When FANATIK meets TOLERANSI
Salah satu salah kaprah yang sangat kronis di dunia kita saat ini adalah: adanya anggapan bahwa FANATISME dan TOLERANSI merupakan dua musuh bebuyutan. Keduanya tak mungkin dipersatukan, tak mungkin seiring sejalan. Fanatik diartikan sebagai sebuah sikap “merasa paling benar dan tidak bisa menerima perbedaan”. Sedangkan toleransi adalah sebaliknya; “tidak merasa paling benar dan sangat akomodatif terhadap segala jenis perbedaan.” Fanatik dianggap sebagai sebuah sikap yang sangat tercela, sedangkan toleransi merupakan sikap yang sangat ideal di tengah keberagaman manusia di muka bumi ini.
Benarkah demikian? Read more
Fiksi Islami: Konseptual vs Industri
Tulisan ini terinspirasi oleh komentar mas Sakti Wibowo yang dimuat pada kata pengantar untuk novel “Dan Cinta pun Rukuk” karya Dhani Ardiansyah dan Lulu L Maknun. Berikut cuplikannya.
“…. Hampir seluruh penerbit fiksi Islam, di tahun 2007 ini mengeluh. Dunia penerbitan fiksi Islam sedang mengalami titik kejenuhan yang parah, oleh sebah ceruk kecil itu sekarang begitu sesak pemain. Penjualan fiksi Islam mengalami terjun bebas, dan begitu banyak judul yang jeblok di pasaran.
Penulis-penulis yang dulu berbondong-bondong menjadi penulis fiksi Islam, kini juga sudah mulai berbondong-bondong lagi menjadi penulis fiksi umum….”
Saya mencoba berbaik sangka terhadap mas Sakti Wibowo atas kutipan di atas. Saya yakin mas Sakti tentu punya pemahaman yang sangat luas mengenai konsep “fiksi Islam”. Tapi entah kenapa, saya merasa amat tergelitik membaca tulisan itu, dan akhirnya menggerakkan saya untuk menulis artikel ini. Read more
Tentang Jilbab dan Cerita Islami
Walau baru bergabung dengan FLP tahun 2004 lalu, sebenarnya saya sudah mengikuti perkembangan sastra Islami “ala FLP” sejak akhir tahun 90-an. Di kampus, ada beberapa teman yang rajin membaca majalah Annida, dan saya sering numpang baca. Ya, majalah Annida memegang peranan yang cukup penting dalam kelahiran dan kebangkitan FLP ketika itu.
Walau suka membaca cerpen-cerpen di Annida, saat itu sebenarnya saya sebel terhadap majalah ini. Motto yang diembannya adalah “seri kisah-kisah Islami”, tapi hampir semua cerpennya bercerita tentang perempuan yang awalnya tidak berjilbab, lalu mendapat hidayah kemudian berjilbab. Atau tentang perempuan yang memutuskan untuk berjilbab, lalu ditentang oleh keluarganya. Ia bahkan diusir dan tidak diakui lagi sebagai anak, atau tidak diperbolehkan masuk sekolah jika masih nekat mengenakan jilbab.
Saya pikir, apakah Islam itu hanya seputar jilbab? Tentu tidak, bukan? Tapi motto “seri kisah-kisah Islami” seolah-olah membenarkan asumsi bahwa Islam memang hanya seputar jilbab. Saya bahkan pernah kepikiran untuk mengusulkan pada redaktur majalah ini, agar mottonya diubah saja menjadi “seri kisah-kisah jilbab”. Read more
Bagaimana Jika Kamu Menjadi Spiderman?

Sebelum ajal menjemputnya, Uncle Ben mengucapkan sebuah kalimat yang amat berharga kepada keponakannya, Peter Parker alias Spiderman:
“Kekuatan yang besar pasti dibarengi oleh tanggung jawab yang besar pula.” (“With great power comes great responsibility.”)
Peter Parker amat terkesan oleh pesan ini. Ia pun mengamalkannya, menggunakan kekuatan supernya untuk berbuat baik, menolong orang-orang yang dianiaya dan dizalimi.
Kita tentu tak bisa menjadi Spiderman, karena ia hanyalah tokoh fiktif. Tapi setiap orang pasti memiliki keunggulan tertentu, termasuk keunggulan yang kita miliki secara otomatis, tanpa pernah kita minta. Kita tak pernah berusaha untuk mendapatkannya, tapi ia datang sendiri kepada kita, memberikan kita sebuah “kekuatan” yang luar biasa. Persis seperti yang dialami oleh Peter Parker.
Ya, kekuatan inilah yang kita kenal sebagai BAKAT ALAM. Read more









Jonru adalah:

