Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam
Baca Artikel Terkait:
Comments
65 Comments on Beginilah Cara Koran Tempo Menyerang Sastra Islam
-
Muhammad Zen on
Sun, 4th May 2008 9:06
-
Putra on
Sun, 4th May 2008 9:16
-
dina on
Sun, 4th May 2008 9:25
-
jonru on
Sun, 4th May 2008 9:39
-
Saidul Idrus on
Sun, 4th May 2008 10:26
-
Latip on
Sun, 4th May 2008 11:53
-
John Adi on
Sun, 4th May 2008 12:09
-
kang samin on
Sun, 4th May 2008 12:13
-
Mas Amin on
Sun, 4th May 2008 12:18
-
Nadiah Alwi on
Sun, 4th May 2008 14:03
-
Mimin on
Sun, 4th May 2008 14:09
-
farid rifai on
Sun, 4th May 2008 14:28
-
teguh city view on
Sun, 4th May 2008 20:01
-
jonru on
Sun, 4th May 2008 20:37
-
ahmad rojiki on
Sun, 4th May 2008 22:35
-
Ardian Perdana Putra on
Mon, 5th May 2008 8:33
-
Muhammad Fuady on
Mon, 5th May 2008 8:51
-
NOer on
Mon, 5th May 2008 9:31
-
Kembara on
Mon, 5th May 2008 9:48
-
harry on
Mon, 5th May 2008 11:24
-
Awan on
Mon, 5th May 2008 12:20
-
jonru on
Mon, 5th May 2008 13:03
-
Elfarid on
Mon, 5th May 2008 13:15
-
unai on
Mon, 5th May 2008 14:18
-
arik on
Mon, 5th May 2008 16:53
-
Oma Aning Harmanto on
Mon, 5th May 2008 22:14
-
poetra on
Tue, 6th May 2008 4:13
-
Wuryanano on
Tue, 6th May 2008 16:20
-
Deni Nursani on
Fri, 9th May 2008 18:25
-
Arif on
Fri, 9th May 2008 19:37
-
Bahur on
Wed, 14th May 2008 16:06
-
yulinava on
Mon, 19th May 2008 18:50
-
AKKBB Organisasi Liar, Kopdar Dengan Fertob 15 Juni di Monas | MohArifWidarto.com on
Wed, 11th Jun 2008 11:52
-
ThubagusTijar on
Fri, 13th Jun 2008 8:59
-
Man on
Sat, 21st Jun 2008 13:17
-
kang benny on
Mon, 21st Jul 2008 18:20
-
Rozi Kembara on
Mon, 1st Sep 2008 14:56
-
wahyu aves on
Thu, 25th Dec 2008 1:43
-
dodo on
Mon, 12th Jan 2009 1:44
-
dodo on
Mon, 12th Jan 2009 1:46
-
Jat on
Tue, 27th Jan 2009 15:47
-
Erensdh on
Sat, 31st Jan 2009 19:31
-
Suster Gila on
Fri, 3rd Apr 2009 3:06
-
faizoi on
Tue, 28th Apr 2009 16:22
-
taufan aditia on
Fri, 19th Jun 2009 18:38
-
Jonru on
Fri, 19th Jun 2009 21:05
-
taufan aditia aristianto on
Sun, 21st Jun 2009 0:35
-
Sidik on
Fri, 7th Aug 2009 21:10
-
erdogan on
Wed, 19th Aug 2009 8:13
-
lukman on
Sat, 22nd Aug 2009 14:13
-
ichsan amin on
Thu, 8th Oct 2009 22:04
-
Arif Sitompul on
Mon, 7th Dec 2009 11:59
-
riza almanfaluthi on
Mon, 8th Mar 2010 8:01
-
sumarko on
Wed, 10th Mar 2010 14:52
-
yordan on
Wed, 29th Sep 2010 10:47
-
andi on
Sun, 10th Oct 2010 17:00
-
Rio AN on
Tue, 23rd Nov 2010 17:19
-
Hosting Murah on
Tue, 14th Dec 2010 22:57
-
jojo on
Mon, 2nd May 2011 21:31
-
Jonru on
Mon, 2nd May 2011 21:54
-
mutaki on
Sat, 2nd Jul 2011 4:59
-
Dodge on
Tue, 16th Aug 2011 12:37
-
muhammad ikbal on
Tue, 13th Dec 2011 15:11
-
Skywalker on
Sun, 28th Oct 2012 18:19
-
windra gunawan on
Wed, 13th Mar 2013 8:50
Mas Jonru saya ikut prihatin.
Ini ujian dari Allah SWT dan semua ada hikmahnya.
Ibarat pohon,semakin tinggi memang semakin kencang angin yang menerpa.
Salam dari Kota Apel Malang
Muhammad Zen
Sudah melakukan hak jawab belum? ato mensomasi mungkin? kalau belum, sayang sekali… tulisan anda ini nyatanya tidak jauh berbeda dengan wartawan tempo yang anda caci itu. Menulis sebuah berita, tanpa CROSSCHECK!
Atau memang sengaja mencari perhatian? Entahlah..
wah mas jonru, tetep sabar dan semangatttt!!! kita semua yg ‘mengenal’ mas jonru dgn baik melalui milis maupun tulisan2 mas tau betul kok mas jonru sbg seorang pejuang sastra islami…
Buat Putra:
Coba anda klik link yang saya letakkan pada bagian teratas tulisan ini. COba anda simak lagi tulisan ini secara cermat.
Anda akan menemukan jawaban atas pertanyaan anda di sana
Buat Dina dan Pak Zen.. terima kasih banyak ya…
thanks
Jonru
Assallamuallaikum Wr Wb
Alloh masih cinta sama mas Jonru buktinya masih ada musibah yang menimpa, dan kapasitasnya apakah,ujian,peringatan atau ajab.
Mas Jonru sendirilah yang tahu.
Mudah-mudahan merupakan ladang pahala jika mampu bersikap sabar dan bijaksana.
Wassallamuallaikum Wr Wb
Salam dari ujung aspal ~ pondok gede
Mas aku sering ngikuti Tulisan Mas…yang sabar ya..
Ini mungkin cobaan Allah ,dan yang bisa melawan adalah Doa dan Tawakal aja
Wah Komentnya Bung Putra itu kayaknya miring banget ya…jangan jangan….
Begitulah Mas Jonru…Namanya Media Massa …Giliran dia Menginjak Orang dengan segala kelihaiannya berkelit dengan Berikrar ” ATAS NAMA KEBEBASAN PERS DAN JURNALISTIK ” dengan tanpa Konfirmasi…Bablas saja dia memberitakan hal hal yang seharusnya di kofirmasi akan kebenarannya.
Namun giliran dia terinjak walah walah…reaksinya luar biasa
Salam
Wah…gimana ya…
Pembelajaran buat kita semua nih
Alhamdulillah… saya termasuk orang yang selalu melihat sisi positif dari setiap kejadian, termasuk kejadian paling buruk sekalipun.
———————————————
Insya Allah dengan prinsip Mas Jonru di atas, urusan ini akan membawa kebaikan bukan hanya untuk Mas Jonru tapi untuk Sastra Islami. Amin.
Kesabaran selalu dituntut untuk meraih kesuksesan…
Dibalik musibah ada keuntungan besar di sana, bila kita mampu memanage masalah itu…
Pak Jonru..
Ucapkan Hasbiyallah wanikmal wakiil..
Tak usah berbuat sesuatu biar saja Alalh yang berbuat, nanti kalau kita berbuat sesuatu mungkin sudah sebatas itu dan tangan Allah SWT tak bermain lagi, tapi bila Allah SWT balas, akan lebih sakit dari pada kita yang balas..
semoga pengalaman bang jonru ini, menjadi batu loncatan untuk kebangkitan sastra islam…dan sepertinya saat ini, sudah saatnya orang islam memiliki media yang bisa menyaingi tempo dkk…
Bangkitnya satra Islamy memang membuat jantung sekian banyak pihak yang benci dan sekaligus iri, berdegup dengan cepat! Hatta sebuah skenario canggih yang disusun untuk mem plot seorang penulis antah berantah menjadi pahlawan (baca ulasan 3 kali muat di Republika tentang fakta dibalik konspirasi intelektual mengangkat sebuah karya tertentu), “tunggang langgang” dibawah kesuksesan “Ayat-Ayat Cinta” atau “Laskar Pelangi”. (Sorry, bagi saya, hakikat muatan “Laskar Pelangi” boleh digolongkan sastra Islamy). Sastra selangkangan, silakan putuss dan gigit jari! Jadi, wajar bila mata jadi gelap, pikiran jadi kalap. Maka, sebuah konspirasi besar memang membutuhkan skenario besar pula, dan sungguh bukan tanpa sebab bila Allah, Sang Maha pembuat Makar dan Rencana, memilih bung Jonru yang menanggungnya.
Tapi tak apa, saudaraku. Kasih Allah memang sering datang dalam bentuk yang tak terduga, bahkan pada hal-hal yang sekilas tampak menyakitkan sekalipun. Tapi dibalik itu semua,yakinlah (dan ini bukan pemikiran dogmatis, tapi teruji dalam jutaan kasus!) akan tersemai hasil-hasil positif bagi antum.
Teman-teman semua, terima kasih banyak ya, atas tanggapannya.
Khusus buat Pak Teguh:
Saya juga setuju sekali bahwa Laskar Pelangi pun termasuk sastra Islam. Saya pernah menulis mengenai hal ini di sejumlah milis penulisan.
Seorang teman saya – Denny Prabowo – pernah mengemukakan beda sastra islam dengan sastra islami:
- sastra islam adalah karya sastra yang ditulis oleh penulis muslim, dan isinya mengusung nilai-nilai islam
- sastra islami bisa saja ditulis oleh penulis muslim atau penulis nonmuslim, dan isinya sesuai dengan nilai-nilai Islam
Nah, dari definisi di atas, saya berpendapat bahwa Laskar Pelangi termasuk Sastra Islam, bukan sekadar Sastra Islami.
“…Mungkin selama ini saya terlalu lugu, terlalu blak-blakan dan kurang peka terhadap hal-hal yang berbau politik beserta seluruh intrik-intriknya…”
saya sangat setuju dengan pernyataan ini mas.saya pun mengalaminya walau dalam skala yang lebih kecil dan personal,ya silang pemikiran dan beda pendapat dengan teman,tetangga etc.
misalnya,saya dengan lugu berkeyakinan sekaligus berpendapat bahwa bisnis itu harus jujur,tetapi oleh tetangga[pebisnis],teman[karyawan pabrik],dan sepupu,dikatakan bahwa kalau jujur maka kita akan hancur,rugi,gak dapat untung.mereka seperti itu karena melihat kenyataan,fakta di lapangan,ya kebanyakan seperti itu,walau tak semua.
padahal kan ‘fakta bukan berarti itu sebuah kebenaran’?
akhirnya saya berpikir,apakah saya terlalu lugu atau menafikan kenyataan yang sebenarnya?apa saya kurang peka?mungkin iya.
btw,membaca tulisan bapak ini,membuat saya sadar,bahwa saya memang harus lebih peka dan melakukan kompromi2 dengan ‘keyakina’2 yang ada disekitar saya,agar saya tidak ‘punah’seperti dinosaurus.
maaf bila menyimpang dari ide awal penulisan.
keep on writes!
Turut berduka cita dengan fitnah tersebut….
Saya dukung Mas Jonru..
Semoga ad hikmah dibalik musibah ini..
tulisannya jangan kebanyakan warna mas…, susah bacanya. (menurut saya) penggunaan warna sebaiknya untuk memisahkan mana komentar anda dan mana komentar lawan bicara anda, sehingga isi dari tulisan anda lebih mudah untuk dipahami. biar bacanya gak mubeng2 gitu loh. mengenai isi, no comment aja yah.
tetap & terus berkarya aja mas…
“Ya Allah ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mukminin dan mukminat,
Ya Allah lembutkan, satu padukan hati orang-orang muslimin,
Perbaikilah keadaan mereka,
Tolonglah kaum muslimin utuk melawan musuh-musuh-Mu, dan musuh-musuh mereka
Ya Allah, laknatlah orang-orang kafir yang mendustakan para RasulMu dan membunuh para kekasih-Mu,
Ya Allah cerai-beraikan kesatuan kata mereka,
Hancur leburkan kekuatan mereka,
Dan turunkanlah bencana-Mu yang tiada tertolak lagi untuk orang-orang yang penuh dengan dosa
Dengan menyebut nama-Mu ya Allah yang Maha Pengasih Maha Penyayang,
Ya Allah, sesungguhnya kami memohon perlindungan kepadaMu”
Memang kadang media punya agendanya sendiri, jadi kita memang harus selalu waspada.
Terimakasih banyak untuk dukungan & perjuangan mas Jonru untuk sastra Islam. InsyaAllah barokah.
Assalamu’alaikum wr wb.
Bang, mendingan nulis surat langsung ke Koran Temponya. Kadang yang bermasalah bukan korannya, tapi si jurnalisnya yang lagi males nyari2 sumber data valid. ekstrimnya, kemudian malah dia karang2 sendiri.
Complain aja ke koran temponya, biar si jurnalisnya ini ditindak tegas. Kecuali kalo ternyata emang korannya yang bermasalah.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Buat Awan:
Waalaikumsalam
Coba anda baca lagi tulisan di atas secara teliti deh.
Apakah saya sudah atau belum mengirim surat langsung ke Koran Tempo? Jawabannya ada di sana
thanks
Jonru
Saya kira masalah sudah selesai.
Yakinlah para pembaca Koran Tempo adalah segmen terpelajar yang bisa memilah berita. Bila ada kesalahan manusiawi pastilah karena juga tuntutan manusiawi juga bagi jurnalis yang selalu stres dikejar tenggat waktu. Sekali waktu kurang cermat wajar saja, semoga tidak terulang lagi.
Koran Tempo pun pasti tidak ingin reputasi yang sudah susah payah dibangunnya menjadi tercoreng. Saya juga yakin Bang Jonru mempunyai limpahan permaafan.
Mengapa tidak saling islah saja.
Salam,
Penjaga Sanggar Mepet Sawah
http://elfarid.multiply.com
http://www.sanggarmewah.uni.cc
http://www.sanggarmewah.co.cc
sabar mas Jonru…saya yakin mas dapat mengambil hikmahnya. Saling memaafkan saja, mas
Pantang surut demi kebenaran Bang!
Semoga diberikan kekuatan hati!
Amin
Pak guru Jonru,
Sabar itu subur. Diam itu emas. Semoga Tuhan memberikan jalan terbaik untuk langkah-langkah anda selanjutnya.
Amin.
Sabar aja bang Jonru, saya yakin pembaca sekarang ini sudah lebih pintar dan mengerti. Memang media-media besar belakangan ini banyak sekali salah kutip, atau bahkan tidak mengutip sama sekali, seperti kasus abang. Dibagian struktur organisasi yang mana yang salah, entahlah.
Tetap berjuang, tetap menulis dan jangan patah semangat bang. Jadikan introspeksi diri aja. Insya Allah barokah.
Santai aja mas Jonru, gitu aja sih nggak usah terlalu dipikirin…biasalah.
Mungkin anda sudah saatnya naik level kehidupan kali
Salam dari Surabaya,
Wuryanano
Sepertinya sejarah harus berulang. Dahulu, Manives Kebudayaan (salah seorang di antaranya Taufiq Ismail) dihajar oleh LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat)-nya milik PKI (salah seorang di antaranya Pramudya). Kini, Sastra Islami dihajar oleh Sastra Selangkangan.
Bagiku, MAJU TERUS SASTRA ISLAMI (dan sastra Moralis lainnya)!
ALLOHU AKBAR!!!
Salamku dari kota perjuangan,
Bandung.
Promosi gratis, Bang.
Seperti Bang Jonru Bilang menikmati Duka Lara…..
Biasa lah bang orang besar kan selalu namanya dicatut.
Sukses Selalu Bang, amiin.
Hmm, kalo nggak baca tulisan kang Jonru ini, pasti saya juga sudah berpikir yang tidak-tidak tentang opini kang Jonru yang di Tempo.
[...] tidak, karena ada Gunawan Mohamad di sana. Tokoh sekuler itu tidak dapat dipisahkan dari Tempo yang dianggap menyerang sastra Islam oleh [...]
Kang Jonru,
Saya dukung moral buat Akang agar tabah.
Darah saya jadi mendidih ingin menelurkan karya berhaluan islami daripada ber-isme selangkangan.
Ini jadi catatan bagi kawan2 di FLP dan komunitas penulis-lepas untuk lebih giat menghajar kawan-kawan sekuler dengan dakwah fiksi.Dengdian karya.
Bravo buat Kang ABik yang sukses dengan novel2-nya dan filmnya.
Lumayan Kang, batu ujian dari Allah mengetes kadar kapasitas Akang. Saya yakin sekarang pun akang sudah menjadi orang besar di kalangan sastra Islam. Minimal dalam hati, niat, dan perbuatan yang terasa oleh kawan-kawan semua.
Insya Allah,
Maju Terus Sastra Islam
Allahu Akbar!
Terima kasih banyak Pak, atas dukungannya
Jonru
Sebenarnya kita semua harus waspada, Orang-orang TEMPO berhaluan SERKULER, coba saja baca OPINI yang ada di Majalah TEMPO, semuanya selalu menyerang Islam, mulai dari pemberlakukan Perda Syariat di beberapa daerah, yang selalu dikomentari sinis dan nada miring oleh mereka, sampai sekarang Masalah Ahmadiyah, yang juga dibela habis-habisan dengan mengatasnamakan kebebasan beragama dan Pancasila, walaupun dengan menginjak-injak Agama Islam yang sah dan Benar dan diterima diseluruh Dunia, tapi apabila ada pemurtatan terhadap pemeluk Agama Islam yang sah yang dilakukan oleh agama tertentu dengan berbagai cara, coba kita lihat apa ada TEMPO bersuara, ya ngak ada cuek aja, jadi kita harus waspada terhadap orang-orang SEKULER yang ada dilevel Pimpinan di TEMPO, karena dengan kekuatan medianya merek sekarang bisa bersuara apa saja, nah termasuk dengan masalah diatas. jadi sabar ya Bro, terus maju demi kejayaan Islam Amiin.
Nggak usah kaget kang Jonru
Sudah saat nya penulis islam kini bermain dengan cantik. Bila pihak lain berupaya untuk memutar balikan fakta dengan kekuatan pena mereka( media). Maka bukan berarti hanya karena pena kita masih terbuat dari bulu ayam, lantas kita menyerah terpojok, hanya bisa berkeok-keok.
Mari buat semua, saat nya kita angkat pena kita untuk berkokok!
Berdiri tegak di atas gelombang!!!
SALAM HANGAT BUAT PAK JONRU….
SEMOGA ADA HIKMAH YANG DAPAT KITA AMBIL DARI KEJADIAN YANG MENIMPA PAK JONRU. DAN INI JUGA MEMBERI SAYA PELAJARAN BAHWA PERS ADALAH BAGIAN URGENT YANG JANGAN DISALAH GUNAKAN DEMI KEPENTINGAN BEBERAPA GELINTIR ORANG…SEBAB AKIBATNYA FATAL.
(pak kapan main ke RUMAH DUNIA lagi???)
biarlah karya kita yang bicara
saya mengecam bentuk tindakan fitnah seperti ini. ini bukan hanya melanggar kode etik tapi juga membuat pertemanan mas jonru dengan yang lainnya bisa rusak. untung saja mereka bijak dan lebih percaya dengan mas jonru.
semoga media manapun dan tempo khususnya tidak mengulangi lagi mengenai hal ini.
tapi ada sedikit hal yang saya setuju pada tulisan tempo itu. saya seorang muslim dan penikmat novel. saya pikir memang harus di tingkatkan lagi kualitasnya.
sorry nih kang abik dan flpnya saya sendiri masih bingung kenapa novel ayat2 cinta bisa jadi best seller atau megabest seller atau ultrabest seler atau apalah itu. masih banyak typos, contoh birthday masa jadi birdday (hari burung ?) lalu tokohnya terlalu perfeksionis seperti tidak pernah khilaf seperti manusia. ga real. terlalu di buat2 dengan mendakwah, menasihati dengan kutipan2 Alquran yang panjang lebar di sebuah kereta yang tidak ada orang yang akrab sama sekali (aneh ga sih ?)
terlalu cengeng, seharusnya menangis bs jadi dramatis, tapi kok di AAC orang2nya dikit2 nangis, dikit2 nangis. kalo menangis pada tempatnya sih gpp malah menambah nilai novelnya tapi ini, hal2 remeh ga penting aja cowok dewasa 25-30 tahun nangis mulu ? misal pas pindahan ngeliat kamar nangis, di novel itu ada puluhan kata menitikan air mata, matanya basah berulang2 setiap berapa halaman sekali untuk kejadian2 yg harusnya ga nangis.
sekian kritik membangun saya. akhir kata memang novel2 islami harus di tingkatkan kualitasnya. karena saya juga butuh bacaan islami yang berkualitas. thx
oh ya, saya memuji filmnya aac yang membumikan novelnya yang terlalu lebay. buat mas jonru sebaiknya minta tempo membuat permintaan maaf tertulis di korannya lagi.
tulisan yang bagus
tapi kayaknya mbak helvi tiana rosa dan asma nadia dari Forum Lingkar Pena ga terpengaruh tuh sama tulisan mas jonru. buktinya bulan agustus lalu malah Tempo memberi penghargaan kepada Forum Lingkar Pena dengan Award tentang Pemberdayaan. malah mbak helvi, asma nadia, dan kang abik sempat hadir di acara tsb di tengah2 kesibukan mereka, bahkan profil FLP juga diangkat di Majalah Tempo.
Thomas Alfa Edison pernah ribuan kali mengalami kegagalan sebelum akhirnya dia menemukan penemuan besar yang bermanfaat bagi miliaran orang pada semua benua, semua bangsa dan semua agama.
Dia menjadi MATAHARI bagi semua manusia tanpa batas. Kesuksesannya itu adalah buah dari kegagalan yang sebenarnya adalah bukti dari eksistensi semangat hidupnya. Andaikata dia membenci berbagai kritikan (baca berbagai kegagalannya) maka bisa jadi dia telah mengakhiri hidupnya karena putus asa serta sakit hati.
Mungkin cukup berbeda dari bangsa kita yang alergi dengan kritikan yang selalu diterjemahkan sebagai arti mutlak dari dan sebagai bukti permusuhan, kebencian, antipati dan sebagainya. Akhirnya kita tetap kerdil dalam benteng emas kita.
Lamat-lamat saya masih mendengar dari kejauhan..”Pujian adalah awal malapetaka…Kritikan adalah bukti perhatian dan cinta…”
mungkin saja ini semu..
Wassalam
erensdh.
Gagal 10 kali berarti telah menemukan 10 cara yang salah .
Coba jika cara kesebelas adalah cara yang benar? Maka anda tinggal satu langkah lagi.
Tetap semangat.
semangaaat membangun peradaban islam
kalo menurut saya, kenapa tidak melakukan hak jawab belum? ato mensomasi.. karena, jika ini memang terjadi, mungkin sudah banyak tulisan jurnalistik yg didasari oleh opini wartawan. ini kan bisa menyesatkan, kenapa anda tidak melawannya, memang, dengan membuat bantahan seperti ini, anda bisa melakukan konfirmasi kepada orang2 yang dekat atau mengenal anda, tapi, untuk orang yg tidak mengenal anda tau membuka blog anda, anda akan tetap menjadi johru yg menyepelekan.. anda akan teteap menjadi silas… dan masyarakat akan tetap mengenal anda sebagai silas…
atau apakah tulisan ini hanya merupakan bantahan 1 pihak dari anda. sebagai orang awam, saya akan berfikir bahwa tulisan yg dibuat oleh wartawan tempo itu benar dan tulisan yg anda buat ini hanya merupakan upaya membela diri agar tidak mendapatkan cemoohan dari senior, atau agar anda tidak kehilangan keanggotaan dan kredibilitas dari Forum Lingkar Pena..
@taufan: sudah disomasi kok bos
Dan masalah pada tulisan ini sudah selesai SETAHUN LALU.
Info selengkapnya klik di sini
iya, maaf.. lupa lihat tanggal..
Cari sensasi aja u
alhamdulillah bang jonru masih ada yang mengingatkan, semoga Alloh SWT menambahkan ilmu bagi abang, membimbing dan mengantarkan pada kesuksesan jalan fiisabilillah. Mari kita saling bahu membahu dimanapun kita berada dan apapun pekerjaan kita untuk kebangkitan sastra islam. Amin
ahahaha
konspirasikah? wallahu a’lam ya mas Jonru
mudah2an selalu dikuatkan dan ditabahkan
dan terus maju! amin
assalamualaikum warahmatullahhiwabarakatuh..
saya tau kosnpirasi besar ini. berarti bisa jadi benar apa yang selama ini diperjuangkan Saut Situmorang. bagaimanapun lantangnya cacimaki Saut terhadap mereka–KUK, TUT. Saut tetap ada benarnya.
Makasih mas infonya. Selama ini saya selalu mencari-cari akar permasalahannya. rupanya ini sudah mengarah ke politik sastra. Mereka (koran tempo, Tempo, Teater Utan Kayu, Salihara dan komplotannya) barangkali mencoba mendominasi gaya sastra selangkangan itu.
tetap semangat berkarya di jalur anda mas. saya salut…
Wah.. fakta semakin banyak.. fakta tentang media informasi indonesia yang selalu bergerak demi “kehebohan”. Bukti ttg nama besar sebuah media pemberitaan bukan jaminan mutu. Ah.. tp ini bukan kesimpulan..
Untuk Mas Junro.. Saya percaya kalo anda berusaha menulis sesuatu yg benar.. Karena saya juga sering merasa janggal dengan gaya jurnalistik redaktur tempo. Ntah kesan apa yg saya dapat dari mereka. Itulah alasan saya percaya.
Semangat…!!!
Jangan takut.. jangan bimbang.. Innaloha ma’ana..
Dua tahun lebih berlalu, saya baru membaca halaman ini. Dukungan saya terus mengalir buat Anda Mas Jonru.
LAWAN!!!
dengan hormat,
Menurut hemat saya, baik atau buruknya suatu karya sastra apakah itu fiksi atau non fiksi selalu terletak pada seluruh inspirasi yang akan diperoleh pembaca dari karya sastra tersebut.
saya sangat senang dengan karya sastra terutama yang dilandaskan atas dasar runtun logis dari ilmu pengetahuan apakah itu fiksi ataupun nonfiksi.
tidak banyak yang saya ketahui dari jonru,
tapi suatu saat nanti mungkin karya jonru akan menjadi sumber inspirasional bagi saya, tetapi jika saya baca sekilas judul yang diterbitkan oleh jonru, saya kria masalah islam yang diangkat adalah masalah popular.
dan saya rasa hal ini akan lebih memacu jonru untuk lebih menciptakan karya yang setara dengan Quraish Sihab yang saya senangi.
Subhanallah
ternyata, ada kejadian besar dulu ya
saya kok baru tahu sekarang
saya juga sering tertawa sendiri soal komentar2 ndorokaukung di twitternya
mereka orang2 tempo memang di mindset untuk menyerang Islam
so, hati2 lah teman2
yerus berjuang menegakan kebenaran’we like it
Kejadian ini benar-benar meruntuhkan kredibilitas Tempo. dimana disiplin verifikasi yang mereka agung-agungkan?? hendaknya kita semua tabayun atas setiap berita yang ada!
Jadi ingat kata-kata mulutmu harimaumu
waw, saya mau komentar sedikit. lepas dari aturan2 jurnalistik, menurut saya karya yang telah dipublikasikan statusnya sangat mutlak untuk dipuji, diapresiasi, maupun dikritisi termasuk karya-karya sastra islam indonesia yang sudah dirilis. dan menurut saya nama-nama hebat dengan berbagai karya dan penghargaan tersebut juga bukan tolak ukur kesempurnaan karya mereka. apalagi tulisan mas jonru mewakili persepsi sebagian orang termasuk saya terkait dengan karya sastra islam indonesia yang ada sekarang ini. yang saya takutkan adalan persepsi anda terhadap koran tempo merupakan representasi dari karakter anda sendiri.. yang saya lihat dari tulisan anda terhadap koran tempo dan Jonru malah sangat naif. cara penyampaian anda konservatif dan tidak berkarakter mungkin hal ini yang membuat karya anda tidak laku. (MUNGKIN). apalagi pada wacana di atas sedikit tersirat unsur “narsis”. maju terus sastra islam indonesia.
@jojo: Terima kasih atas komentar Anda. Apapun dan bagaimanapun tanggapan Anda, bagi saya itu bukan hal yang perlu dipermasalahkan, sebab setiap perbedaan perlu dihargai.
Tapi saya merasa perlu sedikit melakukan klarifikasi pada Anda:
Tulisan saya di atas bukan bicara soal keluhan atau “tangisan” saya mengenai karya saya yang tidak laku.
Justru saya hendak menyampaikan: Kalau karya sastra saya termasuk yang tidak laku, kenapa Koran Tempo menggunakan nama saya untuk mengcounter para sastrawan yang jauh lebih hebat dari saya?
Bahasa gampangnya: Kenapa saya yang masih di level anak TK, disejajarkan dengan lulusan S3?
Dan yang lebih tragis: Pendapat tersebut ternyata hanya fiktif. Saya sama sekali tak pernah mengucapkannya.
Itulah yang membuat saya berkesimpulan, tulisan Koran Tempo tersebut penuh rekayasa untuk menyerang sastra islam dengan cara yang TIDAK LUCU
Demikian klarifikasi saya. Btw kasus di atas sebenarnya sudah selesai. Yang saya tulis ini sekadar informasi saja.
Thanks ya
Jonru
terus dan terus berkarya karena Allah
Pernah di rubrik Pendapat ato laporan khusus tentang Abu Bakar Baasyir. Mungkin maksud Koran Tempo adalah untuk meng-counter pendapat ABB mengenai Islam dan Jihad, namun yang dijadikan nara sumber kok ya Ulil Abshar Abdala, yang nota bene orang pun tau siapa Ulil, seorang pentolan Jaringan Islam Liberal. Menurut saya, Artikel itu malah menjadi rancu, dan tidak berhasil menarik simpati pembaca Islam pada umumnya, karena tidak terwakili di artikel tersebut.
as.w.w..usahakan hal-hal yang tidak menimbulkan konflik, jika media-media yang menjadi provokasi terjadinya konflik,..di sarankan dengan baik-baik bila perlu di hentikan aja..jangan sampai terulang kembali kasus-kasus konflik nasional karena hanya karena persoalan-persoalan sara….para provokator2 yang mengacauakan bangsa ini..sikat dan hilangkan dari muka bumi..ini..jangan..manfaatkan media untuk urusan yang prinsip..ingt negara ini mencari ketenangan..teroris yang paling kejam bukanlah teroris yang membunuh pakai boom,tapi terroris paling kejam adalah orang yang merusak fikiran manusia lewat tulisanya dan lisan serta misionarisnya…heran negara ini tidak pernah masalah itu datang dari islam..yang duluan memancing adalah yg selalu memushi islam..ingat kasus ambon dan konflik-konflik sara dimana…yang mendahului bukan islam lo..tapi islam di manfaatkan di cuci otaknya oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab……….
Saya pernah lihat di Film James Bond 007 dan banyak lagi novel dan berita berita
cetak maupun electronic bahwa ADA BANYAK PEMILIK MEDIA YG JADI TERORIS TERSELUBUNG.
Jadi yaaah mana ada media yg nggak punya misi.
Ada misi baik dan ada misi kehancuran.Tergantung pemiliknya siapa.
Untuk Kang Jonru :
Walau tema ini sdh selesai, tp gua cuma mau comment. Gua jg menyayangkan akhir2 ini Tempo semakin menurun kualitasnya. Banyak pemberitaan di Tempo tidak cover both side, dan terlalu kentara menyerang orang2 yg berseberangan dg kepentingan Tempo. Padahal gua dulu sangat salut dg Tempo. Namun sekarang gua jd belajar untuk semakin kritis membaca media.
Buat Dodo:
Sorry bos, menurut gua memang AAC msh banyak kekurangannya. Tp kalau mau dibandingkan dg Film AAC gua kurang sependapat dg Elo. Novel AAC jauh lebih bagus dari Filmnya menurut gua.
Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.
Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
-
Jonru's Fan Page
-
Twitter
- Belajar Menulis GRATIS di Facebook
WARNING: Komentar yang tujuannya hanya untuk mencari backlink akan dihapus. Kecuali jika isi komentar Anda memang bagus. Be friendly please :)









Jonru adalah:


