Writing is not my hobby. It’s a part of my life

Panduan Penulisan dan Penerbitan Buku untuk Pemula, Dapatkan Voucher Rp 150.000 dari SMO

Sekolah-Menulis Online
Versi Baru!

Pendaftaran 24 Jam Nonstop. Investasi Bisa Dicicil Perbulan.

Sekolah-Menulis Online (SMO)
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat!

Semua kegiatan belajar berlangsung lewat internet. Anda tak perlu ke luar rumah, tak perlu meninggalkan aktivitas lain.
Info Selengkapnya >>>

 

23 Mar 2008, 10:14 am

Gaya Hidup: Buku vs Handpone

Posted in Motivasi, Perbukuan, Renungan, Sehari-hari

Buku vs HandphoneApakah manusia benar-benar memerlukan handphone?
Di era serba canggih seperti saat ini, rasanya ada yang kurang seandainya kita tak punya handphone. Memang manusia tak akan mati hanya gara-gara tak punya handphone. Tapi benda mati yang satu ini telah menyebabkan demikian banyak manusia mengalami ketergantungan kronis. Jika seorang karyawan pergi ke kantor dan lupa membawa handphonenya, hampir dapat dipastikan ia akan kelabakan sehari penuh.

Apa sebenarnya fungsi utama handphone?
Tentu saja, untuk mempermudah komunikasi. Handphone memungkinkan kita menelepon sambil berjalan kaki di trotoar jalan, atau ketika kita berada jauh dari rumah. Handpone adalah sebuah teknologi yang jauh lebih fleksibel daripada telepon rumah, karena ia tanpa kabel dan bisa dibawa ke mana-mana.

Tapi manusia adalah makhluk yang tak pernah puas. Rasanya kok ada yang kurang jika handphone hanya bisa dipakai untuk menelepon dan ber-SMS ria. Tentu asyik jika lewat handphone kita juga bisa mendengarkan siaran radio, memutar MP3, main game, bahkan menonton acara televisi.

Maka, fungsi handphone pun kini bergeser jauh. Ia tidak lagi sekadar mempermudah komunikasi manusia. Handphone masa kini adalah sebuah produk teknologi yang memanjakan gaya hidup dan keinginan manusia yang tak ada habis-habisnya.

Kian hari, kian banyak orang yang memiliki handpone. Handphone bukan lagi barang mewah, tapi telah berubah menjadi benda yang amat dibutuhkan, bahkan oleh tukang ojek dan kuli bangunan sekalipun.

Permintaan terhadap handpone - beserta segala macam aksesorisnya - terus bertambah. Ini - antara lain - menyebabkan toko handphone menjamur di mana-mana. Jika di sebuah ruas jalan ada 10 toko, 4 atau 6 di antaranya adalah toko handphone. Toko handphone tidak hanya terdapat di jalan besar. Ia juga hadir di gang-gang kecil, bahkan di perkampungan yang sepi.

Buku vs HandphoneHandphone kini menjadi bagian yang tak terpisahkan dari gaya hidup manusia. Padahal fungsi utamanya hanya untuk mempermudah urusan komunikasi.

Tidak percaya?
Lihatlah iklan-iklan handphone di televisi. Yang mereka tonjolkan bukan kecanggihan tertentu di bidang komunikasi, tapi kecanggihan kameranya, fitur Radio FM-nya, MP3 playernya, bahkan desainnya yang stylist dan keren abis.

Lihat pulalah perilaku saudara, tetangga atau teman-teman kita. Mereka rela mengganti handphone hanya dengan alasan, “HP jadul gue udah kuno banget. Gue mau ganti dengan yang lebih canggih gitu loch.”

* * *

Apakah manusia benar-benar memerlukan buku?
Buku adalah sahabat sejati manusia sejak zaman dahulu. “Buku adalah guru yang tak pernah marah”. Di dalam buku terkandung demikian banyak pengetahuan, wawasan, dan/atau keterampilan. Ini amat berharga bagi perkembangan kecerdasaran dan pemikiran kita. Tanpa buku, tak mungkin kita menjadi orang sukses seperti saat ini. Tanpa buku, tak mungkin ada internet, saya tak mungkin membuat tulisan ini, Anda pun mungkin tak pernah mengenal saya.

Maka, tak dapat dipungkiri bahwa manusia sangat membutuhkan buku. Memang, manusia tak akan mati hanya gara-gara tidak membaca buku. Tapi tanpa membaca buku, manusia tak ubahnya seperti - maaf - hewan yang hidupnya begitu-begitu saja, tak pernah berkembang dari waktu ke waktu.

Apa sebenarnya fungsi utama buku?
Seperti disebutkan di atas, buku adalah jendela pengetahuan. Buku adalah gerbang menuju demikian banyak “harta” karun yang bisa memperkaya hidup kita, membuat hidup kita jauh lebih berkualitas dari sebelumnya. Buku memiliki fungsi dan peran yang amat penting bagi peradaban umat manusia.

Buku vs HandphoneTapi apakah buku telah menjadi gaya hidup kita?
Berita buruknya: BELUM! Kita belum bisa memperlakukan buku seperti handphone.

Toko handphone ada di mana-mana, bahkan hingga gang kecil sekalipun. Tapi toko buku hanya bisa ditemukan di tempat-tempat tertentu.

Kita rela mengeluarkan uang Rp 2 juta bahkan lebih untuk bergonta-ganti handphone. Tapi kita merasa amat berat untuk mengeluarkan uang Rp 30.000,- atau Rp 50.000,- untuk membeli buku.

Kita bangga memamerkan handphone kita pada orang lain. Tapi kita takut dicap “kutu buku”.

Hampir semua media massa, film, sinetron, hingga cerpen dan novel, menggambarkan orang yang gemar membaca buku sebagai manusia yang kaku dalam bergaul, berkaca mata tebal, dan penampilannya kuno. Sebuah pembunuhan karakter yang sangat sadis, tapi kita menikmatinya sambil tertawa-tawa, sebab sosok si kutu buku di sinetron sering terlihat sangat lucu.

Orang yang rajin membaca buku seharusnya pintar, intelek, berwawasan luas sehingga sangat layak untuk dikagumi dan dijadikan panutan, NAMUN secara tragis justru dihadirkan sebagai jenis manusia yang paling memalukan di atas dunia ini.

Benarkah buku akan membuat kita menjadi kuno?
SAMA SEKALI TIDAK!

Bagaimana caranya sehingga para pakar bisa menciptakan handphone yang serba canggih? Salah satunya, karena mereka rajin membaca buku!

Bagaimana caranya sehingga para pebisnis televisi berhasil membuat acara-acara yang menarik sehingga kita-kita para penonton ini jadi terbius dan memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap televisi? Salah satunya, karena mereka membaca buku tentang “cara memanjakan pemirsa dengan acara-acara yang menarik.”

Maka, buku justru merupakan sarana yang memungkinkan manusia menikmati kehidupan yang jauh lebih modern. Buku adalah sarana yang bisa membawa kita menuju peradaban yang jauh lebih baik.

“Buku bisa melahirkan handpone” tapi “handphone tak bisa melahirkan buku” (kecuali buku panduan yang disertakan pada setiap kardus handphonebaru).

Masalahnya, kita begitu mencintai handphone, tapi kita menganaktirikan buku. Kita memperlakukan handphone sebagai bagian dari gaya hidup. Tapi kita memperlakukan buku tak lebih sebagai beban yang dipakai ketika ada hal-hal mendesak yang menyebabkan kita terpaksa membaca buku.

Sekarang, mari kita bertanya pada diri masing-masing; Apakah handphone yang amat kita cintai itu bisa membuat hidup kita jauh lebih berkualitas dari sebelumnya? Apakah handphone kesayangan kita itu mampu membuat kita menjadi manusia yang jauh lebih pintar dari sebelumnya?

Jika jawabannya adalah tidak, lantas kenapa kita masih lebih mencintai handphone ketimbang buku?

Cilangkap, 23 Maret 2008

Jonru

(Tulisan ini sebenarnya sudah saya tulis sejak 2 April 2007 lalu, tapi entah kenapa baru sekarang - hampir setahun kemudian - saya tergerak untuk mempublikasikannya)

Sumber foto: Gettyimages.com

 

 


Ingin ngobrol bareng Jonru mengenai Penulisan, Blog Writing,
Web Copy, atau Jurnalistik? Klik DI SINI :)

9 Responses to “Gaya Hidup: Buku vs Handpone”

  1. 1
    Deni Nursani Said: @ 29 Mar 2008 05:44 pm 

    Dahsyat!!
    Saya setuju banget Bang Jon. Di samping manfaat yang disebutkan Abang di atas, ada manfaat lain yang saya rasakan ketika membaca buku yaitu; KENIKMATAN. Bahkan ketika saat ini sudah hadir e-book pun, kenikmatan membaca buku masih belum bisa tergantikan.

    Ya betul Mas Deni…
    Membaca buku memang nikmat ya :)

  2. 2
    Khaled Said: @ 01 Apr 2008 03:27 pm 

    “Kick Andy” telah melakukan aksi hebat dengan ‘mempromosikan’ minimal sebuah buku tiap edisinya. Salute!!

  3. 3
    Yaser Said: @ 03 Apr 2008 08:25 pm 

    Tumbuhnya kesadaran menjadi bangsa “pembaca” telah mendapatkan momentumnya mas, lewat blog salah satunya. Sy yakin ini akan menjadi bola salju, dan udah terasa di Pontianak :)
    Tabik.

    Alhamdulillah… ini berita baik
    Thanks Pak Yaser atas infonya

  4. 4
    amin Said: @ 04 Apr 2008 10:40 am 

    Salam kenal. Sy jg setuju banget tapi kenapa ya rasanya maleeeeeeeeees banget kalo suruh baca buku. kok rasanya enakan menjelajah internet gitu… Bahkan buku2 yg udah sy beli masih banyak yg sekedar nampang di lemari…

    Salam kenal juga Pak Amin…
    Bukunya kirim ke saya aja
    hehehehe…. :)

  5. 5
    lbsfighter Said: @ 16 Apr 2008 03:56 pm 

    klu ditanya: “Apakah handphone yang amat kita cintai itu bisa membuat hidup kita jauh lebih berkualitas dari sebelumnya?,
    kalau saya akan melihat dari sisi yang lain saja, dengan handphone bisa membuat hidup kita lebih asyik, lebih simple, lebih terasa dekat, ngobatin rasa rindu ama pacar, ama keluarga, ama teman-teman.

    Ya memang benar…
    Tapi hal2 seperti itu kan lebih bersifat entertainment. Sedangkan pengaruh buku (yang baik) berdampak edukatif. Jadi kalau dibandingkan dalam hal “mencerdaskan” dst, tentu buku lebih baik.

    Jonru

  6. 6
    damar Said: @ 20 Apr 2008 11:25 pm 

    di saat ne qta mang ga bisa lepas dari yang namanya handphone,karna HP sudah “kebutuhan” hidup yang sifatnya primer. tapi qta juga ga bisa lepas dari yang namanya buku,karna tanpa buku qta juga ga bisa pengetahuan,karna buku juga termasuk sumber pengetahuaan.
    jadi,antara handphone dan buku menurut saya semuanya sama-sama penting dalam penggunaannya,
    Thanks…

    Ok sip deh

    thanks ya

    Jonru

  7. 7
    infogue Said: @ 06 May 2008 11:17 am 

    Artikel di blog ini menarik & bagus. Untuk lebih mempopulerkan artikel (berita/video/ foto) ini, Anda bisa mempromosikan di infoGue.com yang akan berguna bagi semua pembaca di tanah air. Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
    http://seni-budaya.infogue.com
    http://seni-budaya.infogue.com/gaya_hidup_buku_vs_handpone

  8. 8
    adi pashaa Said: @ 29 Oct 2008 07:53 am 

    BENUL PAK,SY STUJU SKALI BAHWA DG MMBACA BUKU BS MERUBAH WAWASAN DAN CARA BERFIKIR YG LEBIH BAIK(TENTU BUKU YG DIBACA NYA JG BUKU2 YG BRSIFAT POSITIF) LEWAT BLOG BPAK,SY JG PENGEN MENGHIMBAU BAGI YG PUNYA BNYAK BUKU2 DIRUMAHNYA,AGAR BS TERUS DIBACA2,, ATW

  9. 9
    Req Said: @ 27 Nov 2008 12:06 pm 

    Wah oke banget bang jon….dan terimaksih atas kritikannya…saya jadi tergugah buat membaca lebih banyak lagi……

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment