[Kiat Sukses] Jadilah Orang yang Menguntungkan!
Filed under: Bisnis, Motivasi, Renungan, Sehari-hari, Sekolah-Menulis Online, Sosial Budaya
Ide awal tulisan ini berasal dari ucapan Pak Mario Teguh dalam acara Business Art di O Channel beberapa waktu lalu. Pak Mario bilang, pribadi yang disukai oleh semua orang adalah pribadi yang menguntungkan. Sebuah penjelasan yang sangat singkat, padat, namun penuh makna. Lantas tadi malam (10 Juni 2008), saya berkunjung ke rumah seorang sahabat – pengusaha bernama Pak Arief. Ada ucapan dia yang membuat saya teringat lagi pada ceramah Pak Mario Teguh, dan menggerakkan saya untuk menulis artikel ini.
Bila Anda adalah seorang karyawan, maka perusahaan tempat Anda bekerja akan mati-matian mempertahankan Anda (bahkan mungkin menaikkan gaji Anda tiga kali dalam setahun – seperti yang pernah dialami Tung Desem Waringin), bila mereka menganggap Anda adalah karyawan yang menguntungkan. Kehadiran Anda di perusahaan tersebut mungkin membuat profit perusahaan meningkat tajam, atau membuat para staf lebih bersemangat dalam bekerja. Dalam versi Aa Gym, Anda adalah tipe “karyawan wajib”, yakni karyawan yang sangat dirindukan kehadirannya dan sangat disesali kepergiannya. Read more
Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam
NB: Sebelum membaca tulisan di bawah ini, ada baiknya Anda menyimak dulu latar belakang ceritanya di sini. Terima kasih
Update 20 Juni 2009:
Masalah pada tulisan ini sebenarnya sudah selesai sekitar satu tahun lalu. Berita detilnya bisa dibaca di sini.
* * *
Bagi Anda yang sudah membaca novel The Da Vinci Code, pasti familiar dengan seorang tokoh bernama Silas. Dia seorang albino, lugu, taat luar biasa pada jamaahnya (mungkin semacam taqlid buta), tapi ia tak sadar bahwa selama ini ia hanya diperalat oleh sebuah mafia kelas kakap. Dan dapat ditebak, tokoh-tokoh seperti Silas yang muncul di film atau novel, nasibnya selalu sama: mati mengenaskan di tangan orang yang selama ini memperalat dia.
Setelah membaca Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008, saya tiba-tiba merasa saya adalah seorang Silas!
Ya, saya memang tidak albino, tapi akan saya ceritakan sebuah fakta: [Image]
Modern Nggak Mesti Kayak Bule
Catatan: Naskah ini pernah diterbitkan dalam bentuk ebook oleh Zabit Mobile Book, dan di-launching pada acara Milad FLP k-10 tanggal 24 Februari 2007 di Jakarta.
==========
Friend, pasti kamu enggak mau kan, disebut sebagai orang kuno? Setiap orang pasti pengen jadi orang modern. Tapi tahu enggak sih, kita sering menganggap bahwa yang modern itu pasti dari Barat. Pasti kayak orang bule. Contohnya nih: gaun pengantin ala Jawa kita sebut “gaun tradisional”, sedangkan gaun pengantin ala barat kita sebut “gaun modern”. Contoh lain: musik pop (yang berasal dari Barat) kita sebut musik modern, sedangkan musik India, Arab, Jawa, Sunda, Batak, Mandarin, dan sebagainya, enggak pernah kita sebut sebagai “musik modern”.
Padahal, apa iya modern emang seperti itu? Untuk menjawabnya, yuk kita analogikan modern itu sebagai produk atau teknologi modern. Apa sih, ciri-ciri produk modern itu? Read more
When FANATIK meets TOLERANSI
Salah satu salah kaprah yang sangat kronis di dunia kita saat ini adalah: adanya anggapan bahwa FANATISME dan TOLERANSI merupakan dua musuh bebuyutan. Keduanya tak mungkin dipersatukan, tak mungkin seiring sejalan. Fanatik diartikan sebagai sebuah sikap “merasa paling benar dan tidak bisa menerima perbedaan”. Sedangkan toleransi adalah sebaliknya; “tidak merasa paling benar dan sangat akomodatif terhadap segala jenis perbedaan.” Fanatik dianggap sebagai sebuah sikap yang sangat tercela, sedangkan toleransi merupakan sikap yang sangat ideal di tengah keberagaman manusia di muka bumi ini.
Benarkah demikian? Read more
Makna Pahlawan itu Relatif, Jenderal!

Hari ini, 10 November 2006, adalah hari pahlawan. Dan setiap kali mendengar istilah “pahlawan”, ada yang bergejolak di hati saya. Saya ingat dengan “Taman Makam Pahlawan”. Sesuai namanya, seharusnya semua orang TANPA KECUALI yang diberi gelar pahlawan dimakamkan di sini. Tapi apa faktanya? Kita tentu tahu sendiri, bukan? Mungkin nama ini perlu diganti menjadi “Taman Makam TNI dan Polri” atau “Pemakaman TNI dan Polri”. Penamaan yang aneh terhadap tempat ini seolah-olah menyiratkan bahwa yang dianggap sebagai pahlawan hanyalah mereka yang bekerja di bidang militer dan kepolisian.
Ya, pemerintah memang mengakui bahwa orang-orang dari luar kalangan militer dan kepolisian pun layak disebut pahlawan. Berulang kali pemerintah menganugerahkan gelar pahlawan kepada orang-orang sipil. Tapi apakah tindakan seperti ini saja sudah cukup? Read more









Blog ini sangat 









