Writing is not my hobby. It’s a part of my lifestyle

Sekolah-Menulis OnlineWujudkan Mimpi Anda sebagai Penulis Hebat dengan Cara yang Juga Hebat!
Sekolah-Menulis Online (SMO)
Cara Modern Menjadi Penulis Hebat!

Semua kegiatan belajar berlangsung lewat internet. Anda tak perlu ke luar rumah, tak perlu meninggalkan aktivitas lain. Pendaftaran 24 Jam Nonstop. Investasi Bisa Dicicil. Info Selengkapnya >>>

 

04 May 2008, 08:23 am

Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam

Posted in Dunia Penulisan, Islam, Renungan, Sosial Budaya

NB: Sebelum membaca tulisan di bawah ini, ada baiknya Anda menyimak dulu latar belakang ceritanya di sini. Terima kasih :)

Update 20 Juni 2009:
Masalah pada tulisan ini sebenarnya sudah selesai sekitar satu tahun lalu. Berita detilnya bisa dibaca di sini.

* * *

Bagi Anda yang sudah membaca novel The Da Vinci Code, pasti familiar dengan seorang tokoh bernama Silas. Dia seorang albino, lugu, taat luar biasa pada jamaahnya (mungkin semacam taqlid buta), tapi ia tak sadar bahwa selama ini ia hanya diperalat oleh sebuah mafia kelas kakap. Dan dapat ditebak, tokoh-tokoh seperti Silas yang muncul di film atau novel, nasibnya selalu sama: mati mengenaskan di tangan orang yang selama ini memperalat dia.

Setelah membaca Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008, saya tiba-tiba merasa saya adalah seorang Silas!

Ya, saya memang tidak albino, tapi akan saya ceritakan sebuah fakta:

Nama Jonru selama ini lebih dikenal sebagai seorang penulis yang rajin menulis di blog. Tulisan saya pun lebih banyak nonfiksi, bukan fiksi alias sastra. Sejak beberapa tahun lalu, saya bahkan sudah bertekad untuk lebih serius di dunia penulisan nonfiksi ketimbang fiksi.

Apakah Jonru punya portofolio yang cukup meyakinkan di bidang sastra Islam dan sastra secara umum?

Ya, saya pernah menerbitkan sebuah novel remaja Islami berjudul “Cinta Tak Terlerai”, lantas sebuah Kumpulan Cerpen Islami berjudul “Cowok di Seberang Jendela”. Sebuah cerpen saya berjudul “Sebuah Kota Bernama Sepi” dimuat di Antologi Sastra Senja Depok, kerjasama antara Dewan Kesenian Jakarta dan Forum Lingkar Pena.

Saya juga beberapa kali menulis artikel tentang sastra Islam. Berikut beberapa di antaranya:

Apakah semua data di atas cukup meyakinkan untuk menempatkan Jonru sejajar dengan aktivis sastra Islam lainnya, seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El Shirazy atau Taufik Ismail?

Saya yakin Anda setuju. Jawabannya adalah: TIDAK!!!

Jonru belum selevel dengan nama-nama di atas. Jonru masih sangat jauh di bawah mereka. Terlebih karena:

  • Selama ini saya belum pernah sekalipun SECARA KHUSUS menjadi pembicara pada seminar atau workshop bertema sastra islam (entah dari mana asalnya, kok bisa-bisanya Koran Tempo menulis, “Penulis fiksi Islami yang kerap menjadi pembicara pada banyak diskusi bertema fiksi islami, Jonriah Ukur Ginting, atau yang lebih dikenal lewat nama penanya Jonru….” ANEH SEKALI!). Jika kiprah saya sebagai pembicara pada acara “Bedah Novel Laskar Pelangi” di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur tanggal 19 April 2008 lalu dianggap sebagai “pembicara pada seminar atau workshop bertema sastra Islam”, ya itu bolehlah disebut sebagai satu-satunya kiprah saya di bidang ini. Tapi kegiatan yang hanya SATU KALI ini tidak bisa disebut sebagai “kerap menjadi pembicara….”.
  • Kedua buku “islami” yang saya terbitkan di atas, boleh dikatakan gagal di pasaran. Hingga 3 tahun setelah terbit, jumlah yang terjual belum mencapai dua ribu eksemplar. Karena itu, tentu sangat wajar bila karya-karya saya tersebut belum pernah dilirik atau dibahas secara khusus oleh para pegiat dan pengamat sastra Tanah Air.

Singkat cerita: Jonru bukanlah seorang penulis yang kredibel di dunia sastra Islam dan sastra Indonesia secara umum. Bila seorang wartawan hendak menulis berita tentang sastra Islam, saya yakin bahwa dia - hingga saat tulisan ini disebut - belum akan kepikiran untuk menjadikan Jonru sebagai orang yang tepat untuk dijadikan nara sumber. Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Taufik Ismail, Habiburrahman El Shirazy, Maman S. Mahayana, adalah beberapa contoh nama yang paling tepat SAAT INI untuk berbicara tentang sastra Islam.

Dan bila si wartawan hendak mewawancarai tokoh yang berseberangan secara ideologi dengan Sastra Islam, maka orang yang paling tepat - antara lain - adalah Ayu Utami. BUKAN JONRU!

Pertanyaannya sekarang:

Kenapa nama Jonru - yang notabene bukan siapa-siapa di dunia sastra islam dan sastra Indonesia secara umum - digunakan oleh Koran Tempo untuk “melawan” Ayat Ayat Cinta dan sastra Islam? Dengan amat sombong,”Jonru” bahkan berkata bahwa karya sastra Islam itu tidak bermutu, kecuali karya Helvy, Asma Nadia, dan Kang Abik (nama akrab Habiburrahman El Shirazy).

Naudzubillahi min zalik! Sebuah fitnah yang amat kejam!!! Karena lewat “ucapan” tersebut, “Jonru” SECARA TELAK telah menafikan dan menyepelekan karya penulis-penulis FLP lainnya. “Jonru” telah menyepelekan Tasaro, Afifah Afra, Sakti Wibowo, Fahri Asiza, Gola Gong, Pipiet Senja, Boim Lebon, dan penulis-penulis top lainnya dari FLP.

Hm…. Siapakah “Jonru” ini, sehingga dia dengan amat sombongnya menyepelekan karya penulis-penulis top seperti itu?

Bahkan setelah menyanjung Kang Abik setinggi langit, dengan tetap sombong “Jonru” lantas menuding bahwa AAC pun - sayang sekali - telah tergelincir menjadi sebuah sebuah karya romantisme belaka!

Siapakah Jonru sehingga ia dianggap demikian BERHARGA oleh Koran Tempo? Demikian berharganyakah Jonru, sehingga nama dia diletakkan di bagian akhir, nama dia digunakan untuk menyerang dan menyepelekan karya para sastrawan Islam kelas kakap, yang levelnya sangat jauh di atas Jonru sendiri? Demikian berharganyakah Jonru sehingga Koran Tempo mati-matian, berusaha sekeras mungkin untuk memuat “wawancara enam bulan lalu” (wawancara yang sebenarnya tidak pernah ada), bahkan MUNGKIN mengutip komentar-komentar Jonru dari berbagai milis dan blog lalu ditulis ulang dengan kalimat versi mereka sendiri?

Demikian berharganyakah Jonru sehingga Koran Tempo harus berjuang sekeras itu untuk menghadirkan ucapan dan pendapat Jonru pada tulisan mereka mengenai Sastra Islam?

Walau bukan wartawan, saya pernah belajar jurnalistik, dan saya tahu bagaimana cara memengaruhi opini publik lewat tulisan. Pendapat tokoh yang diletakkan di bagian akhir biasanya adalah pendapat yang sejalan dengan misi/visi redaksi, pendapat yang merupakan kesimpulan atas semua pemaparan di bagian awal. Dan coba tebak: Pendapat Jonru diletakkan di BAGIAN AKHIR dari tulisan berjudul “Karena Fiksi Bukan Kutbah Jumat” tersebut.

O la la…. Fakta ini dengan amat meyakinkan menunjukkan satu bukti:

Koran Tempo telah memberikan kehormatan yang amat luar biasa kepada Jonru, kehormatan berupa kesempatan untuk melawan para dedengkot sastra Islam, kesempatan untuk memberikan kesimpulan akhir bagi sebuah diskusi panjang mengenai Sastra Islam.

Padahal oh padahal… (ini sebuah analisis dalam konteks jurnalistik):
Dari fakta objektif yang saya uraikan di atas, Jonru sebenarnya bukan nama yang pantas untuk melakukan penyerangan atau perlawanan seperti itu. Jonru bukan siapa-siapa di dunia sastra Islam dan sastra Indonesia secara umum. Jonru sama sekali TIDAK LEVEL untuk melawan penulis sekaliber Habiburrahman El Shirazy, Gola Gong, Pipiet Senja, dan seterusnya. Jonru sama sekali TIDAK LEVEL untuk menyerang Sastra Islam!

Maka semakin jelaslah sekarang. Tema “Merebaknya Sastra Islam” pada Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008 dengan amat sangat jelas menunjukkan sikap koran yang satu ini dalam menyuarakan aspirasi mereka. Dan saya - Jonru - saat ini memiliki nasib yang lebih kurang sama seperti tokoh Silas pada novel The Da Vinci Code. Yang dilakukan oleh Koran Tempo bukanlah sebuah upaya untuk mengangkat harkat dan derajat saya, bukanlah upaya untuk menyanjung saya, bukan upaya untuk mendukung perjuangan saya selama ini. Tapi pemuatan “hantu Jonru” di Koran Tempo hanyalah karena mereka beranggapan bahwa saya adalah orang yang paling masuk akal untuk dikorbankan!

Singkat cerita:
Koran Tempo SEPERTINYA sedang membuat sebuah skenario besar untuk melawan sastra Islam. Untuk itu, mereka membutuhkan ucapan seorang tokoh yang akan melakukan penyerangan secara langsung. Mereka mungkin mempertimbangkan nama Ayu Utami atau Sapardi Joko Damono atau nama-nama sastrawan lain yang selama ini berseberangan secara aliran dan ideologi dengan Sastra Islam.

Tapi secara jurnalistik, isu “Ayu Utami menyerang Sastra Islam” (misalnya) sama sekali tidak menarik.

Karena itu, Koran Tempo mungkin mencoba mencari jalan yang lebih “cerdik”. Maka profil seperti berikut ini tentu amat menarik bagi mereka:

Seorang penulis yang selama ini sering berkomentar kritis seputar karya-karya Sastra Islam, kebetulan dia adalah ORANG DALAM Forum Lingkar Pena (sebuah organisasi penulis yang giat memperjuangkan keberadaan sastra Islam), dan ia berpotensi besar untuk diperlakukan seperti tokoh Silas pada novel The Da Vinci Code.

“Hm… ini adalah tokoh yang paling tepat untuk kita manfaatkan dalam menyerang Sastra Islam. Ayo lakukan! Tentu SANGAT MENARIK bila Sastra Islam diserang oleh sesama pegiat Sastra Islam sendiri. INI BARU BERITA!!!”

Jadi demikianlah saudara-saudara sekalian, cara Koran Tempo dalam menyerang sastra Islam. Saya yakin bahwa Koran Tempo adalah media yang sangat profesional dan sangat rapi dalam menerapkan asas-asas jurnalistik. Jadi, kasus “Hantu Jonru di Koran Tempo” tersebut bukanlah urusan teknis semata. Itu bukan semata-mata salah kutip, bukan semata-mata kekhilafan seorang wartawan yang bersifat manusiawi. Dari uraian saya di atas, saya yakin Anda sudah bisa melihat bahwa kasus ini sebenarnya merupakan representasi dari sebuah pertarungan ideologis antara Sastra Islam melawan sastra selangkangan, sastra pluralis, dan kawan-kawannya.

Bila Anda tidak percaya, lihatlah cover depan Ruang Baca edisi April tersebut. Di sana dengan amat jelas, ditulis dengan huruf yang sangat besar, tertulis sebagai berikut:

Merebaknya Fiksi Islam

Bersemi pada awal 2000, berpuncak pada terbitnya Ayat-Ayat Cinta dan banjir novel bertema serupa. Mereka terus tumbuh tapi miskin kualitas.

Hm… sebuah vonis yang sangat tegas. Sebuah vonis yang ditulis langsung secara verbal oleh redaktur Koran Tempo. Padahal menurut etika jurnalistik yang berlaku, melakukan vonis dengan cara seperti itu sangat tidak diperkenankan di dalam menulis sebuah berita.

Bahkan hal yang sangat lucu:

Habiburrahman El Shirazy - menurut pengakuan dia ketika kami bertemu di Banda Aceh tanggal 27 April 2008 lalu - bahkan sama sekali tidak diwawancarai untuk keperluan tulisan di Ruang Baca tersebut. Padahal karya dia adalah salah satu ISU UTAMA yang dibahas. Bahkan, cover Ruang Baca tersebut pun mirip dengan cover novel Ayat-Ayat Cinta. “Dari segi jurnalistik, ini sebenarnya sudah cacat,” ujar beliau.

Dan satu hal yang PALING LUCU:

Orang yang mereka manfaatkan untuk menyerang Sastra Islam justru adalah seseorang bernama Jonru yang sebenarnya sangat tidak kredibel untuk berbicara mengenai Sastra Islam dan Sastra secara umum.

Jadi mereka telah menempatkan seorang tokoh yang ‘SEHARUSNYA TIDAK ADA DI SANA’ karena dia belum pantas berada di sana.

Hm, dapatkah Anda bayangkan sekarang, bagaimana naif dan lucunya Koran Tempo itu?

* * *

Oke! Lantas bagaimana pendapat saya mengenai Sastra Islam?

Sebagian teman berkata, mungkin Koran Tempo mengutip komentar atau tulisan saya yang tersebar di berbagai blog atau milis, lalu mereka menulisnya ulang dengan kalimat mereka sendiri.

Ya, hal itu bisa saja terjadi. Namun bila faktanya memang seperti itu, perlu saya jelaskan bahwa apa yang ditulis oleh Koran Tempo tersebut merupakan sebuah kesalahan persepsi mereka atas isi tulisan dan/atau komentar saya. Mohon maaf, saya tak akan berbicara panjang lebar mengenai hal ini. Saya tidak bersedia untuk repot-repot menjelaskan sikap dan pandangan saya yang sebenarnya mengenai Sastra Islam. Bila Anda penasaran, ingin tahu, silahkan baca tulisan-tulisan yang saya link di atas. Itu merupakan jawaban yang SUDAH SANGAT JELAS.

* * *

Alhamdulillah… saya termasuk orang yang selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian, termasuk kejadian paling buruk sekalipun. Peristiwa “Hantu Jonru di Koran Tempo” ini membuat saya sadar, bahwa mulai sekarang saya harus lebih hati-hati dalam berkata dan berbuat. Saya juga bahagia, karena Kang Abik sebagai orang yang “diserang oleh Hantu Jonru” justru menjadi orang pertama yang mendukung dan menghibur saya. Dengan amat bijaksana dia justru membakar semangat saya untuk merapatkan barisan, tetap konsisten untuk berdakwah lewat pena, memperjuangkan keberadaan dan perkembangan Sastra Islam di muka bumi ini. Allahu Akbar!!!

Saya terharu oleh sikap Kang Abik, dan itu membuat saya yakin bahwa saya tak akan mati secara mengenaskan seperti tokoh Silas. Mungkin selama ini saya terlalu lugu, terlalu blak-blakan dan kurang peka terhadap hal-hal yang berbau politik beserta seluruh intrik-intriknya. Karena itu, Insya Allah kejadian ini merupakan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi saya. Saya akan berusaha keras untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara saya dalam berbicara di depan publik. Saya yakin, karakter Silas yang paling goblok sekalipun pasti bisa belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Alhamdulillah… amiin ya rabbal alamiin…

Cilangkap, 4 Mei 2008

Jonru

NB: Kepada saudara-saudaraku sesama pegiat Sastra Islam, termasuk teman-teman di Forum Lingkar Pena: Jangan gentar sedikit pun oleh serangan yang membabi buta dari Koran Tempo atau media manapun. Tak perlu merasa minder, tak perlu kecewa. Balaslah serangan mereka dengan membuat karya-karya sastra Islam yang berkualitas. Biarkan fakta yang berbicara. Dan yakinlah bahwa kita berada di pihak yang benar. Allahu Akbar!!!


Ingin ngobrol bareng Jonru mengenai Penulisan, Blog Writing,
Web Copy, atau Jurnalistik? Klik DI SINI :)

47 Responses to “Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam”

  1. 1
    Muhammad Zen Said: @ 04 May 2008 09:06 am 

    Mas Jonru saya ikut prihatin.
    Ini ujian dari Allah SWT dan semua ada hikmahnya.
    Ibarat pohon,semakin tinggi memang semakin kencang angin yang menerpa.

    Salam dari Kota Apel Malang
    Muhammad Zen

  2. 2
    Putra Said: @ 04 May 2008 09:16 am 

    Sudah melakukan hak jawab belum? ato mensomasi mungkin? kalau belum, sayang sekali… tulisan anda ini nyatanya tidak jauh berbeda dengan wartawan tempo yang anda caci itu. Menulis sebuah berita, tanpa CROSSCHECK!

    Atau memang sengaja mencari perhatian? Entahlah..

  3. 3
    dina Said: @ 04 May 2008 09:25 am 

    wah mas jonru, tetep sabar dan semangatttt!!! kita semua yg ‘mengenal’ mas jonru dgn baik melalui milis maupun tulisan2 mas tau betul kok mas jonru sbg seorang pejuang sastra islami…

  4. 4
    jonru Said: @ 04 May 2008 09:39 am 

    Buat Putra:
    Coba anda klik link yang saya letakkan pada bagian teratas tulisan ini. COba anda simak lagi tulisan ini secara cermat.
    Anda akan menemukan jawaban atas pertanyaan anda di sana

    Buat Dina dan Pak Zen.. terima kasih banyak ya…

    thanks

    Jonru

  5. 5
    Saidul Idrus Said: @ 04 May 2008 10:26 am 

    Assallamuallaikum Wr Wb

    Alloh masih cinta sama mas Jonru buktinya masih ada musibah yang menimpa, dan kapasitasnya apakah,ujian,peringatan atau ajab.
    Mas Jonru sendirilah yang tahu.

    Mudah-mudahan merupakan ladang pahala jika mampu bersikap sabar dan bijaksana.

    Wassallamuallaikum Wr Wb

    Salam dari ujung aspal ~ pondok gede

  6. 6
    Latip Said: @ 04 May 2008 11:53 am 

    Mas aku sering ngikuti Tulisan Mas…yang sabar ya..
    Ini mungkin cobaan Allah ,dan yang bisa melawan adalah Doa dan Tawakal aja

  7. 7
    John Adi Said: @ 04 May 2008 12:09 pm 

    Wah Komentnya Bung Putra itu kayaknya miring banget ya…jangan jangan….
    Begitulah Mas Jonru…Namanya Media Massa …Giliran dia Menginjak Orang dengan segala kelihaiannya berkelit dengan Berikrar ” ATAS NAMA KEBEBASAN PERS DAN JURNALISTIK ” dengan tanpa Konfirmasi…Bablas saja dia memberitakan hal hal yang seharusnya di kofirmasi akan kebenarannya.
    Namun giliran dia terinjak walah walah…reaksinya luar biasa
    Salam

  8. 8
    kang samin Said: @ 04 May 2008 12:13 pm 

    Wah…gimana ya…

  9. 9
    Mas Amin Said: @ 04 May 2008 12:18 pm 

    Pembelajaran buat kita semua nih

  10. 10
    Nadiah Alwi Said: @ 04 May 2008 02:03 pm 

    Alhamdulillah… saya termasuk orang yang selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian, termasuk kejadian paling buruk sekalipun.

    ———————————————

    Insya Allah dengan prinsip Mas Jonru di atas, urusan ini akan membawa kebaikan bukan hanya untuk Mas Jonru tapi untuk Sastra Islami. Amin.

  11. 11
    Mimin Said: @ 04 May 2008 02:09 pm 

    Kesabaran selalu dituntut untuk meraih kesuksesan…
    Dibalik musibah ada keuntungan besar di sana, bila kita mampu memanage masalah itu…

    Pak Jonru..
    Ucapkan Hasbiyallah wanikmal wakiil..
    Tak usah berbuat sesuatu biar saja Alalh yang berbuat, nanti kalau kita berbuat sesuatu mungkin sudah sebatas itu dan tangan Allah SWT tak bermain lagi, tapi bila Allah SWT balas, akan lebih sakit dari pada kita yang balas..

  12. 12
    farid rifai Said: @ 04 May 2008 02:28 pm 

    semoga pengalaman bang jonru ini, menjadi batu loncatan untuk kebangkitan sastra islam…dan sepertinya saat ini, sudah saatnya orang islam memiliki media yang bisa menyaingi tempo dkk…

  13. 13
    teguh city view Said: @ 04 May 2008 08:01 pm 

    Bangkitnya satra Islamy memang membuat jantung sekian banyak pihak yang benci dan sekaligus iri, berdegup dengan cepat! Hatta sebuah skenario canggih yang disusun untuk mem plot seorang penulis antah berantah menjadi pahlawan (baca ulasan 3 kali muat di Republika tentang fakta dibalik konspirasi intelektual mengangkat sebuah karya tertentu), “tunggang langgang” dibawah kesuksesan “Ayat-Ayat Cinta” atau “Laskar Pelangi”. (Sorry, bagi saya, hakikat muatan “Laskar Pelangi” boleh digolongkan sastra Islamy). Sastra selangkangan, silakan putuss dan gigit jari! Jadi, wajar bila mata jadi gelap, pikiran jadi kalap. Maka, sebuah konspirasi besar memang membutuhkan skenario besar pula, dan sungguh bukan tanpa sebab bila Allah, Sang Maha pembuat Makar dan Rencana, memilih bung Jonru yang menanggungnya.
    Tapi tak apa, saudaraku. Kasih Allah memang sering datang dalam bentuk yang tak terduga, bahkan pada hal-hal yang sekilas tampak menyakitkan sekalipun. Tapi dibalik itu semua,yakinlah (dan ini bukan pemikiran dogmatis, tapi teruji dalam jutaan kasus!) akan tersemai hasil-hasil positif bagi antum.

  14. 14
    jonru Said: @ 04 May 2008 08:37 pm 

    Teman-teman semua, terima kasih banyak ya, atas tanggapannya.

    Khusus buat Pak Teguh:
    Saya juga setuju sekali bahwa Laskar Pelangi pun termasuk sastra Islam. Saya pernah menulis mengenai hal ini di sejumlah milis penulisan.
    Seorang teman saya - Denny Prabowo - pernah mengemukakan beda sastra islam dengan sastra islami:

    - sastra islam adalah karya sastra yang ditulis oleh penulis muslim, dan isinya mengusung nilai-nilai islam

    - sastra islami bisa saja ditulis oleh penulis muslim atau penulis nonmuslim, dan isinya sesuai dengan nilai-nilai Islam

    Nah, dari definisi di atas, saya berpendapat bahwa Laskar Pelangi termasuk Sastra Islam, bukan sekadar Sastra Islami.

  15. 15
    ahmad rojiki Said: @ 04 May 2008 10:35 pm 

    “…Mungkin selama ini saya terlalu lugu, terlalu blak-blakan dan kurang peka terhadap hal-hal yang berbau politik beserta seluruh intrik-intriknya…”
    saya sangat setuju dengan pernyataan ini mas.saya pun mengalaminya walau dalam skala yang lebih kecil dan personal,ya silang pemikiran dan beda pendapat dengan teman,tetangga etc.
    misalnya,saya dengan lugu berkeyakinan sekaligus berpendapat bahwa bisnis itu harus jujur,tetapi oleh tetangga[pebisnis],teman[karyawan pabrik],dan sepupu,dikatakan bahwa kalau jujur maka kita akan hancur,rugi,gak dapat untung.mereka seperti itu karena melihat kenyataan,fakta di lapangan,ya kebanyakan seperti itu,walau tak semua.
    padahal kan ‘fakta bukan berarti itu sebuah kebenaran’?
    akhirnya saya berpikir,apakah saya terlalu lugu atau menafikan kenyataan yang sebenarnya?apa saya kurang peka?mungkin iya.
    btw,membaca tulisan bapak ini,membuat saya sadar,bahwa saya memang harus lebih peka dan melakukan kompromi2 dengan ‘keyakina’2 yang ada disekitar saya,agar saya tidak ‘punah’seperti dinosaurus.
    maaf bila menyimpang dari ide awal penulisan.
    keep on writes!

  16. 16
    Ardian Perdana Putra Said: @ 05 May 2008 08:33 am 

    Turut berduka cita dengan fitnah tersebut….

  17. 17
    Muhammad Fuady Said: @ 05 May 2008 08:51 am 

    Saya dukung Mas Jonru..
    Semoga ad hikmah dibalik musibah ini..

  18. 18
    NOer Said: @ 05 May 2008 09:31 am 

    tulisannya jangan kebanyakan warna mas…, susah bacanya. (menurut saya) penggunaan warna sebaiknya untuk memisahkan mana komentar anda dan mana komentar lawan bicara anda, sehingga isi dari tulisan anda lebih mudah untuk dipahami. biar bacanya gak mubeng2 gitu loh. mengenai isi, no comment aja yah.

    tetap & terus berkarya aja mas…

  19. 19
    Kembara Said: @ 05 May 2008 09:48 am 

    “Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat,
    Ya Allah lembutkan, satu padukan hati orang-orang muslimin,
    Perbaikilah keadaan mereka,
    Tolonglah kaum muslimin utuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka

    Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,
    Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka,
    Hancur leburkan kekuatan mereka,
    Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

    Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
    Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

  20. 20
    harry Said: @ 05 May 2008 11:24 am 

    Memang kadang media punya agendanya sendiri, jadi kita memang harus selalu waspada.

    Terimakasih banyak untuk dukungan & perjuangan mas Jonru untuk sastra Islam. InsyaAllah barokah.

  21. 21
    Awan Said: @ 05 May 2008 12:20 pm 

    Assalamu’alaikum wr wb.

    Bang, mendingan nulis surat langsung ke Koran Temponya. Kadang yang bermasalah bukan korannya, tapi si jurnalisnya yang lagi males nyari2 sumber data valid. ekstrimnya, kemudian malah dia karang2 sendiri.

    Complain aja ke koran temponya, biar si jurnalisnya ini ditindak tegas. Kecuali kalo ternyata emang korannya yang bermasalah.

    Wassalamu’alaikum wr wb.

  22. 22
    jonru Said: @ 05 May 2008 01:03 pm 

    Buat Awan:
    Waalaikumsalam
    Coba anda baca lagi tulisan di atas secara teliti deh.
    Apakah saya sudah atau belum mengirim surat langsung ke Koran Tempo? Jawabannya ada di sana

    thanks

    Jonru

  23. 23
    Elfarid Said: @ 05 May 2008 01:15 pm 

    Saya kira masalah sudah selesai.
    Yakinlah para pembaca Koran Tempo adalah segmen terpelajar yang bisa memilah berita. Bila ada kesalahan manusiawi pastilah karena juga tuntutan manusiawi juga bagi jurnalis yang selalu stres dikejar tenggat waktu. Sekali waktu kurang cermat wajar saja, semoga tidak terulang lagi.
    Koran Tempo pun pasti tidak ingin reputasi yang sudah susah payah dibangunnya menjadi tercoreng. Saya juga yakin Bang Jonru mempunyai limpahan permaafan.
    Mengapa tidak saling islah saja.

    Salam,

    Penjaga Sanggar Mepet Sawah

    http://elfarid.multiply.com
    http://www.sanggarmewah.uni.cc
    http://www.sanggarmewah.co.cc

  24. 24
    unai Said: @ 05 May 2008 02:18 pm 

    sabar mas Jonru…saya yakin mas dapat mengambil hikmahnya. Saling memaafkan saja, mas

  25. 25
    arik Said: @ 05 May 2008 04:53 pm 

    Pantang surut demi kebenaran Bang!
    Semoga diberikan kekuatan hati!
    Amin

  26. 26
    Oma Aning Harmanto Said: @ 05 May 2008 10:14 pm 

    Pak guru Jonru,

    Sabar itu subur. Diam itu emas. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk langkah-langkah anda selanjutnya.
    Amin.

  27. 27
    poetra Said: @ 06 May 2008 04:13 am 

    Sabar aja bang Jonru, saya yakin pembaca sekarang ini sudah lebih pintar dan mengerti. Memang media-media besar belakangan ini banyak sekali salah kutip, atau bahkan tidak mengutip sama sekali, seperti kasus abang. Dibagian struktur organisasi yang mana yang salah, entahlah.

    Tetap berjuang, tetap menulis dan jangan patah semangat bang. Jadikan introspeksi diri aja. Insya Allah barokah.

    :)

  28. 28
    Wuryanano Said: @ 06 May 2008 04:20 pm 

    Santai aja mas Jonru, gitu aja sih nggak usah terlalu dipikirin…biasalah.

    Mungkin anda sudah saatnya naik level kehidupan kali :)

    Salam dari Surabaya,
    Wuryanano

  29. 29
    Deni Nursani Said: @ 09 May 2008 06:25 pm 

    Sepertinya sejarah harus berulang. Dahulu, Manives Kebudayaan (salah seorang di antaranya Taufiq Ismail) dihajar oleh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat)-nya milik PKI (salah seorang di antaranya Pramudya). Kini, Sastra Islami dihajar oleh Sastra Selangkangan.
    Bagiku, MAJU TERUS SASTRA ISLAMI (dan sastra Moralis lainnya)!
    ALLOHU AKBAR!!!

    Salamku dari kota perjuangan,
    Bandung.

  30. 30
    Arif Said: @ 09 May 2008 07:37 pm 

    Promosi gratis, Bang.

  31. 31
    Bahur Said: @ 14 May 2008 04:06 pm 

    Seperti Bang Jonru Bilang menikmati Duka Lara…..
    Biasa lah bang orang besar kan selalu namanya dicatut.

    Sukses Selalu Bang, amiin.

  32. 32
    yulinava Said: @ 19 May 2008 06:50 pm 

    Hmm, kalo nggak baca tulisan kang Jonru ini, pasti saya juga sudah berpikir yang tidak-tidak tentang opini kang Jonru yang di Tempo.

  33. 33
    AKKBB Organisasi Liar, Kopdar Dengan Fertob 15 Juni di Monas | MohArifWidarto.com Pinged With: @ 11 Jun 2008 11:52 am 

    [...] tidak, karena ada Gunawan Mohamad di sana. Tokoh sekuler itu tidak dapat dipisahkan dari Tempo yang dianggap menyerang sastra Islam oleh [...]

  34. 34
    ThubagusTijar Said: @ 13 Jun 2008 08:59 am 

    Kang Jonru,
    Saya dukung moral buat Akang agar tabah.
    Darah saya jadi mendidih ingin menelurkan karya berhaluan islami daripada ber-isme selangkangan.

    Ini jadi catatan bagi kawan2 di FLP dan komunitas penulis-lepas untuk lebih giat menghajar kawan-kawan sekuler dengan dakwah fiksi.Dengdian karya.

    Bravo buat Kang ABik yang sukses dengan novel2-nya dan filmnya.

    Lumayan Kang, batu ujian dari Allah mengetes kadar kapasitas Akang. Saya yakin sekarang pun akang sudah menjadi orang besar di kalangan sastra Islam. Minimal dalam hati, niat, dan perbuatan yang terasa oleh kawan-kawan semua.

    Insya Allah,
    Maju Terus Sastra Islam
    Allahu Akbar!

    Terima kasih banyak Pak, atas dukungannya

    Jonru

  35. 35
    Man Said: @ 21 Jun 2008 01:17 pm 

    Sebenarnya kita semua harus waspada, Orang-orang TEMPO berhaluan SERKULER, coba saja baca OPINI yang ada di Majalah TEMPO, semuanya selalu menyerang Islam, mulai dari pemberlakukan Perda Syariat di beberapa daerah, yang selalu dikomentari sinis dan nada miring oleh mereka, sampai sekarang Masalah Ahmadiyah, yang juga dibela habis-habisan dengan mengatasnamakan kebebasan beragama dan Pancasila, walaupun dengan menginjak-injak Agama Islam yang sah dan Benar dan diterima diseluruh Dunia, tapi apabila ada pemurtatan terhadap pemeluk Agama Islam yang sah yang dilakukan oleh agama tertentu dengan berbagai cara, coba kita lihat apa ada TEMPO bersuara, ya ngak ada cuek aja, jadi kita harus waspada terhadap orang-orang SEKULER yang ada dilevel Pimpinan di TEMPO, karena dengan kekuatan medianya merek sekarang bisa bersuara apa saja, nah termasuk dengan masalah diatas. jadi sabar ya Bro, terus maju demi kejayaan Islam Amiin.

  36. 36
    kang benny Said: @ 21 Jul 2008 06:20 pm 

    Nggak usah kaget kang Jonru

    Sudah saat nya penulis islam kini bermain dengan cantik. Bila pihak lain berupaya untuk memutar balikan fakta dengan kekuatan pena mereka( media). Maka bukan berarti hanya karena pena kita masih terbuat dari bulu ayam, lantas kita menyerah terpojok, hanya bisa berkeok-keok.

    Mari buat semua, saat nya kita angkat pena kita untuk berkokok!

    Berdiri tegak di atas gelombang!!!

  37. 37
    Rozi Kembara Said: @ 01 Sep 2008 02:56 pm 

    SALAM HANGAT BUAT PAK JONRU….

    SEMOGA ADA HIKMAH YANG DAPAT KITA AMBIL DARI KEJADIAN YANG MENIMPA PAK JONRU. DAN INI JUGA MEMBERI SAYA PELAJARAN BAHWA PERS ADALAH BAGIAN URGENT YANG JANGAN DISALAH GUNAKAN DEMI KEPENTINGAN BEBERAPA GELINTIR ORANG…SEBAB AKIBATNYA FATAL.

    (pak kapan main ke RUMAH DUNIA lagi???)

  38. 38
    wahyu aves Said: @ 25 Dec 2008 01:43 am 

    biarlah karya kita yang bicara

  39. 39
    dodo Said: @ 12 Jan 2009 01:44 am 

    saya mengecam bentuk tindakan fitnah seperti ini. ini bukan hanya melanggar kode etik tapi juga membuat pertemanan mas jonru dengan yang lainnya bisa rusak. untung saja mereka bijak dan lebih percaya dengan mas jonru.
    semoga media manapun dan tempo khususnya tidak mengulangi lagi mengenai hal ini.
    tapi ada sedikit hal yang saya setuju pada tulisan tempo itu. saya seorang muslim dan penikmat novel. saya pikir memang harus di tingkatkan lagi kualitasnya.
    sorry nih kang abik dan flpnya saya sendiri masih bingung kenapa novel ayat2 cinta bisa jadi best seller atau megabest seller atau ultrabest seler atau apalah itu. masih banyak typos, contoh birthday masa jadi birdday (hari burung ?) lalu tokohnya terlalu perfeksionis seperti tidak pernah khilaf seperti manusia. ga real. terlalu di buat2 dengan mendakwah, menasihati dengan kutipan2 Alquran yang panjang lebar di sebuah kereta yang tidak ada orang yang akrab sama sekali (aneh ga sih ?)
    terlalu cengeng, seharusnya menangis bs jadi dramatis, tapi kok di AAC orang2nya dikit2 nangis, dikit2 nangis. kalo menangis pada tempatnya sih gpp malah menambah nilai novelnya tapi ini, hal2 remeh ga penting aja cowok dewasa 25-30 tahun nangis mulu ? misal pas pindahan ngeliat kamar nangis, di novel itu ada puluhan kata menitikan air mata, matanya basah berulang2 setiap berapa halaman sekali untuk kejadian2 yg harusnya ga nangis.
    sekian kritik membangun saya. akhir kata memang novel2 islami harus di tingkatkan kualitasnya. karena saya juga butuh bacaan islami yang berkualitas. thx

  40. 40
    dodo Said: @ 12 Jan 2009 01:46 am 

    oh ya, saya memuji filmnya aac yang membumikan novelnya yang terlalu lebay. buat mas jonru sebaiknya minta tempo membuat permintaan maaf tertulis di korannya lagi.

  41. 41
    Jat Said: @ 27 Jan 2009 03:47 pm 

    tulisan yang bagus
    tapi kayaknya mbak helvi tiana rosa dan asma nadia dari Forum Lingkar Pena ga terpengaruh tuh sama tulisan mas jonru. buktinya bulan agustus lalu malah Tempo memberi penghargaan kepada Forum Lingkar Pena dengan Award tentang Pemberdayaan. malah mbak helvi, asma nadia, dan kang abik sempat hadir di acara tsb di tengah2 kesibukan mereka, bahkan profil FLP juga diangkat di Majalah Tempo.

  42. 42
    Erensdh Said: @ 31 Jan 2009 07:31 pm 

    Thomas Alfa Edison pernah ribuan kali mengalami kegagalan sebelum akhirnya dia menemukan penemuan besar yang bermanfaat bagi miliaran orang pada semua benua, semua bangsa dan semua agama.
    Dia menjadi MATAHARI bagi semua manusia tanpa batas. Kesuksesannya itu adalah buah dari kegagalan yang sebenarnya adalah bukti dari eksistensi semangat hidupnya. Andaikata dia membenci berbagai kritikan (baca berbagai kegagalannya) maka bisa jadi dia telah mengakhiri hidupnya karena putus asa serta sakit hati.
    Mungkin cukup berbeda dari bangsa kita yang alergi dengan kritikan yang selalu diterjemahkan sebagai arti mutlak dari dan sebagai bukti permusuhan, kebencian, antipati dan sebagainya. Akhirnya kita tetap kerdil dalam benteng emas kita.
    Lamat-lamat saya masih mendengar dari kejauhan..”Pujian adalah awal malapetaka…Kritikan adalah bukti perhatian dan cinta…”
    mungkin saja ini semu..
    Wassalam
    erensdh.

  43. 43
    Suster Gila Said: @ 03 Apr 2009 03:06 am 

    Gagal 10 kali berarti telah menemukan 10 cara yang salah .
    Coba jika cara kesebelas adalah cara yang benar? Maka anda tinggal satu langkah lagi.
    Tetap semangat.

    Http://suster-gila.blogspot.com

  44. 44
    faizoi Said: @ 28 Apr 2009 04:22 pm 

    semangaaat membangun peradaban islam

  45. 45
    taufan aditia Said: @ 19 Jun 2009 06:38 pm 

    kalo menurut saya, kenapa tidak melakukan hak jawab belum? ato mensomasi.. karena, jika ini memang terjadi, mungkin sudah banyak tulisan jurnalistik yg didasari oleh opini wartawan. ini kan bisa menyesatkan, kenapa anda tidak melawannya, memang, dengan membuat bantahan seperti ini, anda bisa melakukan konfirmasi kepada orang2 yang dekat atau mengenal anda, tapi, untuk orang yg tidak mengenal anda tau membuka blog anda, anda akan tetap menjadi johru yg menyepelekan.. anda akan teteap menjadi silas… dan masyarakat akan tetap mengenal anda sebagai silas…

    atau apakah tulisan ini hanya merupakan bantahan 1 pihak dari anda. sebagai orang awam, saya akan berfikir bahwa tulisan yg dibuat oleh wartawan tempo itu benar dan tulisan yg anda buat ini hanya merupakan upaya membela diri agar tidak mendapatkan cemoohan dari senior, atau agar anda tidak kehilangan keanggotaan dan kredibilitas dari Forum Lingkar Pena..

  46. 46
    Jonru Said: @ 19 Jun 2009 09:05 pm 

    @taufan: sudah disomasi kok bos
    Dan masalah pada tulisan ini sudah selesai SETAHUN LALU.
    Info selengkapnya klik di sini :)

  47. 47
    taufan aditia aristianto Said: @ 21 Jun 2009 12:35 am 

    iya, maaf.. lupa lihat tanggal..

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Leave a comment