[17 Agustus] Memerdekakan Diri dari Lomba Makan Kerupuk

August 16, 2010 · 10 Comments
Filed under: Renungan, Sehari-hari 

lomba makan kerupukNB: Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan ini, yang saya tulis dua tahun lalu dalam rangka peringatan HUT Proklamasi RI.

Pernahkah Anda berpikir, dari mana asal muasal lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan lomba-lomba lain yang bernuansa 17 Agustusan? Kalaupun pernah, saya yakin Anda akan sulit menemukan jawabannya. Read more

  • Share/Bookmark

Mengapa Banyak Orang yang Membenci Hari Senin?

October 19, 2009 · 29 Comments
Filed under: Motivasi, Renungan, Sehari-hari, kiat sukses 

Ketika hari Senin tiba, banyak orang yang berkata (walau cuma di dalam hati), “I hate Monday!” (Tulisan terbaru di Detik.com ini menjadi salah satu bukti kuatnya).

Dan ketika hari Jumat tiba, mereka ramai-ramai berteriak dengan sukacita, “Thanks God, It’s Friday!”

Mungkin selama ini kita menganggap hal seperti ini biasa-biasa saja. Tapi cobalah kita renungkan: Read more

  • Share/Bookmark

Tentang Sebuah Warnet di Pojok Samping Kantor Pos Pusat Semarang

July 19, 2009 · 21 Comments
Filed under: Sehari-hari, Umum, ulang tahun ke-11 detikcom 

kantor_pos_semarangBila Anda berkunjung ke Kantor Pos Pusat Semarang, cobalah tengok ke sisi-kanannya. Masih adakah paviliun kecil di sana? Jika ada, apakah masih ada warnet yang beroperasi di sana?

Pertanyaan ini bukan teka-teki, bukan jebakan, bukan sebuah misteri untuk menemukan harta karun. Saya sudah bertahun-tahun tidak ke Semarang. Dulu saya kuliah di sana, lulus tahun 1998, lalu mulai bekerja dan tinggal di Jakarta sejak 2000. Tahun 2004 dan 2005 saya pernah ke Semarang, tapi tidak mampir di Kantor Pos Pusat.

Kenapa saya tertarik pada Kantor Pos Pusat Semarang, khususnya pavililun kecil di samping kanannya? Sebab di tempat itulah untuk pertama kalinya tahun 1998 lalu saya berkenalan dengan internet. Read more

  • Share/Bookmark

“Maaf, Saya Sibuk. Tak Sempat Menulis!”

sibuk belajar menulisEmpat hari belakangan ini, saya berhadapan dengan empat hal yang berkaitan dengan ucapan “Saya sibuk”.

Yang pertama:
Saya sedang menyiapkan sebuah buku tentang motivasi menulis. Di dalam buku tersebut, saya menulis sebuah bab tentang mitos “kesibukan”. Mohon doanya, semoga buku ini cepat kelar dan terbit di pasaran, ya :)

Yang kedua:
Tulisan Agung “Mbot” di blognya yang berjudul “Gue Terlalu Sibuk Buat Nulis”.

Yang Ketiga:
Tulisan Lalu Abdul Fatah berjudul “Jamal Terselip di Tulisan Ini. Mohon Selamatkan Dia!”, yang merupakan RESPONS terhadap tulisan Agung Mbot di atas.

Yang keempat:
Barus saja ada teman yang menyapa saya lewat Yahoo! Messenger. Dia berkata, “Saya ingin jadi penulis sukses, tapi kesibukan di kantor menghambat saya.” Read more

  • Share/Bookmark

[Kiat Sukses] The Power of KONSISTEN

April 29, 2009 · 39 Comments
Filed under: Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, Sehari-hari, kiat sukses 

konsisten menulisAlkisah di tahun 1990-an, saya adalah seorang penulis pemula. Untuk belajar menulis dan organisasi, saya bergabung dengan dua pers kampus sekaligus. Seperti pers kampus pada umumnya, di dalamnya kita bisa menemukan banyak orang yang jago menulis. Para senior saya ketika itu, adalah orang-orang yang saya kagumi. Saya banyak belajar tentang dunia penulisan dari mereka.

Masih di tahun 1990-an, saya juga mulai rajin mengirim cerpen ke sejumlah media cetak, terutama majalah Anita Cemerlang. Saat itu, saya terus terang merasa sangat minder terhadap para penulis yang sudah sangat produktif dan nama mereka SERING menghiasi halaman cerpen majalah-majalah ternama. Bagaimana tidak minder: Saya masih sangat pemula, sedangkan mereka sudah jagoan semua. Read more

  • Share/Bookmark

Apa Yang Menyelamatkan Anda dari Ancaman Krisis Global?

April 22, 2009 · 131 Comments
Filed under: Motivasi, Renungan, Sehari-hari, kiat sukses 

krisis globalSebagai umat beragama, tentu kita percaya bahwa Tuhan Maha Penyelamat. Hanya DIAlah yang bisa menyelamatkan manusia. Namun dalam konteks duniawi, kita juga bisa bicara soal “jaminan masa depan” atau hal-hal sejenis yang berkaitan dengan “keselamatan hidup”.

Bila ditanya pada orang tua kita, mungkin mereka berkata bahwa PENDIDIKAN-lah yang akan membuat masa depan kita lebih terjamin. Tidak heran, sebagian besar orang tua menyuruh anak-anak mereka bersekolah setinggi-tingginya, agar “masa depan mereka cerah.”

Tapi fakta membuktikan bahwa banyak juga sarjana (bahkan lulusan S3) yang menjadi pengangguran.

Fakta juga membuktikan bahwa banyak sekali orang yang kuliah di Fakultas Teknik, tapi akhirnya menjadi Staf Marketing. Atau lulusan Institut Pertanian Bogor yang menjadi wartawan.
Read more

  • Share/Bookmark

“Jonru, Berapa Tarif Anda?”

April 6, 2009 · 37 Comments
Filed under: Agenda Jonru, Bisnis, Dunia Penulisan, Renungan, Sehari-hari 

JonruTanggal 1 Juni 2005 lalu, Helvy Tiana Rosa menulis sebuah posting di blognya dengan judul “Berapa Harga Faiz”. Berikut kutipannya.

….siang ini saya terkejut dan gundah, ketika seorang perempuan menelpon saya begini:

“Selamat siang. Harga Faiz berapa untuk satu jam!?”

Saya terdiam, seperti tak percaya apa yang saya dengar.

“Harga Faiz berapa? Kami mau minta dia isi acara. Sebutkan saja!”

Saya tersentak. Sedih. Seseorang bertanya tentang Faiz dengan cara seperti itu…langsung menyamakannya dengan uang? Tidak ada sedikit saja prolog?

Saat membaca tulisan Mbak Helvy ini, saya berpikir bahwa kejadian seperti ini tak akan pernah menimpa saya. Atau setidaknya MASIH SANGAT JAUH.

Tapi sejak beberapa bulan lalu, secara tak terduga mulai banyak orang yang menanyakan hal serupa pada saya. Read more

  • Share/Bookmark

Mengubah Kecanduan Internet Menjadi Hal yang Positif dan Produktif

kecanduan internetAnda kecanduan internet, dan resah karena hal itu?
Anda merasa terlalu banyak menghabiskan waktu untuk browsing, chatting, ngeblog, dan kegiatan-kegiatan “nonproduktif” lainnya di internet?
Atau, pekerjaan utama Anda justru terganggu karena “penyakit” kecanduan internet ini terasa amat sulit untuk diatasi?

Terus terang, saya pun termasuk orang yang sudah sangat kecanduan internet. Tidak nge-net sehari saja, hidup rasanya kurang lengkap. Bila sedang nganggur, tak ada pekerjaan, atawa bengong, maka yang saya pikirkan pertama kali adalah INTERNET.

Bahkan tragisnya:

Ketika pertama kali menyalakan laptop, saya langsung konek ke internet, padahal saat itu saya mungkin sedang tidak perlu online sama sekali. Read more

  • Share/Bookmark

Mendadak Anita Cemerlang (Lagi!) (Bagian III-selesai)

February 13, 2009 · 9 Comments
Filed under: Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, Sehari-hari 

Cinta Tak TerleraiAlhamdulillah, di tahun 2004 saya bangkit dari “mati suri” selama 8 tahun. Saya kembali hadir di dunia penulisan. Semangat saya kembali menyala-nyala. Saya berpikir bahwa saya tak boleh larut dalam kesedihan, kekecewaan dan keputusasaan. Saya ingin meneruskan perjuangan, mewujudkan kembali impian sebagai penulis sukses, seperti yang sudah lama saya idam-idamkan. Impian yang selama 8 tahun nyaris saya lupakan!

Saat itulah saya mengubah nama pena dari Jon Riyadi menjadi Jonru. Awalnya, saya sebenarnya masih sangat suka pada nama Jon Riyadi. Bahkan ketika mengirim naskah ke penerbit di tahun 2004, saya masih menggunakan nama tersebut. Harapan saya, nama ini bisa menjadi salah satu “nilai jual” buku saya. Karena saya berharap masih banyak orang yang ingat pada nama Jon Riyadi.

Namun dari sejumlah milis penulisan yang saya ikuti, banyak teman yang berkata bahwa nama Jon Riyadi itu jelek. Mereka lebih suka nama Jonru. Karena bingung dan ragu, saya sempat membuat sebuah polling di milis. Saya meminta teman-teman untuk memilih, “Anda suka yang mana?”

Ternyata 100% dari penjawab memilih nama Jonru. Tak satu pun yang memilih Jon Riyadi! Read more

  • Share/Bookmark

Mendadak Anita Cemerlang (Lagi)! (Bagian II)

February 13, 2009 · Leave a Comment
Filed under: Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, Sehari-hari 

Beginilah tampang saya di era Anita CemerlangTahun 1993, saya mengikuti Lomba Cipta Cerpen Remaja (CLLR) yang diadakan oleh Anita Cemerlang. Cerpen yang saya kirim berjudul Telepon. Hasilnya, naskah saya tidak menang tapi alhamdulillah masuk ke dalam kategori “naskah yang layak muat”. Maka, cerpen Telepon ini pun menjadi NASKAH PERTAMA saya yang dimuat di Anita Cemerlang. Duh, betapa bahagianya! Saya bersyukur karena akhirnya naskah saya bisa dimuat di majalah yang bergengsi tersebut!

Di awal tahun 1994, secara mengejutkan saya mendapat sebuah kiriman surat (saat itu belum ada email) dari majalah Anita Cemerlang. Isinya sangat manis dan membahagiakan: Pemberitahun bahwa mereka kembali mengadakan lomba cerpen, dan saya dihimbau untuk ikut serta.

Terus terang, di balik kebahagiaan saya ketika itu muncul sebuah pertanyaan yang didorong oleh rasa heran, “Kenapa Anita Cemerlang begitu perhatian pada saya? Kenapa mereka menyurati saya seperti itu? Bukankah saat itu saya masih sangat pemula, nama saya belum dikenal?” Read more

  • Share/Bookmark

Next Page »