saya terpaksa menetapkan tarif juga, maka saya ingin agar itu diberlakukan secara fleksibel saja.
Seberapa fleksibelkah itu? Silahkan baca penjelasan lengkapnya pada poin lima di bawah ini.
.
Lima: Saya mengacu pada AKAD saja
Selama ini, dalam memenuhi undangan dari manapun, saya selalu mengacu pada tiga hal pokok berikut.
- Bagaimana akad atau perjanjiannya di tahap awal, maka itulah yang menjadi pedoman bagi saya. Bila sejak awal panitia sudah mengatakan bahwa saya TIDAK akan dibayar sepeser pun karena mereka mengalami kesulitan keuangan misalnya, maka saya akan mengacu pada ucapan mereka ini. Saya tak akan kaget dan bisa menerima dengan ikhlas ketika saya tidak dibayar. Dan bila sejak awal panitia berjanji untuk membayar saya Rp 2 juta misalnya, maka saya pun akan mengacu pada janji mereka ini. Bila mereka ingkar janji, maka saya punya HAK DAN KEWAJIBAN untuk menagihnya. Dan bila saya punya manajer, tentu saya tak perlu merangkap tugas sebagai debt collector

. - Bila panitia menetapkan tarif untuk para peserta yang menghadiri pelatihan mereka, maka SECARA PROFESIONAL panitia juga seharusnya memberikan honor yang layak bagi si pembicara. Tentang berapa besar honornya, bagi saya itu tidak terlalu penting. Sementara bila panitia menyelenggarakan kegiatan sosial, di mana semua orang boleh ikut tanpa membayar sepeser pun, maka SANGAT WAJAR bila pembicaranya pun tidak dibayar. Kecuali bila anggaran untuk acara gratisan tersebut disubsidi secara besar-besaran oleh lembaga tertentu misalnya, ini lain perkara

. - Bila pihak yang mengundang saya adalah sebuah perusahaan besar misalnya, tentu wajar bila saya berharap untuk mendapat honor yang besar pula. Namun bila yang mengundang saya adalah lembaga sosial, apalagi saya juga menjadi anggota lembaga tersebut, maka menghadiri undangan mereka merupakan sebuah kewajiban moral bagi saya. Dan sangat memalukan bila saya meminta bayaran.
Satu-satunya permintaan saya selama ini hanyalah soal transpor dan akomodasi (bila diperlukan). Kedua hal ini harus ditanggung oleh panitia. Alasannya sangat sederhana dan logis: Orang yang mengundang haruslah bertanggung jawab terhadap orang yang mereka undang. Dan untuk dua hal ini, saya pun berusaha untuk tidak cerewet. Beberapa waktu lalu ketika diundang ke sebuah kota, saya naik kereta api (bukan pesawat terbang) dan tinggal di sebuah wisma milik kampus yang kondisinya mirip kos-kosan yang sangat sederhana (tapi alhamdulillah ada AC-nya). Bagi saya itu tidak masalah. Yang penting jangan sampai saya sendiri yang menanggung biaya transportasi dan akomodasi. Itu saja. Titik.
* **
Demikian dari saya. Semoga info ini bermanfaat. Maaf bila ada yang tidak berkenan.
Salam Sukses!
Jonru
Founder BelajarMenulis.com & PenulisLepas.com
Founder & Mentor Sekolah-Menulis Online
Penulis Buku “Menerbitkan Buku Itu Gampang!”
NB:
(1) (*) Mohon maaf, bila selama ini saya hampir tak pernah meladeni teman-teman yang ingin berdiskusi atau konsultasi melalui SMS. Saya kira, SMS adalah singkatan dari SHORT Message System. Sedangkan diskusi atau konsultasi biasanya butuh pembahasan yang LONG. Tentu sesuatu yang LONG akan merepotkan bila dilakukan lewat sebuah media yang SHORT, bukan? Karena itulah, bila Anda memang serius ingin mengajak saya diskusi soal penulisan atau hal-hal lain, cobalah untuk menelepon saja. Jangan merasa sayang terhadap pulsa yang “terbuang”. Anggap saja itu investasi. Kenapa Anda tidak berani berkorban untuk mendapatkan sesuatu yang menurut Anda sangat berharga?
(2) Banyak teman dari luar Jakarta yang bertanya:
(a) Kapan Pak Jonru datang ke kota kami?
(b) Bikin pelatihan jangan di Jakarta melulu, dong. Kami di daerah juga mau.
Untuk pertanyaan (a), sebenarnya saya tergantung undangan saja. Kalau Anda ingin saya hadir di kota Anda, caranya ya silahkan undang saya. Gampang, kan?
Untuk pertanyaan (b), sebenarnya tim kami tidak mungkin mengadakan pelatihan di kota lain tapi semua panitianya dari Jakarta. INI SANGAT TIDAK MUNGKIN. Dengan kata lain, untuk menyelenggarakan kegiatan apapun di luar Jakarta, kami membutuhkan panitia lokal sebagai mitra kerja. Karena itu, bila Anda serius ingin mengadakan pelatihan penulisan di kota Anda, dan kebetulan Anda punya tim atau Event Organizer atau organisasi yang siap menjadi panitia, yuk kita bekerja sama. Mengenai format kerja sama dan seterusnya, silahkan baca penjelasan lengkap di sini.
Comments
37 Comments on “Jonru, Berapa Tarif Anda?”
-
Affandi on
Mon, 6th Apr 2009 05:23 pm
-
jonru on
Mon, 6th Apr 2009 05:44 pm
-
mudier on
Mon, 6th Apr 2009 06:26 pm
-
Aris on
Mon, 6th Apr 2009 10:07 pm
-
yon's on
Mon, 6th Apr 2009 10:26 pm
-
yathi on
Tue, 7th Apr 2009 07:24 am
-
Faqih Syarif on
Tue, 7th Apr 2009 08:20 am
-
Mas Wiro on
Tue, 7th Apr 2009 08:38 am
-
hlasmana on
Tue, 7th Apr 2009 09:55 am
-
Ari Kinoysan W on
Tue, 7th Apr 2009 01:21 pm
-
Mawaddah Idris on
Thu, 9th Apr 2009 11:20 am
-
diah arie setiawati on
Thu, 9th Apr 2009 07:15 pm
-
rizal hakki on
Fri, 10th Apr 2009 08:15 am
-
Abdul Halim on
Fri, 10th Apr 2009 09:29 am
-
supriyadi on
Sat, 11th Apr 2009 04:16 pm
-
Fadly Muin on
Sun, 12th Apr 2009 11:03 pm
-
Xie on
Mon, 13th Apr 2009 12:08 am
-
Buyung on
Mon, 13th Apr 2009 01:35 pm
-
Rudi on
Wed, 15th Apr 2009 11:03 am
-
abdullah zuhri on
Wed, 15th Apr 2009 07:10 pm
-
adi on
Thu, 16th Apr 2009 04:51 pm
-
muhammad luthfi on
Fri, 17th Apr 2009 10:06 am
-
Adi Punk on
Mon, 20th Apr 2009 05:28 pm
-
imron46 on
Thu, 30th Apr 2009 03:12 pm
-
zulmadi on
Sat, 2nd May 2009 11:23 am
-
andi has on
Tue, 5th May 2009 08:56 pm
-
jonru on
Wed, 6th May 2009 05:35 am
-
Mulyawan77 on
Fri, 12th Jun 2009 02:33 pm
-
irza sukmana on
Fri, 24th Jul 2009 10:02 pm
-
"Pak Jonru, Kapan Membuat Pelatihan Penulisan di Kota Kami?" | Jonru on the Web on
Tue, 9th Mar 2010 10:36 am
-
faizal alfa z on
Tue, 9th Mar 2010 05:12 pm
-
mamby on
Wed, 10th Mar 2010 08:22 am
-
yunus on
Thu, 11th Mar 2010 03:53 pm
-
Cara Dapat Uang on
Sun, 14th Mar 2010 06:45 pm
-
Bung Eko on
Mon, 15th Mar 2010 07:57 am
-
jasa hosting murah on
Wed, 17th Mar 2010 07:59 am
-
maydina on
Wed, 16th Jun 2010 01:29 pm
Tulisannya telah menginspirasi banyak orang. Terima kasih
Sama2, Pak/Mas Affandi
Semoga bermanfaat
Tulisan sampeyan sangat tepat dan sahih, semoga tulisan ini nyampe pada para pakar, kaum profesonal termasuk para muballig/da’i yang selama ini aktif diberbagai forum tapi kalo yang memintanya lembaga sosial yang kurang bonafid selalu beralasan sangat sibuk sekali.
jazakallahu khairan katsiro, amin
Idem dgn no.3 di atas. Sayang pandangan antum ini blm jadi mainstream para pembicara lainnya. Hanya ada beberapa pembicara publik yg sependapat. Mungkin krn arus globalisasi & kebutuhan hidup yg makin berat akhir2 ini..
Tapi pokoknya kalo Bang Jonru yg nyampein suatu hal, enak deh bacanya.. Bingung saya, apa krn antum penulis ya? Hehehe (kayaknya dah jelas tuh)..
KOMUNIKATA CONSULTING siap menjadi manajer ^_^
salam
yon’s
tabik bang Jonru….salute for you…
Ass.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa!
Setuju Mas Ilmu itu harus dibagikan.
Semakin banyak memberi Ilmu kita akan mendapatkan tambahan ilmu dan Rezeki yang datangnya ndak disangka-sangaka.
Ayo menebar Epos (energi positif) untuk meraih kemuliaan hidup. Sangat inspirtif Bang.
Salam Dahsyat dan Luar Biasa!
Pak Jonru, Saya sependapat dengan Pak Jonru mengenai tarif. Seseorang yang pada dasarnya ingin berbagi, akan sangat kaget (tersinggung) jika ditanya mengenai tarif. Tapi setiap orang ingin dihargai. dan orang tersebut akan merasa senang jika penghargaan yang dia terima dia nilai tepat. Tapi perlu disadari juga bahwa orang lain juga bingung akan memberi penghargaan seperti apa yang tepat untuk orang tersebut. Dalam kondisi sekarang uang menjadi alat yang sangat berguna. Nah dalam hal seperti ini biasanya panitia sebuah acara mempunyai anggaran, dimana anggaran tersebut harus digunakan secara tepat supaya tidak nombok dan acara berjalan dengan sukses dan bagus. Memang tidak semua orang punya tata krama yang sama, karena tergantung lingkungannya masing-masing, mungkin ini yang perlu dijelaskan pada yang menanyakan tarif secara blak blakan
Jadi ada baiknya jika sudah menjadi milik publik segera mempunyai manager, kasihan sama panitia yang ingin memberi penghargaan, tetapi kebingungan.
Pengalaman yg sama dengan saya tuh Bang Jonru… kadang timbul rasa tidak enak menetapkan tarif atas jasa dan waktu meski tidak munafik kita juga menginginkan pembayaran dari jerih payah pencarian dan penelusuran ilmu yg selama ini capai. Tapi yah… semua bergantung pada diri kita. Kalau saya sih lihat dulu, acaranya komersil atau sosial dan audiencenya. Kalau acara sosial mah ikhlas saja, tetapi juga (lagi-lagi sama) minta diberi akomodasi dan transportasi. Ya kita ambil sisi positifnya saja dari semua pengalaman itu.
Thanks atas sharingnya.
HLasmana
Saya pikir, pengalaman seperti ini sangat sering dialami oleh penulis2 mapan. Saya pribadi sangat risih dengan pertanyaan2 seperti di atas, tapi sering kali mampir.
Sementara bagi saya, penentuan tarif hanya akan membatasi kemudahan kita berbagi ilmu. Dan rezeki itu, kalau kita sering berbagi–malahan sering datang tanpa pernah kita sangka-sangka.
Yang jelas, kalau kita ada di satu tempat terus kemudian diminta mengisi pelatihan atau apapun berkaitan dengan ilmu di tempat lain, sudah sewajarnya mereka (panitia) dan bisa jadi peserta mengganti biaya transport dan akomodasi kita.
Untuk Mas Jonru, semoga tetap diberi istikomah dan rendah hati.
Salam,
Ari Kinoysan W
Salam…
mungkin bpk masih ingat saya, mhsiswi Iain Surabaya yang sempat bertanya pd Workshop Penulisan yg diadakan oleh IQMA, wktu itu prtnyaan sy ttg bgaimana menulis lancar dan mudah melanjutkan ke paragraf berikutnya..
saat ini, sy mulai da kemajuan untuk mencoba.
terima ksih tas ilmu bpk..
Alhamdulillah, akhirnya pertanyaan saya yang selama ini terpendam dlm hati akhirnya terjawab juga hehehehe emang bener sih mas, masalah honor itu sensy alias sensitif. Jadi agak ewuh kalo nanya langsung, selama ini sih saya suka nanya ke temen2 yg sudah pernah invite mas Jonru. Thanks ya mas untuk penjelasannya,jadi sekarang udah gak bingung2 & takut2 lagi untuk mengundang mas Jonru ke KIM (Komunitas Ikat Makna, suatu komunitas yg masih baru & kecil di bawah naungan DTM Al Fath) untuk sharing ilmunya. Syukron mas
saya seorang pensiunan ( th 2008 ) , dan berpengalaman di bidang teknik dan sedikit pengetahuan di bidang komputer , saya sudah bekerja selama 38 tahun di perusahaan , dan sekarang tak punya kegiatan dan ingin menulis pengalaman saya dengan biaya murah karena saya seorang pensiunan , gimana caranya pak JONRU
terima kasih
dari
rizal
Mas Jonru saya sangat bangga mendengar penjelasan Anda tentang berapa harga seorang Jonru. Menurut saya begitulah seharusnya prinsip seorang ilmuwan. Rezeki ilmuwan bukan hanya datang dari ketika ia dibayar saat mengajar/presentasi tetapi rezekinya akan mengalir dari penerapan ilmu yang telah diajarkannya kepada orang lain. Jika prinsip ini diterapkan oleh banyak orang maka akan banyak orang akan menjadi pintar menjadi kaya dan bahagia. Karena kebahagiaan kita tidaklah individual. Kebahagian kita juga kontribusi dari kebahagiaan orang lain. Karena sebegitu besarnya manfaat ilmu bagi kemaslahan ummat manusia, sangat benar Allah mengatakan yang akan dapat membantu seseorang kelak di akhirat adalah ilmu yang diajarkan.
Mudah-mudahan respon Mas Jonru menjadi inspirasi buat saya dan orang banyak untuk terus berbagi ilmu.
Wassalamu Alaikum WW
Abdul Halim
Halo, bung. salam kenal dari saya. langsung aja bung,saya mau minta pendapat bung jonru, begini sebenarnya saya mau memulai dan belajar menulis, tapi masih bingung untuk memulainya. Bung saya ini seorang yang senang membuat sesuatu (teknologi aplikasi/tepat guna) yang belum terpikirkan oleh orang lain dan sampai saat ini hasil karya saya sudah banyak dan belum sempat untuk dipublikasikan atau dibuat karya ilmiahnya saya belum menemukan contoh dan bentuk serta model karya ilmiah yang mengupas habis tentang bentuk karya ilmiah yang berkaitan dengan aplikasi teknologi tepat guna dan harapan saya bung jonru mau membantu saya memberikan masukan ….terimakasih
Halo mas Jonru..
Membaca tulisan anda, serasa berhadapan langsung dengan orangnya. luar biasa.
semoga tetap semangat dalam berbagi ilmunya…
Salam sukses
Terimakasih atas bantuannya, saya sekarang sudah mulai menulis walaupun menurut orang lain kurang bagus, saya pede aja. Mungkin sekarang belum bagus siapa tahu besok…. ya gak.
Saya ada kendala sedikit, saya saat ini tinggal di Malaysia jadi untuk berkomunikasi dengan Bang Jonru masih agak sulit. Sekali lagi terimakasih ya!
Sangat inspiratif. Free as in freedom. Bekerjalah semata-mata karena Allah, maka Allah akan membalasnya berlipat-lipat.
Halo Mas Jonru…
Pengalaman yang luar biasa bisa berkenalan dengan Anda, sosok sederhana yang tergambar dari tulisannya…
Sukses selalu Mas..
mmmm….kok gak ada abisnya sih pak tulisan bagusnya??
hmmmm,…mantab
ass
selamat pak jonru, memang yg namanya ilmu itu harus berbagi dan balasannya akan diterima nanti negeri akhirat, itu pasti.
saya seorang yg sangat berminat menulis dan kalo bpk ngk keberatan tolong kirim e-mail cara membuat tulisan atau kait-kiat karena kalo ikut pelatihan smo belum ada biayanya….
terimakasih banyak
wasalam
Asslm.Wr.Wb… slmt pak Jonru..org2 sprt bpk yg slm ini sy cri yg sm prinspny dg sy.mmg benar ” everything is money but money isn’t everything.mmg rda susah hidup sederhana,apaadany,mmgeng prinsip d tengah2 jaman yg konsumtif,hybrid,instant ini.Salute 4 Mr.Jonru…
inspiratif, menarik, penuh dengan kerendahan hati, membangkitkan minat dan menunjukkan tingkat kepakaran tertentu. Baru kali ini saya bertemu dengan seseorang yang tidak money oriented, saya doakan bahwa ilmu yang dibagikan dengan gratis mendapat balasan lebih banyak dari sekedar uang.
Assalammualaikum WW. !!!
Salut Buat Pak Jon, Saya juga pernah baca dalam Tafsir dan Terjemahan Al-Qur’an, yang intinya Bila pelit akan ilmu, maka tunggulah kepikunan akan menantimu. Dan selanjutnya juga diterangkan bahwa janganlah engkau jual belikan ayat-ayat ku !, maksudnya apa -apa yang diberikan-Nya kepada kita, itu adalah merupakan ayat-ayatnya artinya huruf demi huruf hingga ke kata demi kata hingga terakum sebuah kalimat indah yang dapat menjadi penyejuk bagi orang lain dan bagi diri kita itu menurt saya adalah dari-Nya dari sang pencipta yang melalui perantara kita wajib menyampaikan-Nya kepada orang yang ada disekitar kita. Hal ini dapat juga kita buktikan bahwa bila kalimat yang terucap dari jiwa yang bersih dia akan lancar dan membuat sipendengar akan merinding, tapi bila kalimat itu hanya olahan lidah dan mungkin dibarengi dengan sedikit nafsu, maka keluarnya juga tidak akan menyejukan bagi diri kita apalagi bagi sipenerima. terima Kasih, semoga dilain kesempatan Allah SWT akan mempertemukan kita Pak; Jhon. Amin
no HP mas jonru brp?
@andi has: coba lihat ke bagian kanan atas, pada kolom “about me”
makasih atas tulisannya yang menggugah. saya juga sangat senang membaca tulisan-tulisan anda. saya sedang mencoba untuk menulis apa yang ingin saya tulis.
Assalamu’alaikum, salam kenal Mas. senang mampir2 di blog-nya. smg nanti kl sy dah mudik, bisa ada kesempatan mengundang Mas Jonru utk semnas menulis untuk guru di lampung. Barokallah.
irza, sherbrooke, qc, canada
[...] Sedangkan untuk pertanyaan kedua, sudah pernah saya bahas di http://www.jonru.net/jonru-berapa-tarif-anda [...]
Mantap Pak Jonru, straight to the point, clear, solutive, dan yang paling mantap lagi : “elegan” , saya kepincut dengan penyampaian lugas dari anda….
Subhanalloh.
Bang jonru memang layak dibanggakan.
Semoga sukses dan diberikan kemudahan selalu oleh Dzat Pemilik Ka’bah..
Amiin Ya Robbal Alamiin
semoga sehat mas,
nanti kalo ada kesempatan diundang buat jadi pembicara penulis untuk anak-anak sma di tangerang
Itu karena mereka menghargai kemampuan anda mas jonru.
Hmmm, mudah-mudahan Bang Jonru tetap istiqomah dengan sikap rendah hati seperti ini. Tidak banyak lho orang seperti Bang Jonru. Biasanya sih, belum apa-apa sudah main pasang tarif aja kalau diundang jadi pembicara. Salut deh!
bicara honor memang hal yang sensitif banget … heheheh
semoga sakses, pak jonru
Subhanallah…tulisan2 di blog ini sangat inspiratif n penuh motivasi…dan menggugah saya untuk kembali menulis…salam kenal pak…
Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.
Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
-
Jonru's Fan Page
-
Twitter
-
Koprol, atau
-
Account Facebook Saya
Mau diskusi atau konsultasi seputar penulisan? Klik di sini









Blog ini sangat 









