Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam

May 4, 2008
Filed under: Dunia Penulisan, Islam, Renungan 

NB: Sebelum membaca tulisan di bawah ini, ada baiknya Anda menyimak dulu latar belakang ceritanya di sini. Terima kasih :)

Update 20 Juni 2009:
Masalah pada tulisan ini sebenarnya sudah selesai sekitar satu tahun lalu. Berita detilnya bisa dibaca di sini.

* * *

Bagi Anda yang sudah membaca novel The Da Vinci Code, pasti familiar dengan seorang tokoh bernama Silas. Dia seorang albino, lugu, taat luar biasa pada jamaahnya (mungkin semacam taqlid buta), tapi ia tak sadar bahwa selama ini ia hanya diperalat oleh sebuah mafia kelas kakap. Dan dapat ditebak, tokoh-tokoh seperti Silas yang muncul di film atau novel, nasibnya selalu sama: mati mengenaskan di tangan orang yang selama ini memperalat dia.

Setelah membaca Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008, saya tiba-tiba merasa saya adalah seorang Silas!

Ya, saya memang tidak albino, tapi akan saya ceritakan sebuah fakta:

Nama Jonru selama ini lebih dikenal sebagai seorang penulis yang rajin menulis di blog. Tulisan saya pun lebih banyak nonfiksi, bukan fiksi alias sastra. Sejak beberapa tahun lalu, saya bahkan sudah bertekad untuk lebih serius di dunia penulisan nonfiksi ketimbang fiksi.

Apakah Jonru punya portofolio yang cukup meyakinkan di bidang sastra Islam dan sastra secara umum?

Ya, saya pernah menerbitkan sebuah novel remaja Islami berjudul “Cinta Tak Terlerai”, lantas sebuah Kumpulan Cerpen Islami berjudul “Cowok di Seberang Jendela”. Sebuah cerpen saya berjudul “Sebuah Kota Bernama Sepi” dimuat di Antologi Sastra Senja Depok, kerjasama antara Dewan Kesenian Jakarta dan Forum Lingkar Pena.

Saya juga beberapa kali menulis artikel tentang sastra Islam. Berikut beberapa di antaranya:

Apakah semua data di atas cukup meyakinkan untuk menempatkan Jonru sejajar dengan aktivis sastra Islam lainnya, seperti Asma Nadia, Helvy Tiana Rosa, Habiburrahman El Shirazy atau Taufik Ismail?

Saya yakin Anda setuju. Jawabannya adalah: TIDAK!!!

Jonru belum selevel dengan nama-nama di atas. Jonru masih sangat jauh di bawah mereka. Terlebih karena:

  • Selama ini saya belum pernah sekalipun SECARA KHUSUS menjadi pembicara pada seminar atau workshop bertema sastra islam (entah dari mana asalnya, kok bisa-bisanya Koran Tempo menulis, “Penulis fiksi Islami yang kerap menjadi pembicara pada banyak diskusi bertema fiksi islami, Jonriah Ukur Ginting, atau yang lebih dikenal lewat nama penanya Jonru….” ANEH SEKALI!). Jika kiprah saya sebagai pembicara pada acara “Bedah Novel Laskar Pelangi” di Lubang Buaya, Pondok Gede, Jakarta Timur tanggal 19 April 2008 lalu dianggap sebagai “pembicara pada seminar atau workshop bertema sastra Islam”, ya itu bolehlah disebut sebagai satu-satunya kiprah saya di bidang ini. Tapi kegiatan yang hanya SATU KALI ini tidak bisa disebut sebagai “kerap menjadi pembicara….”.
  • Kedua buku “islami” yang saya terbitkan di atas, boleh dikatakan gagal di pasaran. Hingga 3 tahun setelah terbit, jumlah yang terjual belum mencapai dua ribu eksemplar. Karena itu, tentu sangat wajar bila karya-karya saya tersebut belum pernah dilirik atau dibahas secara khusus oleh para pegiat dan pengamat sastra Tanah Air.

Singkat cerita: Jonru bukanlah seorang penulis yang kredibel di dunia sastra Islam dan sastra Indonesia secara umum. Bila seorang wartawan hendak menulis berita tentang sastra Islam, saya yakin bahwa dia – hingga saat tulisan ini disebut – belum akan kepikiran untuk menjadikan Jonru sebagai orang yang tepat untuk dijadikan nara sumber. Helvy Tiana Rosa, Asma Nadia, Taufik Ismail, Habiburrahman El Shirazy, Maman S. Mahayana, adalah beberapa contoh nama yang paling tepat SAAT INI untuk berbicara tentang sastra Islam.

Dan bila si wartawan hendak mewawancarai tokoh yang berseberangan secara ideologi dengan Sastra Islam, maka orang yang paling tepat – antara lain – adalah Ayu Utami. BUKAN JONRU!

Pertanyaannya sekarang:

Kenapa nama Jonru – yang notabene bukan siapa-siapa di dunia sastra islam dan sastra Indonesia secara umum – digunakan oleh Koran Tempo untuk “melawan” Ayat Ayat Cinta dan sastra Islam? Dengan amat sombong,”Jonru” bahkan berkata bahwa karya sastra Islam itu tidak bermutu, kecuali karya Helvy, Asma Nadia, dan Kang Abik (nama akrab Habiburrahman El Shirazy).

Naudzubillahi min zalik! Sebuah fitnah yang amat kejam!!! Karena lewat “ucapan” tersebut, “Jonru” SECARA TELAK telah menafikan dan menyepelekan karya penulis-penulis FLP lainnya. “Jonru” telah menyepelekan Tasaro, Afifah Afra, Sakti Wibowo, Fahri Asiza, Gola Gong, Pipiet Senja, Boim Lebon, dan penulis-penulis top lainnya dari FLP.

Hm…. Siapakah “Jonru” ini, sehingga dia dengan amat sombongnya menyepelekan karya penulis-penulis top seperti itu?

Bahkan setelah menyanjung Kang Abik setinggi langit, dengan tetap sombong “Jonru” lantas menuding bahwa AAC pun – sayang sekali – telah tergelincir menjadi sebuah sebuah karya romantisme belaka!

Siapakah Jonru sehingga ia dianggap demikian BERHARGA oleh Koran Tempo? Demikian berharganyakah Jonru, sehingga nama dia diletakkan di bagian akhir, nama dia digunakan untuk menyerang dan menyepelekan karya para sastrawan Islam kelas kakap, yang levelnya sangat jauh di atas Jonru sendiri? Demikian berharganyakah Jonru sehingga Koran Tempo mati-matian, berusaha sekeras mungkin untuk memuat “wawancara enam bulan lalu” (wawancara yang sebenarnya tidak pernah ada), bahkan MUNGKIN mengutip komentar-komentar Jonru dari berbagai milis dan blog lalu ditulis ulang dengan kalimat versi mereka sendiri?

Demikian berharganyakah Jonru sehingga Koran Tempo harus berjuang sekeras itu untuk menghadirkan ucapan dan pendapat Jonru pada tulisan mereka mengenai Sastra Islam?

Walau bukan wartawan, saya pernah belajar jurnalistik, dan saya tahu bagaimana cara memengaruhi opini publik lewat tulisan. Pendapat tokoh yang diletakkan di bagian akhir biasanya adalah pendapat yang sejalan dengan misi/visi redaksi, pendapat yang merupakan kesimpulan atas semua pemaparan di bagian awal. Dan coba tebak: Pendapat Jonru diletakkan di BAGIAN AKHIR dari tulisan berjudul “Karena Fiksi Bukan Kutbah Jumat” tersebut.

O la la…. Fakta ini dengan amat meyakinkan menunjukkan satu bukti:

Koran Tempo telah memberikan kehormatan yang amat luar biasa kepada Jonru, kehormatan berupa kesempatan untuk melawan para dedengkot sastra Islam, kesempatan untuk memberikan kesimpulan akhir bagi sebuah diskusi panjang mengenai Sastra Islam.

Padahal oh padahal… (ini sebuah analisis dalam konteks jurnalistik):
Dari fakta objektif yang saya uraikan di atas, Jonru sebenarnya bukan nama yang pantas untuk melakukan penyerangan atau perlawanan seperti itu. Jonru bukan siapa-siapa di dunia sastra Islam dan sastra Indonesia secara umum. Jonru sama sekali TIDAK LEVEL untuk melawan penulis sekaliber Habiburrahman El Shirazy, Gola Gong, Pipiet Senja, dan seterusnya. Jonru sama sekali TIDAK LEVEL untuk menyerang Sastra Islam!

Maka semakin jelaslah sekarang. Tema “Merebaknya Sastra Islam” pada Ruang Baca Koran Tempo edisi April 2008 dengan amat sangat jelas menunjukkan sikap koran yang satu ini dalam menyuarakan aspirasi mereka. Dan saya – Jonru – saat ini memiliki nasib yang lebih kurang sama seperti tokoh Silas pada novel The Da Vinci Code. Yang dilakukan oleh Koran Tempo bukanlah sebuah upaya untuk mengangkat harkat dan derajat saya, bukanlah upaya untuk menyanjung saya, bukan upaya untuk mendukung perjuangan saya selama ini. Tapi pemuatan “hantu Jonru” di Koran Tempo hanyalah karena mereka beranggapan bahwa saya adalah orang yang paling masuk akal untuk dikorbankan!

Singkat cerita:
Koran Tempo SEPERTINYA sedang membuat sebuah skenario besar untuk melawan sastra Islam. Untuk itu, mereka membutuhkan ucapan seorang tokoh yang akan melakukan penyerangan secara langsung. Mereka mungkin mempertimbangkan nama Ayu Utami atau Sapardi Joko Damono atau nama-nama sastrawan lain yang selama ini berseberangan secara aliran dan ideologi dengan Sastra Islam.

Tapi secara jurnalistik, isu “Ayu Utami menyerang Sastra Islam” (misalnya) sama sekali tidak menarik.

Karena itu, Koran Tempo mungkin mencoba mencari jalan yang lebih “cerdik”. Maka profil seperti berikut ini tentu amat menarik bagi mereka:

Seorang penulis yang selama ini sering berkomentar kritis seputar karya-karya Sastra Islam, kebetulan dia adalah ORANG DALAM Forum Lingkar Pena (sebuah organisasi penulis yang giat memperjuangkan keberadaan sastra Islam), dan ia berpotensi besar untuk diperlakukan seperti tokoh Silas pada novel The Da Vinci Code.

“Hm… ini adalah tokoh yang paling tepat untuk kita manfaatkan dalam menyerang Sastra Islam. Ayo lakukan! Tentu SANGAT MENARIK bila Sastra Islam diserang oleh sesama pegiat Sastra Islam sendiri. INI BARU BERITA!!!”

Jadi demikianlah saudara-saudara sekalian, cara Koran Tempo dalam menyerang sastra Islam. Saya yakin bahwa Koran Tempo adalah media yang sangat profesional dan sangat rapi dalam menerapkan asas-asas jurnalistik. Jadi, kasus “Hantu Jonru di Koran Tempo” tersebut bukanlah urusan teknis semata. Itu bukan semata-mata salah kutip, bukan semata-mata kekhilafan seorang wartawan yang bersifat manusiawi. Dari uraian saya di atas, saya yakin Anda sudah bisa melihat bahwa kasus ini sebenarnya merupakan representasi dari sebuah pertarungan ideologis antara Sastra Islam melawan sastra selangkangan, sastra pluralis, dan kawan-kawannya.

Bila Anda tidak percaya, lihatlah cover depan Ruang Baca edisi April tersebut. Di sana dengan amat jelas, ditulis dengan huruf yang sangat besar, tertulis sebagai berikut:

Merebaknya Fiksi Islam

Bersemi pada awal 2000, berpuncak pada terbitnya Ayat-Ayat Cinta dan banjir novel bertema serupa. Mereka terus tumbuh tapi miskin kualitas.

Hm… sebuah vonis yang sangat tegas. Sebuah vonis yang ditulis langsung secara verbal oleh redaktur Koran Tempo. Padahal menurut etika jurnalistik yang berlaku, melakukan vonis dengan cara seperti itu sangat tidak diperkenankan di dalam menulis sebuah berita.

Bahkan hal yang sangat lucu:

Habiburrahman El Shirazy – menurut pengakuan dia ketika kami bertemu di Banda Aceh tanggal 27 April 2008 lalu – bahkan sama sekali tidak diwawancarai untuk keperluan tulisan di Ruang Baca tersebut. Padahal karya dia adalah salah satu ISU UTAMA yang dibahas. Bahkan, cover Ruang Baca tersebut pun mirip dengan cover novel Ayat-Ayat Cinta. “Dari segi jurnalistik, ini sebenarnya sudah cacat,” ujar beliau.

Dan satu hal yang PALING LUCU:

Orang yang mereka manfaatkan untuk menyerang Sastra Islam justru adalah seseorang bernama Jonru yang sebenarnya sangat tidak kredibel untuk berbicara mengenai Sastra Islam dan Sastra secara umum.

Jadi mereka telah menempatkan seorang tokoh yang ‘SEHARUSNYA TIDAK ADA DI SANA’ karena dia belum pantas berada di sana.

Hm, dapatkah Anda bayangkan sekarang, bagaimana naif dan lucunya Koran Tempo itu?

* * *

Oke! Lantas bagaimana pendapat saya mengenai Sastra Islam?

Sebagian teman berkata, mungkin Koran Tempo mengutip komentar atau tulisan saya yang tersebar di berbagai blog atau milis, lalu mereka menulisnya ulang dengan kalimat mereka sendiri.

Ya, hal itu bisa saja terjadi. Namun bila faktanya memang seperti itu, perlu saya jelaskan bahwa apa yang ditulis oleh Koran Tempo tersebut merupakan sebuah kesalahan persepsi mereka atas isi tulisan dan/atau komentar saya. Mohon maaf, saya tak akan berbicara panjang lebar mengenai hal ini. Saya tidak bersedia untuk repot-repot menjelaskan sikap dan pandangan saya yang sebenarnya mengenai Sastra Islam. Bila Anda penasaran, ingin tahu, silahkan baca tulisan-tulisan yang saya link di atas. Itu merupakan jawaban yang SUDAH SANGAT JELAS.

* * *

Alhamdulillah… saya termasuk orang yang selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian, termasuk kejadian paling buruk sekalipun. Peristiwa “Hantu Jonru di Koran Tempo” ini membuat saya sadar, bahwa mulai sekarang saya harus lebih hati-hati dalam berkata dan berbuat. Saya juga bahagia, karena Kang Abik sebagai orang yang “diserang oleh Hantu Jonru” justru menjadi orang pertama yang mendukung dan menghibur saya. Dengan amat bijaksana dia justru membakar semangat saya untuk merapatkan barisan, tetap konsisten untuk berdakwah lewat pena, memperjuangkan keberadaan dan perkembangan Sastra Islam di muka bumi ini. Allahu Akbar!!!

Saya terharu oleh sikap Kang Abik, dan itu membuat saya yakin bahwa saya tak akan mati secara mengenaskan seperti tokoh Silas. Mungkin selama ini saya terlalu lugu, terlalu blak-blakan dan kurang peka terhadap hal-hal yang berbau politik beserta seluruh intrik-intriknya. Karena itu, Insya Allah kejadian ini merupakan sebuah pelajaran yang amat berharga bagi saya. Saya akan berusaha keras untuk memperbaiki diri, memperbaiki cara saya dalam berbicara di depan publik. Saya yakin, karakter Silas yang paling goblok sekalipun pasti bisa belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya.

Alhamdulillah… amiin ya rabbal alamiin…

Cilangkap, 4 Mei 2008

Jonru

NB: Kepada saudara-saudaraku sesama pegiat Sastra Islam, termasuk teman-teman di Forum Lingkar Pena: Jangan gentar sedikit pun oleh serangan yang membabi buta dari Koran Tempo atau media manapun. Tak perlu merasa minder, tak perlu kecewa. Balaslah serangan mereka dengan membuat karya-karya sastra Islam yang berkualitas. Biarkan fakta yang berbicara. Dan yakinlah bahwa kita berada di pihak yang benar. Allahu Akbar!!!

Baca Artikel Terkait:

Comments

65 Comments on Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam

  1. Muhammad Zen on Sun, 4th May 2008 9:06
  2. Mas Jonru saya ikut prihatin.
    Ini ujian dari Allah SWT dan semua ada hikmahnya.
    Ibarat pohon,semakin tinggi memang semakin kencang angin yang menerpa.

    Salam dari Kota Apel Malang
    Muhammad Zen

  3. Putra on Sun, 4th May 2008 9:16
  4. Sudah melakukan hak jawab belum? ato mensomasi mungkin? kalau belum, sayang sekali… tulisan anda ini nyatanya tidak jauh berbeda dengan wartawan tempo yang anda caci itu. Menulis sebuah berita, tanpa CROSSCHECK!

    Atau memang sengaja mencari perhatian? Entahlah..

  5. dina on Sun, 4th May 2008 9:25
  6. wah mas jonru, tetep sabar dan semangatttt!!! kita semua yg ‘mengenal’ mas jonru dgn baik melalui milis maupun tulisan2 mas tau betul kok mas jonru sbg seorang pejuang sastra islami…

  7. jonru on Sun, 4th May 2008 9:39
  8. Buat Putra:
    Coba anda klik link yang saya letakkan pada bagian teratas tulisan ini. COba anda simak lagi tulisan ini secara cermat.
    Anda akan menemukan jawaban atas pertanyaan anda di sana

    Buat Dina dan Pak Zen.. terima kasih banyak ya…

    thanks

    Jonru

  9. Saidul Idrus on Sun, 4th May 2008 10:26
  10. Assallamuallaikum Wr Wb

    Alloh masih cinta sama mas Jonru buktinya masih ada musibah yang menimpa, dan kapasitasnya apakah,ujian,peringatan atau ajab.
    Mas Jonru sendirilah yang tahu.

    Mudah-mudahan merupakan ladang pahala jika mampu bersikap sabar dan bijaksana.

    Wassallamuallaikum Wr Wb

    Salam dari ujung aspal ~ pondok gede

  11. Latip on Sun, 4th May 2008 11:53
  12. Mas aku sering ngikuti Tulisan Mas…yang sabar ya..
    Ini mungkin cobaan Allah ,dan yang bisa melawan adalah Doa dan Tawakal aja

  13. John Adi on Sun, 4th May 2008 12:09
  14. Wah Komentnya Bung Putra itu kayaknya miring banget ya…jangan jangan….
    Begitulah Mas Jonru…Namanya Media Massa …Giliran dia Menginjak Orang dengan segala kelihaiannya berkelit dengan Berikrar ” ATAS NAMA KEBEBASAN PERS DAN JURNALISTIK ” dengan tanpa Konfirmasi…Bablas saja dia memberitakan hal hal yang seharusnya di kofirmasi akan kebenarannya.
    Namun giliran dia terinjak walah walah…reaksinya luar biasa
    Salam

  15. kang samin on Sun, 4th May 2008 12:13
  16. Wah…gimana ya…

  17. Mas Amin on Sun, 4th May 2008 12:18
  18. Pembelajaran buat kita semua nih

  19. Nadiah Alwi on Sun, 4th May 2008 14:03
  20. Alhamdulillah… saya termasuk orang yang selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian, termasuk kejadian paling buruk sekalipun.

    ———————————————

    Insya Allah dengan prinsip Mas Jonru di atas, urusan ini akan membawa kebaikan bukan hanya untuk Mas Jonru tapi untuk Sastra Islami. Amin.

  21. Mimin on Sun, 4th May 2008 14:09
  22. Kesabaran selalu dituntut untuk meraih kesuksesan…
    Dibalik musibah ada keuntungan besar di sana, bila kita mampu memanage masalah itu…

    Pak Jonru..
    Ucapkan Hasbiyallah wanikmal wakiil..
    Tak usah berbuat sesuatu biar saja Alalh yang berbuat, nanti kalau kita berbuat sesuatu mungkin sudah sebatas itu dan tangan Allah SWT tak bermain lagi, tapi bila Allah SWT balas, akan lebih sakit dari pada kita yang balas..

  23. farid rifai on Sun, 4th May 2008 14:28
  24. semoga pengalaman bang jonru ini, menjadi batu loncatan untuk kebangkitan sastra islam…dan sepertinya saat ini, sudah saatnya orang islam memiliki media yang bisa menyaingi tempo dkk…

  25. teguh city view on Sun, 4th May 2008 20:01
  26. Bangkitnya satra Islamy memang membuat jantung sekian banyak pihak yang benci dan sekaligus iri, berdegup dengan cepat! Hatta sebuah skenario canggih yang disusun untuk mem plot seorang penulis antah berantah menjadi pahlawan (baca ulasan 3 kali muat di Republika tentang fakta dibalik konspirasi intelektual mengangkat sebuah karya tertentu), “tunggang langgang” dibawah kesuksesan “Ayat-Ayat Cinta” atau “Laskar Pelangi”. (Sorry, bagi saya, hakikat muatan “Laskar Pelangi” boleh digolongkan sastra Islamy). Sastra selangkangan, silakan putuss dan gigit jari! Jadi, wajar bila mata jadi gelap, pikiran jadi kalap. Maka, sebuah konspirasi besar memang membutuhkan skenario besar pula, dan sungguh bukan tanpa sebab bila Allah, Sang Maha pembuat Makar dan Rencana, memilih bung Jonru yang menanggungnya.
    Tapi tak apa, saudaraku. Kasih Allah memang sering datang dalam bentuk yang tak terduga, bahkan pada hal-hal yang sekilas tampak menyakitkan sekalipun. Tapi dibalik itu semua,yakinlah (dan ini bukan pemikiran dogmatis, tapi teruji dalam jutaan kasus!) akan tersemai hasil-hasil positif bagi antum.

  27. jonru on Sun, 4th May 2008 20:37
  28. Teman-teman semua, terima kasih banyak ya, atas tanggapannya.

    Khusus buat Pak Teguh:
    Saya juga setuju sekali bahwa Laskar Pelangi pun termasuk sastra Islam. Saya pernah menulis mengenai hal ini di sejumlah milis penulisan.
    Seorang teman saya – Denny Prabowo – pernah mengemukakan beda sastra islam dengan sastra islami:

    - sastra islam adalah karya sastra yang ditulis oleh penulis muslim, dan isinya mengusung nilai-nilai islam

    - sastra islami bisa saja ditulis oleh penulis muslim atau penulis nonmuslim, dan isinya sesuai dengan nilai-nilai Islam

    Nah, dari definisi di atas, saya berpendapat bahwa Laskar Pelangi termasuk Sastra Islam, bukan sekadar Sastra Islami.

  29. ahmad rojiki on Sun, 4th May 2008 22:35
  30. “…Mungkin selama ini saya terlalu lugu, terlalu blak-blakan dan kurang peka terhadap hal-hal yang berbau politik beserta seluruh intrik-intriknya…”
    saya sangat setuju dengan pernyataan ini mas.saya pun mengalaminya walau dalam skala yang lebih kecil dan personal,ya silang pemikiran dan beda pendapat dengan teman,tetangga etc.
    misalnya,saya dengan lugu berkeyakinan sekaligus berpendapat bahwa bisnis itu harus jujur,tetapi oleh tetangga[pebisnis],teman[karyawan pabrik],dan sepupu,dikatakan bahwa kalau jujur maka kita akan hancur,rugi,gak dapat untung.mereka seperti itu karena melihat kenyataan,fakta di lapangan,ya kebanyakan seperti itu,walau tak semua.
    padahal kan ‘fakta bukan berarti itu sebuah kebenaran’?
    akhirnya saya berpikir,apakah saya terlalu lugu atau menafikan kenyataan yang sebenarnya?apa saya kurang peka?mungkin iya.
    btw,membaca tulisan bapak ini,membuat saya sadar,bahwa saya memang harus lebih peka dan melakukan kompromi2 dengan ‘keyakina’2 yang ada disekitar saya,agar saya tidak ‘punah’seperti dinosaurus.
    maaf bila menyimpang dari ide awal penulisan.
    keep on writes!

  31. Ardian Perdana Putra on Mon, 5th May 2008 8:33
  32. Turut berduka cita dengan fitnah tersebut….

  33. Muhammad Fuady on Mon, 5th May 2008 8:51
  34. Saya dukung Mas Jonru..
    Semoga ad hikmah dibalik musibah ini..

  35. NOer on Mon, 5th May 2008 9:31
  36. tulisannya jangan kebanyakan warna mas…, susah bacanya. (menurut saya) penggunaan warna sebaiknya untuk memisahkan mana komentar anda dan mana komentar lawan bicara anda, sehingga isi dari tulisan anda lebih mudah untuk dipahami. biar bacanya gak mubeng2 gitu loh. mengenai isi, no comment aja yah.

    tetap & terus berkarya aja mas…

  37. Kembara on Mon, 5th May 2008 9:48
  38. “Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat,
    Ya Allah lembutkan, satu padukan hati orang-orang muslimin,
    Perbaikilah keadaan mereka,
    Tolonglah kaum muslimin utuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka

    Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,
    Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka,
    Hancur leburkan kekuatan mereka,
    Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa

    Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
    Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”

  39. harry on Mon, 5th May 2008 11:24
  40. Memang kadang media punya agendanya sendiri, jadi kita memang harus selalu waspada.

    Terimakasih banyak untuk dukungan & perjuangan mas Jonru untuk sastra Islam. InsyaAllah barokah.

  41. Awan on Mon, 5th May 2008 12:20
  42. Assalamu’alaikum wr wb.

    Bang, mendingan nulis surat langsung ke Koran Temponya. Kadang yang bermasalah bukan korannya, tapi si jurnalisnya yang lagi males nyari2 sumber data valid. ekstrimnya, kemudian malah dia karang2 sendiri.

    Complain aja ke koran temponya, biar si jurnalisnya ini ditindak tegas. Kecuali kalo ternyata emang korannya yang bermasalah.

    Wassalamu’alaikum wr wb.

  43. jonru on Mon, 5th May 2008 13:03
  44. Buat Awan:
    Waalaikumsalam
    Coba anda baca lagi tulisan di atas secara teliti deh.
    Apakah saya sudah atau belum mengirim surat langsung ke Koran Tempo? Jawabannya ada di sana

    thanks

    Jonru

  45. Elfarid on Mon, 5th May 2008 13:15
  46. Saya kira masalah sudah selesai.
    Yakinlah para pembaca Koran Tempo adalah segmen terpelajar yang bisa memilah berita. Bila ada kesalahan manusiawi pastilah karena juga tuntutan manusiawi juga bagi jurnalis yang selalu stres dikejar tenggat waktu. Sekali waktu kurang cermat wajar saja, semoga tidak terulang lagi.
    Koran Tempo pun pasti tidak ingin reputasi yang sudah susah payah dibangunnya menjadi tercoreng. Saya juga yakin Bang Jonru mempunyai limpahan permaafan.
    Mengapa tidak saling islah saja.

    Salam,

    Penjaga Sanggar Mepet Sawah

    http://elfarid.multiply.com
    http://www.sanggarmewah.uni.cc
    http://www.sanggarmewah.co.cc

  47. unai on Mon, 5th May 2008 14:18
  48. sabar mas Jonru…saya yakin mas dapat mengambil hikmahnya. Saling memaafkan saja, mas

  49. arik on Mon, 5th May 2008 16:53
  50. Pantang surut demi kebenaran Bang!
    Semoga diberikan kekuatan hati!
    Amin

  51. Oma Aning Harmanto on Mon, 5th May 2008 22:14
  52. Pak guru Jonru,

    Sabar itu subur. Diam itu emas. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk langkah-langkah anda selanjutnya.
    Amin.

  53. poetra on Tue, 6th May 2008 4:13
  54. Sabar aja bang Jonru, saya yakin pembaca sekarang ini sudah lebih pintar dan mengerti. Memang media-media besar belakangan ini banyak sekali salah kutip, atau bahkan tidak mengutip sama sekali, seperti kasus abang. Dibagian struktur organisasi yang mana yang salah, entahlah.

    Tetap berjuang, tetap menulis dan jangan patah semangat bang. Jadikan introspeksi diri aja. Insya Allah barokah.

    :)

  55. Wuryanano on Tue, 6th May 2008 16:20
  56. Santai aja mas Jonru, gitu aja sih nggak usah terlalu dipikirin…biasalah.

    Mungkin anda sudah saatnya naik level kehidupan kali :)

    Salam dari Surabaya,
    Wuryanano

  57. Deni Nursani on Fri, 9th May 2008 18:25
  58. Sepertinya sejarah harus berulang. Dahulu, Manives Kebudayaan (salah seorang di antaranya Taufiq Ismail) dihajar oleh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat)-nya milik PKI (salah seorang di antaranya Pramudya). Kini, Sastra Islami dihajar oleh Sastra Selangkangan.
    Bagiku, MAJU TERUS SASTRA ISLAMI (dan sastra Moralis lainnya)!
    ALLOHU AKBAR!!!

    Salamku dari kota perjuangan,
    Bandung.

  59. Arif on Fri, 9th May 2008 19:37
  60. Promosi gratis, Bang.

  61. Bahur on Wed, 14th May 2008 16:06
  62. Seperti Bang Jonru Bilang menikmati Duka Lara…..
    Biasa lah bang orang besar kan selalu namanya dicatut.

    Sukses Selalu Bang, amiin.

  63. yulinava on Mon, 19th May 2008 18:50
  64. Hmm, kalo nggak baca tulisan kang Jonru ini, pasti saya juga sudah berpikir yang tidak-tidak tentang opini kang Jonru yang di Tempo.

    [...] tidak, karena ada Gunawan Mohamad di sana. Tokoh sekuler itu tidak dapat dipisahkan dari Tempo yang dianggap menyerang sastra Islam oleh [...]

  65. ThubagusTijar on Fri, 13th Jun 2008 8:59
  66. Kang Jonru,
    Saya dukung moral buat Akang agar tabah.
    Darah saya jadi mendidih ingin menelurkan karya berhaluan islami daripada ber-isme selangkangan.

    Ini jadi catatan bagi kawan2 di FLP dan komunitas penulis-lepas untuk lebih giat menghajar kawan-kawan sekuler dengan dakwah fiksi.Dengdian karya.

    Bravo buat Kang ABik yang sukses dengan novel2-nya dan filmnya.

    Lumayan Kang, batu ujian dari Allah mengetes kadar kapasitas Akang. Saya yakin sekarang pun akang sudah menjadi orang besar di kalangan sastra Islam. Minimal dalam hati, niat, dan perbuatan yang terasa oleh kawan-kawan semua.

    Insya Allah,
    Maju Terus Sastra Islam
    Allahu Akbar!

    Terima kasih banyak Pak, atas dukungannya

    Jonru

  67. Man on Sat, 21st Jun 2008 13:17
  68. Sebenarnya kita semua harus waspada, Orang-orang TEMPO berhaluan SERKULER, coba saja baca OPINI yang ada di Majalah TEMPO, semuanya selalu menyerang Islam, mulai dari pemberlakukan Perda Syariat di beberapa daerah, yang selalu dikomentari sinis dan nada miring oleh mereka, sampai sekarang Masalah Ahmadiyah, yang juga dibela habis-habisan dengan mengatasnamakan kebebasan beragama dan Pancasila, walaupun dengan menginjak-injak Agama Islam yang sah dan Benar dan diterima diseluruh Dunia, tapi apabila ada pemurtatan terhadap pemeluk Agama Islam yang sah yang dilakukan oleh agama tertentu dengan berbagai cara, coba kita lihat apa ada TEMPO bersuara, ya ngak ada cuek aja, jadi kita harus waspada terhadap orang-orang SEKULER yang ada dilevel Pimpinan di TEMPO, karena dengan kekuatan medianya merek sekarang bisa bersuara apa saja, nah termasuk dengan masalah diatas. jadi sabar ya Bro, terus maju demi kejayaan Islam Amiin.

  69. kang benny on Mon, 21st Jul 2008 18:20
  70. Nggak usah kaget kang Jonru

    Sudah saat nya penulis islam kini bermain dengan cantik. Bila pihak lain berupaya untuk memutar balikan fakta dengan kekuatan pena mereka( media). Maka bukan berarti hanya karena pena kita masih terbuat dari bulu ayam, lantas kita menyerah terpojok, hanya bisa berkeok-keok.

    Mari buat semua, saat nya kita angkat pena kita untuk berkokok!

    Berdiri tegak di atas gelombang!!!

  71. Rozi Kembara on Mon, 1st Sep 2008 14:56
  72. SALAM HANGAT BUAT PAK JONRU….

    SEMOGA ADA HIKMAH YANG DAPAT KITA AMBIL DARI KEJADIAN YANG MENIMPA PAK JONRU. DAN INI JUGA MEMBERI SAYA PELAJARAN BAHWA PERS ADALAH BAGIAN URGENT YANG JANGAN DISALAH GUNAKAN DEMI KEPENTINGAN BEBERAPA GELINTIR ORANG…SEBAB AKIBATNYA FATAL.

    (pak kapan main ke RUMAH DUNIA lagi???)

  73. wahyu aves on Thu, 25th Dec 2008 1:43
  74. biarlah karya kita yang bicara

  75. dodo on Mon, 12th Jan 2009 1:44
  76. saya mengecam bentuk tindakan fitnah seperti ini. ini bukan hanya melanggar kode etik tapi juga membuat pertemanan mas jonru dengan yang lainnya bisa rusak. untung saja mereka bijak dan lebih percaya dengan mas jonru.
    semoga media manapun dan tempo khususnya tidak mengulangi lagi mengenai hal ini.
    tapi ada sedikit hal yang saya setuju pada tulisan tempo itu. saya seorang muslim dan penikmat novel. saya pikir memang harus di tingkatkan lagi kualitasnya.
    sorry nih kang abik dan flpnya saya sendiri masih bingung kenapa novel ayat2 cinta bisa jadi best seller atau megabest seller atau ultrabest seler atau apalah itu. masih banyak typos, contoh birthday masa jadi birdday (hari burung ?) lalu tokohnya terlalu perfeksionis seperti tidak pernah khilaf seperti manusia. ga real. terlalu di buat2 dengan mendakwah, menasihati dengan kutipan2 Alquran yang panjang lebar di sebuah kereta yang tidak ada orang yang akrab sama sekali (aneh ga sih ?)
    terlalu cengeng, seharusnya menangis bs jadi dramatis, tapi kok di AAC orang2nya dikit2 nangis, dikit2 nangis. kalo menangis pada tempatnya sih gpp malah menambah nilai novelnya tapi ini, hal2 remeh ga penting aja cowok dewasa 25-30 tahun nangis mulu ? misal pas pindahan ngeliat kamar nangis, di novel itu ada puluhan kata menitikan air mata, matanya basah berulang2 setiap berapa halaman sekali untuk kejadian2 yg harusnya ga nangis.
    sekian kritik membangun saya. akhir kata memang novel2 islami harus di tingkatkan kualitasnya. karena saya juga butuh bacaan islami yang berkualitas. thx

  77. dodo on Mon, 12th Jan 2009 1:46
  78. oh ya, saya memuji filmnya aac yang membumikan novelnya yang terlalu lebay. buat mas jonru sebaiknya minta tempo membuat permintaan maaf tertulis di korannya lagi.

  79. Jat on Tue, 27th Jan 2009 15:47
  80. tulisan yang bagus
    tapi kayaknya mbak helvi tiana rosa dan asma nadia dari Forum Lingkar Pena ga terpengaruh tuh sama tulisan mas jonru. buktinya bulan agustus lalu malah Tempo memberi penghargaan kepada Forum Lingkar Pena dengan Award tentang Pemberdayaan. malah mbak helvi, asma nadia, dan kang abik sempat hadir di acara tsb di tengah2 kesibukan mereka, bahkan profil FLP juga diangkat di Majalah Tempo.

  81. Erensdh on Sat, 31st Jan 2009 19:31
  82. Thomas Alfa Edison pernah ribuan kali mengalami kegagalan sebelum akhirnya dia menemukan penemuan besar yang bermanfaat bagi miliaran orang pada semua benua, semua bangsa dan semua agama.
    Dia menjadi MATAHARI bagi semua manusia tanpa batas. Kesuksesannya itu adalah buah dari kegagalan yang sebenarnya adalah bukti dari eksistensi semangat hidupnya. Andaikata dia membenci berbagai kritikan (baca berbagai kegagalannya) maka bisa jadi dia telah mengakhiri hidupnya karena putus asa serta sakit hati.
    Mungkin cukup berbeda dari bangsa kita yang alergi dengan kritikan yang selalu diterjemahkan sebagai arti mutlak dari dan sebagai bukti permusuhan, kebencian, antipati dan sebagainya. Akhirnya kita tetap kerdil dalam benteng emas kita.
    Lamat-lamat saya masih mendengar dari kejauhan..”Pujian adalah awal malapetaka…Kritikan adalah bukti perhatian dan cinta…”
    mungkin saja ini semu..
    Wassalam
    erensdh.

  83. Suster Gila on Fri, 3rd Apr 2009 3:06
  84. Gagal 10 kali berarti telah menemukan 10 cara yang salah .
    Coba jika cara kesebelas adalah cara yang benar? Maka anda tinggal satu langkah lagi.
    Tetap semangat.

    http://suster-gila.blogspot.com

  85. faizoi on Tue, 28th Apr 2009 16:22
  86. semangaaat membangun peradaban islam

  87. taufan aditia on Fri, 19th Jun 2009 18:38
  88. kalo menurut saya, kenapa tidak melakukan hak jawab belum? ato mensomasi.. karena, jika ini memang terjadi, mungkin sudah banyak tulisan jurnalistik yg didasari oleh opini wartawan. ini kan bisa menyesatkan, kenapa anda tidak melawannya, memang, dengan membuat bantahan seperti ini, anda bisa melakukan konfirmasi kepada orang2 yang dekat atau mengenal anda, tapi, untuk orang yg tidak mengenal anda tau membuka blog anda, anda akan tetap menjadi johru yg menyepelekan.. anda akan teteap menjadi silas… dan masyarakat akan tetap mengenal anda sebagai silas…

    atau apakah tulisan ini hanya merupakan bantahan 1 pihak dari anda. sebagai orang awam, saya akan berfikir bahwa tulisan yg dibuat oleh wartawan tempo itu benar dan tulisan yg anda buat ini hanya merupakan upaya membela diri agar tidak mendapatkan cemoohan dari senior, atau agar anda tidak kehilangan keanggotaan dan kredibilitas dari Forum Lingkar Pena..

  89. Jonru on Fri, 19th Jun 2009 21:05
  90. @taufan: sudah disomasi kok bos
    Dan masalah pada tulisan ini sudah selesai SETAHUN LALU.
    Info selengkapnya klik di sini :)

  91. taufan aditia aristianto on Sun, 21st Jun 2009 0:35
  92. iya, maaf.. lupa lihat tanggal..

  93. Sidik on Fri, 7th Aug 2009 21:10
  94. Cari sensasi aja u

  95. erdogan on Wed, 19th Aug 2009 8:13
  96. alhamdulillah bang jonru masih ada yang mengingatkan, semoga Alloh SWT menambahkan ilmu bagi abang, membimbing dan mengantarkan pada kesuksesan jalan fiisabilillah. Mari kita saling bahu membahu dimanapun kita berada dan apapun pekerjaan kita untuk kebangkitan sastra islam. Amin

  97. lukman on Sat, 22nd Aug 2009 14:13
  98. ahahaha
    konspirasikah? wallahu a’lam ya mas Jonru
    mudah2an selalu dikuatkan dan ditabahkan
    dan terus maju! amin

  99. ichsan amin on Thu, 8th Oct 2009 22:04
  100. assalamualaikum warahmatullahhiwabarakatuh..

    saya tau kosnpirasi besar ini. berarti bisa jadi benar apa yang selama ini diperjuangkan Saut Situmorang. bagaimanapun lantangnya cacimaki Saut terhadap mereka–KUK, TUT. Saut tetap ada benarnya.

    Makasih mas infonya. Selama ini saya selalu mencari-cari akar permasalahannya. rupanya ini sudah mengarah ke politik sastra. Mereka (koran tempo, Tempo, Teater Utan Kayu, Salihara dan komplotannya) barangkali mencoba mendominasi gaya sastra selangkangan itu.

    tetap semangat berkarya di jalur anda mas. saya salut…

  101. Arif Sitompul on Mon, 7th Dec 2009 11:59
  102. Wah.. fakta semakin banyak.. fakta tentang media informasi indonesia yang selalu bergerak demi “kehebohan”. Bukti ttg nama besar sebuah media pemberitaan bukan jaminan mutu. Ah.. tp ini bukan kesimpulan..
    Untuk Mas Junro.. Saya percaya kalo anda berusaha menulis sesuatu yg benar.. Karena saya juga sering merasa janggal dengan gaya jurnalistik redaktur tempo. Ntah kesan apa yg saya dapat dari mereka. Itulah alasan saya percaya.
    Semangat…!!!
    Jangan takut.. jangan bimbang.. Innaloha ma’ana..

  103. riza almanfaluthi on Mon, 8th Mar 2010 8:01
  104. Dua tahun lebih berlalu, saya baru membaca halaman ini. Dukungan saya terus mengalir buat Anda Mas Jonru.
    LAWAN!!!

  105. sumarko on Wed, 10th Mar 2010 14:52
  106. dengan hormat,

    Menurut hemat saya, baik atau buruknya suatu karya sastra apakah itu fiksi atau non fiksi selalu terletak pada seluruh inspirasi yang akan diperoleh pembaca dari karya sastra tersebut.

    saya sangat senang dengan karya sastra terutama yang dilandaskan atas dasar runtun logis dari ilmu pengetahuan apakah itu fiksi ataupun nonfiksi.

    tidak banyak yang saya ketahui dari jonru,
    tapi suatu saat nanti mungkin karya jonru akan menjadi sumber inspirasional bagi saya, tetapi jika saya baca sekilas judul yang diterbitkan oleh jonru, saya kria masalah islam yang diangkat adalah masalah popular.

    dan saya rasa hal ini akan lebih memacu jonru untuk lebih menciptakan karya yang setara dengan Quraish Sihab yang saya senangi.

  107. yordan on Wed, 29th Sep 2010 10:47
  108. Subhanallah
    ternyata, ada kejadian besar dulu ya
    saya kok baru tahu sekarang

    saya juga sering tertawa sendiri soal komentar2 ndorokaukung di twitternya
    mereka orang2 tempo memang di mindset untuk menyerang Islam
    so, hati2 lah teman2

  109. andi on Sun, 10th Oct 2010 17:00
  110. yerus berjuang menegakan kebenaran’we like it

  111. Rio AN on Tue, 23rd Nov 2010 17:19
  112. Kejadian ini benar-benar meruntuhkan kredibilitas Tempo. dimana disiplin verifikasi yang mereka agung-agungkan?? hendaknya kita semua tabayun atas setiap berita yang ada!

  113. Hosting Murah on Tue, 14th Dec 2010 22:57
  114. Jadi ingat kata-kata mulutmu harimaumu

  115. jojo on Mon, 2nd May 2011 21:31
  116. waw, saya mau komentar sedikit. lepas dari aturan2 jurnalistik, menurut saya karya yang telah dipublikasikan statusnya sangat mutlak untuk dipuji, diapresiasi, maupun dikritisi termasuk karya-karya sastra islam indonesia yang sudah dirilis. dan menurut saya nama-nama hebat dengan berbagai karya dan penghargaan tersebut juga bukan tolak ukur kesempurnaan karya mereka. apalagi tulisan mas jonru mewakili persepsi sebagian orang termasuk saya terkait dengan karya sastra islam indonesia yang ada sekarang ini. yang saya takutkan adalan persepsi anda terhadap koran tempo merupakan representasi dari karakter anda sendiri.. yang saya lihat dari tulisan anda terhadap koran tempo dan Jonru malah sangat naif. cara penyampaian anda konservatif dan tidak berkarakter mungkin hal ini yang membuat karya anda tidak laku. (MUNGKIN). apalagi pada wacana di atas sedikit tersirat unsur “narsis”. maju terus sastra islam indonesia.

  117. Jonru on Mon, 2nd May 2011 21:54
  118. @jojo: Terima kasih atas komentar Anda. Apapun dan bagaimanapun tanggapan Anda, bagi saya itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan, sebab setiap perbedaan perlu dihargai.

    Tapi saya merasa perlu sedikit melakukan klarifikasi pada Anda:
    Tulisan saya di atas bukan bicara soal keluhan atau “tangisan” saya mengenai karya saya yang tidak laku.

    Justru saya hendak menyampaikan: Kalau karya sastra saya termasuk yang tidak laku, kenapa Koran Tempo menggunakan nama saya untuk mengcounter para sastrawan yang jauh lebih hebat dari saya?

    Bahasa gampangnya: Kenapa saya yang masih di level anak TK, disejajarkan dengan lulusan S3?

    Dan yang lebih tragis: Pendapat tersebut ternyata hanya fiktif. Saya sama sekali tak pernah mengucapkannya.

    Itulah yang membuat saya berkesimpulan, tulisan Koran Tempo tersebut penuh rekayasa untuk menyerang sastra islam dengan cara yang TIDAK LUCU :)

    Demikian klarifikasi saya. Btw kasus di atas sebenarnya sudah selesai. Yang saya tulis ini sekadar informasi saja.

    Thanks ya
    Jonru

  119. mutaki on Sat, 2nd Jul 2011 4:59
  120. terus dan terus berkarya karena Allah

  121. Dodge on Tue, 16th Aug 2011 12:37
  122. Pernah di rubrik Pendapat ato laporan khusus tentang Abu Bakar Baasyir. Mungkin maksud Koran Tempo adalah untuk meng-counter pendapat ABB mengenai Islam dan Jihad, namun yang dijadikan nara sumber kok ya Ulil Abshar Abdala, yang nota bene orang pun tau siapa Ulil, seorang pentolan Jaringan Islam Liberal. Menurut saya, Artikel itu malah menjadi rancu, dan tidak berhasil menarik simpati pembaca Islam pada umumnya, karena tidak terwakili di artikel tersebut.

  123. muhammad ikbal on Tue, 13th Dec 2011 15:11
  124. as.w.w..usahakan hal-hal yang tidak menimbulkan konflik, jika media-media yang menjadi provokasi terjadinya konflik,..di sarankan dengan baik-baik bila perlu di hentikan aja..jangan sampai terulang kembali kasus-kasus konflik nasional karena hanya karena persoalan-persoalan sara….para provokator2 yang mengacauakan bangsa ini..sikat dan hilangkan dari muka bumi..ini..jangan..manfaatkan media untuk urusan yang prinsip..ingt negara ini mencari ketenangan..teroris yang paling kejam bukanlah teroris yang membunuh pakai boom,tapi terroris paling kejam adalah orang yang merusak fikiran manusia lewat tulisanya dan lisan serta misionarisnya…heran negara ini tidak pernah masalah itu datang dari islam..yang duluan memancing adalah yg selalu memushi islam..ingat kasus ambon dan konflik-konflik sara dimana…yang mendahului bukan islam lo..tapi islam di manfaatkan di cuci otaknya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab……….

  125. Skywalker on Sun, 28th Oct 2012 18:19
  126. Saya pernah lihat di Film James Bond 007 dan banyak lagi novel dan berita berita
    cetak maupun electronic bahwa ADA BANYAK PEMILIK MEDIA YG JADI TERORIS TERSELUBUNG.
    Jadi yaaah mana ada media yg nggak punya misi.
    Ada misi baik dan ada misi kehancuran.Tergantung pemiliknya siapa.

  127. windra gunawan on Wed, 13th Mar 2013 8:50
  128. Untuk Kang Jonru :
    Walau tema ini sdh selesai, tp gua cuma mau comment. Gua jg menyayangkan akhir2 ini Tempo semakin menurun kualitasnya. Banyak pemberitaan di Tempo tidak cover both side, dan terlalu kentara menyerang orang2 yg berseberangan dg kepentingan Tempo. Padahal gua dulu sangat salut dg Tempo. Namun sekarang gua jd belajar untuk semakin kritis membaca media.

    Buat Dodo:
    Sorry bos, menurut gua memang AAC msh banyak kekurangannya. Tp kalau mau dibandingkan dg Film AAC gua kurang sependapat dg Elo. Novel AAC jauh lebih bagus dari Filmnya menurut gua.

Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.

Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
- Jonru's Fan Page
- Twitter
- Belajar Menulis GRATIS di Facebook


WARNING: Komentar yang tujuannya hanya untuk mencari backlink akan dihapus. Kecuali jika isi komentar Anda memang bagus. Be friendly please :)