Tentang Kemerdekaan, Kebahagiaan Sejati, dan Sebuah Website
Lho, apa hubungan antara kemerdekaan, kebahagiaan sejati dan sebuah website? Saya akan menjelaskannya lewat cerita berikut.
Jika Anda termasuk orang yang suka main games, bagaimana perasaan Anda bila ada sebuah perusahaan yang mau membayar Anda Rp 10 juta perbulan hanya untuk bermain games? Bila Anda suka berkelahi, bagaimana perasaan Anda bila ada perusahaan yang mau membayar Anda untuk berkelahi dengan orang lain? Menjadi debt collector misalnya?
Tentu saja, semua orang akan sangat bahagia bila memiliki pekerjaan, karir, atau profesi yang seperti itu.
Alhamdulillah, saya pun sudah mengalaminya! Read more
[17 Agustus] Memerdekakan Diri dari Lomba Makan Kerupuk
NB: Tulisan ini merupakan revisi dari tulisan ini, yang saya tulis dua tahun lalu dalam rangka peringatan HUT Proklamasi RI.
Pernahkah Anda berpikir, dari mana asal muasal lomba makan kerupuk, lomba balap karung, lomba panjat pinang, dan lomba-lomba lain yang bernuansa 17 Agustusan? Kalaupun pernah, saya yakin Anda akan sulit menemukan jawabannya. Read more
[Kiat Menulis] Berguru dari Penulis yang (justru) Merasa BUKAN Penulis
Filed under: Blog Mania, Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, kiat sukses
Berdasarkan penerawangan pengamatan saya, ada berbagai macam jenis penulis yang hidup di muka bumi ini. Yaitu:
- Penulis profesional, yakni orang-orang yang mencari uang lewat kegiatan menulis. Mereka ini masih terbagi dua lagi, yakni:
- Full Time Writer ==> Menulis sebagai sumber penghasilan utama.
- Part Time Writer ==> Menulis sebagai salah satu sumber penghasilan utama.
- Penulis amatir, yakni orang-orang yang menjadikan kegiatan menulis sebagai hobi belaka. Banyak orang yang salah persepsi terhadap istilah “penulis amatir” ini. Mereka mengira, penulis amatir adalah orang-orang yang belum pintar menulis, Hm, ini pandangan yang keliru, Saudara-saudara Sekalian!
Termasuk ke dalam golongan penulis amatir:
Orang-orang yang menulis untuk tujuan menambah pergaulan, berbagi ilmu, menghilangkan stress, aktualisasi diri, dan sebagainya.
Seiring dengan perkembangan zaman pengalaman dan keahlian mereka, banyak penulis amatir yang akhirnya beralih status menjadi penulis profesional. - Penulis Tidak Sadar, yakni orang-orang yang sering menulis (dengan tujuan tertentu), tapi mereka merasa bukan penulis. Contohnya
- Blogger. Mereka ini umumnya lebih senang disebut blogger daripada penulis. Padahal kegiatan utama mereka justru menulis. Jadi, sebenarnya mereka ini penulis juga, kan? (Barulah ketika tulisan di blog mereka diterbitkan menjadi buku, mereka dengan percaya diri mengatakan, “Saya penulis.”)
- Pebisnis online atau internet marketer. Mereka biasanya menulis untuk tujuan SEO, meningkatkan trafik website, dan sebagainya. Sama seperti blogger, mereka pun tidak sadar bahwa mereka sebenarnya penulis.
- Staf atau manajer humas di perusahaan, yang harus sering menulis untuk dibaca oleh wartawan atau konsumen mereka.
- Dan sebagainya.
- Penulis Wanna Be, yaitu orang yang bercita-cita menjadi penulis, tapi tak terwujud juga. Bukan karena mereka gagal. Bagaimana mungkin dibilang gagal, jika mencoba saja belum pernah. Mereka mengaku terlalu sibuk, banyak kendala, belum tahu caranya, MERASA MINDER, dan sebagainya dan sebagainya. Ah, banyak alasan deh pokoknya
* * *
Pada tulisan ini, saya tertarik untuk membahas penulis jenis ke-3.
Kenapa? Read more
Pengusaha Indonesia Tidak Boleh Nasionalis?
Tiga tahun lalu, saya pernah menulis sebuah artikel berjudul “Menulis Cerpen Berdasarkan Referensi Tertentu”. Ini sebenarnya artikel bertema kepenulisan. Tapi hari ini, saya ingin membahasnya lagi dari sudut pandang yang berbeda: Dunia Entrepreneur
Untuk jelasnya, coba Anda simak kutipan tulisan tersebut di bawah ini:
Cerpen ini bercerita tentang seorang pemuda yang tinggal di perbatasan Indonesia-Malaysia di Kalimantan. Kisahnya diawali dengan keputusan si pemuda untuk keluar dari perusahaannya dan berwiraswasta dengan berjualan tikar tradisional. Tikar tersebut ia buat sendiri, lalu dijual di perbatasan.
Tragisnya, produknya ini tidak laku, hanya gara-gara ia berkata jujur, “Tikar ini buatan saya sendiri”. Ternyata, para pembeli beranggapan bahwa tikar tersebut haruslah buatan daerah tertentu di Malaysia. Jika dibuat oleh orang Indonesia, maka dianggap tidak asli.
Si pemuda pun mencoba menjual produknya ini di Indonesia, tapi ternyata prospeknya tidak begitu cerah. ia pun kecewa dan prihatin. Ia telah bertekad untuk lebih mencintai negerinya. Tapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa hal-hal yang berbau Malaysia lebih disukai oleh masyarakat Indonesia di perbatasan tersebut. Terlebih, mata uang ringgit lebih disukai daripada rupiah. Hal-hal yang berbau Indonesia hanya mereka “nikmati” saat upacara bendera di sekolah.
Mengapa Banyak Orang yang Membenci Hari Senin?
Ketika hari Senin tiba, banyak orang yang berkata (walau cuma di dalam hati), “I hate Monday!” (Tulisan terbaru di Detik.com ini menjadi salah satu bukti kuatnya).
Dan ketika hari Jumat tiba, mereka ramai-ramai berteriak dengan sukacita, “Thanks God, It’s Friday!”
Mungkin selama ini kita menganggap hal seperti ini biasa-biasa saja. Tapi cobalah kita renungkan: Read more
Benarkah Anda Tak Punya Bakat Menulis?
Saya sering mendengar orang yang berkata, “Saya ingin menjadi penulis, tapi rasanya kok sulit sekali karena saya tidak punya bakat.”
Dulu, saya selalu menjawab ucapan seperti ini dengan perkataan, “Bakat itu tidak penting. Yang penting adalah kerja keras dan motivasi yang kuat.”
Ya, itu memang benar.
Tapi kini, ada pemikiran baru yang tiba-tiba hadir di kepala saya. Read more
[Kiat Sukses] Kapan Saat yang Tepat untuk MENYERAH?
“Lho, kenapa harus menyerah?
Bukankah agar sukses, kita harus selalu optimis, tetap semangat, terus mencoba walau beribu kali gagal, walau banyak halangan dan kendala?”
Ya, memang benar. Tapi bukan berarti kita tidak boleh menyerah sama sekali.
Walau saya sering membuat tulisan yang isinya memberi semangat dan motivasi kepada teman-teman sekalian, bukan berarti saya tak pernah menyerah.
Ketika SD, saya pernah menyerah dalam belajar bermain gitar. Saya tetap tidak bisa juga walau sudah berkali-kali mencoba. Teman-teman lain dengan amat mudah mengenali kunci C dan berbagai macam kunci lainnya di snar gitar, sementara saya sama sekali tidak bisa melihat di mana bedanya. Teman-teman lain dengan sangat mudah memainkan nada dari lagu tertentu hanya setelah mereka mendengarnya satu kali saja. Sementara saya? Blank sama sekali soal begituan
Read more
[Stop Dreaming Start Action] Kapan Saat yang Tepat untuk MULAI Menulis?
Filed under: Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, Stop Dreaming Start Action, kiat sukses
Alkisah, ada seorang sahabat bernama A yang berkata kepada seorang penulis terkenal bernama B, “Saya ingin sekali jadi penulis hebat seperti Anda. Karena itu, saya akan menulis. Saya akan membuat tulisan yang menggemparkan dunia penulisan di jagat raya ini. Saya akan menjadi penulis yang jauh lebih ngetop dibanding Anda!”
Sepuluh tahun kemudian, Si A dan si B bertemu lagi. Si B bertanya, “Halo A, apakah cita-cita kamu untuk menjadi penulis hebat sudah tercapai? Sudah berapa ratus tulisan yang kamu hasilkan?”
“Saya belum membuat satu tulisan pun. Tapi saya masih bercita-cita menjadi penulis hebat, lebih hebat dari Anda. Tunggu saja, ya!”
Dua puluh tahun kemudian, si A dan si B bertemu lagi. Si A masih menjadi “penulis wanna be” karena dia belum membuat satu tulisan pun! Read more
“Maaf, Saya Sibuk. Tak Sempat Menulis!”
Empat hari belakangan ini, saya berhadapan dengan empat hal yang berkaitan dengan ucapan “Saya sibuk”.
Yang pertama:
Saya sedang menyiapkan sebuah buku tentang motivasi menulis. Di dalam buku tersebut, saya menulis sebuah bab tentang mitos “kesibukan”. Mohon doanya, semoga buku ini cepat kelar dan terbit di pasaran, ya
Yang kedua:
Tulisan Agung “Mbot” di blognya yang berjudul “Gue Terlalu Sibuk Buat Nulis”.
Yang Ketiga:
Tulisan Lalu Abdul Fatah berjudul “Jamal Terselip di Tulisan Ini. Mohon Selamatkan Dia!”, yang merupakan RESPONS terhadap tulisan Agung Mbot di atas.
Yang keempat:
Barus saja ada teman yang menyapa saya lewat Yahoo! Messenger. Dia berkata, “Saya ingin jadi penulis sukses, tapi kesibukan di kantor menghambat saya.” Read more
[Kiat Sukses] The Power of KONSISTEN
Filed under: Dunia Penulisan, Motivasi, Renungan, Sehari-hari, kiat sukses
Alkisah di tahun 1990-an, saya adalah seorang penulis pemula. Untuk belajar menulis dan organisasi, saya bergabung dengan dua pers kampus sekaligus. Seperti pers kampus pada umumnya, di dalamnya kita bisa menemukan banyak orang yang jago menulis. Para senior saya ketika itu, adalah orang-orang yang saya kagumi. Saya banyak belajar tentang dunia penulisan dari mereka.
Masih di tahun 1990-an, saya juga mulai rajin mengirim cerpen ke sejumlah media cetak, terutama majalah Anita Cemerlang. Saat itu, saya terus terang merasa sangat minder terhadap para penulis yang sudah sangat produktif dan nama mereka SERING menghiasi halaman cerpen majalah-majalah ternama. Bagaimana tidak minder: Saya masih sangat pemula, sedangkan mereka sudah jagoan semua. Read more









Blog ini sangat 









