Akhirnya Saya Termotivasi untuk Menjadi Kaya!

May 16, 2008
Filed under: Motivasi, Renungan, Sehari-hari 

Anda boleh tak percaya (bahkan mungkin bingung), tapi terus terang saya pernah takut menjadi orang kaya.

Sejak kecil, saya memang hidup dalam keluarga kelas bawah. Kekurangan dari segi materi. Ketika saya masih SD, keluarga kami pernah terpaksa mengganti nasi dengan bubur, demi menghemat beras. Bahkan hingga kuliah, saya belum pernah memiliki sepeda, karena orang tua saya tak sanggup membelikannya. Saya sering punya keinginan ini itu, tapi belum terkabul juga karena tak punya uang.

Alhamdulillah, secara perlahan perekonomian keluarga kami meningkat. Saat ini, saya merasa bersyukur karena dari segi materi kami sudah jauh lebih baik. Tapi memang, untuk disebut sebagai orang kaya sepertinya belum memenuhi kriteria. Mobil saja belum punya. Seandainya tidak dibelikan oleh mertua, hingga kini kami mungkin belum bisa punya rumah sendiri.

Mohon maaf, saya bukan bermaksud mengeluh atau tidak bersyukur. Namun semoga penjelasan demi penjelasan di bawah bisa membuat Anda paham apa maksud saya yang sebenarnya.

* * *

Walau bukan orang kaya, entah kenapa sejak dulu saya tak pernah bermimpi jadi orang kaya. Bila banyak orang mencari pekerjaan yang menjanjikan gaji tinggi, saya selalu berprinsip bahwa gaji atau penghasilan bukanlah hal utama yang harus dikejar. Bila kita bekerja dengan baik, insya Allah gaji atau penghasilan akan BAIK juga dengan sendirinya.

Penulis terkenal Helvy Tiana Rosa pernah berkata bahwa popularitas adalah efek samping dari aktivitas dan dedikasinya selama ini di dunia penulisan. Saya pun berpendapat bahwa kekayaan merupakan efek samping dari kerja keras dan dedikasi seseorang dalam bekerja. Yang namanya efek samping, tentu tak perlu dicari, dikejar-kejar, bahkan dijadikan obsesi atau mimpi-mimpi yang mengganggu tidur Anda setiap malam.

Ketika mulai menekuni dunia internet marketing, saya pun tampil beda dibanding internet marketer lainnya. Di dunia saya satu ini, kemungkinan untuk menjadi kaya raya dalam waktu singkat sangatlah besar. Yang penting tahu celah dan kiatnya. Tapi tentu saja, kerja keras dan ketekunan tetap diperlukan (menjadi kaya raya dalam sekejap tanpa pernah bekerja keras adalah hal yang sangat mustahil di manapun).

Banyak teman sesama internet marketer yang sangat serius memburu dolar lewat internet, karena mereka tergiur luar biasa oleh peluang menjadi milyuner lewat jalur online tersebut. Aneh bin ajaib, saya sama sekali tidak punya motivasi yang sama seperti mereka.

Seperti yang saya sebutkan di awal tulisan ini, saya pernah takut menjadi kaya. Saya bayangkan bila saya mengikuti sebuah bisnis yang sangat luar biasa di internet, saya mendapat ribuan dolar perbulan, seketika saya menjadi kaya raya… APAKAH SAYA SUDAH SIAP?

Anda boleh heran: Pertanyaan seperti ini justru membuat saya gentar. Saya merasa bahwa “kehidupan sederhana dari segi materi” (saya mencoba menghindari istilah “miskin”) yang saya alami selama ini sudah menjadi semacam KEMAPANAN tersendiri. Saya sepertinya “TIDAK BERANI” keluar dari kemapanan tersebut. Saya seperti betah berada di sana, TAK RELA meninggalkannya.

Benar-benar aneh, bukan? Jangankan Anda, saya juga heran!

* * *

Setelah berpikir lebih jauh, saya akhirnya tahu bahwa ketakutan yang saya alami tersebut banyak dipengaruhi oleh cara pandang masyarakat kita yang keliru dalam memperlakukan kekayaan. Banyak orang yang menjadikan kekayaan sebagai tujuan hidup. Bagi mereka, kesuksesan adalah ketika Anda punya banyak uang.

Seperti yang saya tulis di atas, sejak dulu saya tak pernah menjadikan uang atau kekayaan sebagai tujuan hidup. Maka bila ada orang yang memotivasi saya untuk menjadi orang kaya, saya selalu berpikir, “Apa menariknya menjadi orang kaya? Menjadi orang yang bermanfaat jauh lebih menarik bagi saya!”

Tanpa saya sadari, pemikiran dan fakta seperti itulah yang selama ini membuat saya takut menjadi kaya, tak pernah termotivasi untuk mengumpulkan sebanyak mungkin materi.

Alhamdulillah, belakangan ini saya berhadapan dengan sejumlah kondisi yang secara perlahan mengubah pandangan saya mengenai kekayaan. Berikut beberapa di antaranya:

  1. Setiap kali ada janji meeting dengan klien, selama ini saya pergi mengendarai motor. Selama perjalanan yang panas terik, baju saya jadi lusuh, basah, dan bau oleh keringat. Penampilan memang bukan segalanya, tapi cukup penting untuk memberikan kesan pertama. Dalam konteks inilah, saya merasa kalah dalam hal penampilan. Saya tiba-tiba punya keinginan kuat untuk memiliki mobil.
  2. Saya seringkali malas untuk mengurus hal-hal teknis. Misalnya, saya sudah berjanji untuk mengirim hadiah tertentu untuk orangtua saya di Sumatera. Tapi saya selalu lupa mengantarnya ke kantor pos terdekat. Hingga berminggu-minggu, hadiah tersebut belum terkirim juga. Saya jadi berpikir, seandainya saya punya seorang staf pribadi yang siap mengerjakan hal-hal seperti itu, tentu salah satu masalah dalam hidup saya akan teratasi.
  3. Sekolah-Menulis Online yang saya kelola, hingga saat ini masih seperti itu-itu juga. Mau dikembangkan, modal uang belum cukup.
  4. Saya mengelola banyak situs (selain situs pribadi), mulai dari PenulisLepas.com, BelajarMenulis.com, Sekolah-Menulis Online, PeluangInternetMarketing.com, dan masih banyak lagi. Anda mungkin heran bila saya katakan: Situs sebanyak itu saya bangun dan kelola sendiri! Jadi wajar bila tidak semuanya bisa dikelola secara maksimal. Lantas bagaimana cara memaksimalkannya? Saya membayangkan bila saya punya beberapa staf yang bertugas sebagai programmer, desainer web, dan content editor.
  5. Tahun lalu, saya berhasil menemukan bahwa saya ternyata seorang creator. “Fitrah” seorang creator adalah memberikan ide, lalu ide itu dieksekusi oleh orang lain. Saat ini, saya seringkali harus mewujudkan sendiri ide-ide yang bermunculan dari pikiran saya, dan itu sering membuat saya kewalahan. Seorang creator biasanya bukan seorang eksekutor yang baik. Kelemahan mereka adalah dalam hal implementasi. Seorang creator membutuhkan banyak staf yang terdiri dari supporter, manager, teknisi, dan masih banyak lagi. Selama ini, banyak di antara fungsi-fungsi tersebut yang masih saya tangani sendirian. Penyebabnya, tentu saja karena saya belum sanggup menggaji banyak orang.

* * *

Saya yakin, uang adalah hal yang paling masuk akal untuk mengatasi kelima hal di atas. Karena itulah, saya akhirnya menemukan alasan yang tepat untuk bermimpi menjadi orang kaya!

Ya, seperti yang saya sebutkan di atas, kekayaan materi bukanlah tujuan hidup. Tapi kekayaan materi bisa membuat hidup kita lebih nyaman. Ikhwan Sopa, Trainer Workshop EDAN, pernah berkata bahwa yang membuat manusia bahagia sebenarnya bukan uang. Namun banyaknya uang akan membuat kita punya banyak pilihan dalam hidup ini. “Banyaknya pilihan itulah yang sebenarnya membuat kita bahagia.”

Jennie S. Bev dalam bukunya “Mindset Sukses: Jalur Cepat Menuju Kebebasan Finansial” pun menjelaskan hal yang lebih kurang sama:

“…. Mobil dan rumah bukanlah sukses itu sendiri, namun itu semua adalah materi. Tidak lain dan tidak bukan. Materi mungkin adalah simbol sukses, namun bukan itu yang hendaknya Anda cari dalam hidup.

Sukses dalam arti sebenarnya bukanlah bersifat materialistis, namun bersifat spiritual filantropis. Ia bersifat internal, bukan sesuatu yang kasat mata dan bisa dinilai dengan uang maupun dengan koneksi orang-orang terkenal di dalam masyarakat….”

Tung Desem Waringin dalam bukunya Financial Revolution juga pernah berkata:

“Uang bukanlah tujuan hidup. Namun uang akan mempermudah Anda dalam mencapai tujuan hidup yang sebenarnya.”

Saya setuju pada pendapat Jennie, Pak Sopa, dan Pak Tung. Dengan memiliki banyak uang, saya bisa mendelegasikan banyak pekerjaan kepada orang lain, bisa lebih fokus dalam mengerjakan hal-hal yang merupakan “job description” saya.

Bila tidak punya uang, kita seringkali harus mengerjakan tugas-tugas yang sebenarnya lebih cocok dikerjakan oleh orang lain. Mencuci motor misalnya. Saya selalu berpikir bahwa pekerjaan seperti ini sangat menyebalkan.

Saya selalu membayangkan seandainya saya bisa menggaji seorang manusia jujur untuk membawa motor saya ke tempat pencucian, dan biarkan dia menunggu di sana hingga motor saya bersih mengkilap. Di waktu yang sama, saya bisa konsentrasi dalam menulis buku atau mengelola bisnis. Hidup saya akan lebih fokus, lebih efisien, dan lebih nyaman tentu saja.

Banyaknya uang akan membuat saya punya banyak pilihan untuk mendelegasikan pekerjaaan-pekerjaan yang tidak saya sukai atau tidak saya kuasai. Secara langsung, hal ini juga akan menjadikan diri saya sebagai salah satu jalan bagi pintu rezeki orang lain. Bila saya mempekerjakan 10 orang sebagai staf saya, itu artinya saya telah membantu mengurangi 10 orang pengangguran. Singkat cerita, sedikit banyaknya kekayaan saya akan membawa berkah bagi orang lain.

Saya kira, dalam konteks inilah kekayaan mendapatkan tempat yang terhormat di mata ajaran agama. Dalam konteks inilah saya akhirnya memiliki motivasi yang kuat untuk menjadi orang kaya!

Maka sejak hari ini, menjadi orang kaya menjadi bagian dari mimpi dan obsesi saya. Dia menjadi “pendatang baru” di antara mimpi-mimpi dan obsesi-obsesi saya lainnya.

Semoga bermanfaat, semoga terinspirasi.

Cilangkap, 16 Mei 2008

Jonru

Baca Artikel Terkait:

Comments

20 Comments on Akhirnya Saya Termotivasi untuk Menjadi Kaya!

  1. Rosidah W. Utami on Fri, 16th May 2008 15:02
  2. Salam dari donat kampung pak. Tulisan yang memberikan inspirasi. Apakah mirip dengan tulisan di blog saya “Akhirnya Saya diterbangkan ke Kuala Lumpur”.

    http://utamidonat.blogspot.com/2008/04/akhirnya-saya-diterbangkan-ke-kuala.html

  3. Penny Agrarianti on Fri, 16th May 2008 15:33
  4. Pak Jonru,
    Salam kenal, saya Penny ibu dr 2 org anak tingal di Cikarang.
    Prinsip Pak Jonru tadinya adalah yg dianut oleh suami saya, sehingga kalo anak saya yg kecil suka menirukan tukang parkir, saya suka tanya ‘Adek mau jadi tukang parkir’ Dulunya kalo saya tanya gitu, dia langsung jawab ‘Iya Bu…karena bisa meniup peluit’.
    Saya suka kasih tau, kalo kerjanya hanya jadi tukang parkir uangnya sedikit lo Dik, emang adek mau kalo punya uang sedikit ? Nanti tidak bisa beli buku dan susu loh…Kalo saya bicara begitu Ayahnya, sering mengingatkan janganlah mengajarkan kpd anak bahwa uang adalah segala-galanya, ajari anak untuk menjadi orang soleh dan beraklak baik sehingga berguna bagi sekelilingnya dsb..dsb. Saya bilang… akhlak baik sangatlah penting, tapi kalo tdk didukung dg materi yg baik juga , bisa2 org yg tadinya baik bisa terjerumus ke hal yg tdk baik. Alangkah lebih mulianya, selain berakhak baik juga mampu secara materi sehingga bisa menebar kebaikan dan berkah buat sesamanya…..
    Terima kasih ya Pak, ternyata apa yg Pak Jonru tulis di atas bisa memotivasi suami saya dl melihat kehidupan ini lebih nyata.

  5. pupungbp on Fri, 16th May 2008 18:35
  6. Mas Jonru, salut deh dengan mas…

  7. Abuyahya on Sun, 18th May 2008 20:41
  8. Iya, memang kekayaan tidak perlu jadi tujuan, tapi hanya jadi penunjang untuk tujuan

    Saya ingat cerita di Koran “Pikiran Rakyat” Bandung pada suatu hari Senin…

    Ada anggota Dewan yang jalan-jalan ke desa, dia sampai di sawah dan melihat seorang petani sedang istirahat pada pagi hari, tidak sedang mencangkul atau melakukan pekerjaan lainnya..

    Anggota Dewan : “Kenapa masih pagi Bapak sudah duduk-duduk istirahat?”

    Petani: “Sawah saya kecil, jadi tadi sudah saya kerjakan semua pekerjaan hari ini?”

    Anggota Dewan : “Mengapa Bapak tidak melakukan banyak pekerjaan lain, misalnya melanjutkan pekerjaan Bapak yang akan dikerjakan besok?”

    Petani : “Untuk apa kalau saya banyak kerja?”

    Anggota Dewan : “Biar Bapak bisa cepat kaya!”

    Petani : “Untuk apa kalau saya kaya?”

    Anggota Dewan : “Biar Bapak bisa santai dan senang!”

    Petani : “Lho, dari tadi saya khan sudah santai dan senang???”

    Anggota Dewan : “…”

    Hikmahnya (antara lain) : kekayaan dan kebahagiaan itu relatif!

    Salam Bang Jonru,
    Semoga semua kesibukannya dimudahkan oleh Allah Subhaanahu wa ta’aalaa. Aamien.

  9. anik on Mon, 19th May 2008 8:55
  10. salam Pak Jonru..

    Tulisan bapak banyak sekali memberi inspirasi, selama ini saya juga banyak berkhayal andai saja punya sedikit lebih banyak uang mungkin saya bisa menggaji sedikit karyawan untuk mengimplementasikan ide-ide yang banyak melintas di otak saya…
    ya saya yakin suatu saat saya dapat mewujudkan cita-cita saya…
    amien…
    Trims Pak Jonru

    salam

  11. pupung on Mon, 19th May 2008 22:39
  12. saya kagum sama mas jonru

  13. eriman muslim on Wed, 21st May 2008 11:32
  14. thank’s bang, resume yang saya dapat:
    1. kaya materi memberi kita BANYAK PILIHAN HIDUP… this wonderfull statement, bang!
    2. kaya materi memberi kita peluang MENJADI MANFA’AT BAGI ORANG LAIN
    3. kaya materi adalah sarana MAKIN DEKAT DENGAN RABB…

  15. andes on Wed, 21st May 2008 16:03
  16. wah, om udah sukses sejauh ini ya? Selamat ya om atas keberhasilannya. Om, ayo dong terbitkan buku karangan om sendiri tentang kiat sukses menjadi penulis atau apa gitu lah. Aku tunggu lho ya? Ntar kalo bukunya dah terbit email aku ok :-D

  17. hasyim on Thu, 22nd May 2008 9:27
  18. Maju terus bang… semoga semuanya di permudah.

    Klo bukunya Aa gym bilang
    “saya tidak ingin kaya tapi harus kaya” (klo ngga salah getu yah) hehehehe

  19. Made Sariada on Sat, 24th May 2008 14:00
  20. tulisan yang selalunya menarik dari Mas Jonru..Selalu menginspirasi…

  21. rahmanajadeh on Sat, 24th May 2008 14:59
  22. Saya melihat efek dari kerja keras mas jonru selama ini sudah banyak membuahkan hasil,setidaknya sudah terbukti dengan banyaknya situs yang mas kelola saat ini.Untuk kaya secara materi saya optimis seiring waktu akan mas jonru raih.

  23. Rabetsa Kariono on Tue, 27th May 2008 1:04
  24. Salu……t
    mungkin itu kata yang cocok untuk tulisan ini.

    Semoga bisa tertular kepada kita2 yang udah gabung di sini, salam sukses selalu.
    jangan lupa bagi2 kesuksesannya, karna kesuksesan sesungguhnya adalah mampu menyukseskan org lain setelah meraih kesuksesan pribadi, amin!

  25. SUGIYONO on Mon, 2nd Jun 2008 17:02
  26. BAGAIMANAPUN KUNCINYA MASING – MASING INDIVIDU.
    MASING – MASING INDIVIDU TERGANTUNG POLA PIKIR INDIVIDU ITU SENDIRI.
    INDIVIDU2 TERGANTUNG MIND SETNYA.
    HABIS MIND SET TERUS IMPLEMENTASI. TERUS APLIKASI. TERUS PERBUATAN.
    JUST DO IT.

  27. andri on Thu, 5th Jun 2008 10:10
  28. “Ya betul, mas Jonru, kekayaan akan membawa berkah jika didistribusikan pada yang membutuhkan. Contoh dalam artikel yang ditulis yakni, membuka lapangan pekerjaan baru, apalagi baru aja BBM naik, tentu kebutuhan pokok juga naik.”

  29. YULIAS on Fri, 11th Jul 2008 9:15
  30. TERUS TERANG AKU INGGIN SEPERTI ANDA YANG MENJADI KAYA.DAN SAYA SANGAT SALUT.

  31. si_keren bisnisonline.org on Sun, 20th Jul 2008 17:06
  32. Pak Jonru.

    Menemukan apa yang dicari… terlebih menemukan ‘kemana’ kita melangkah adalah suatu hal yang sangat besar. Sekali pak Jonru menemukan suatu cara atau suatu titik balik dalam hidup yg mampu membuat langkah pak Jonru jadi makin mantap… itulah pak… jalan hidup yg sebenarnya.

    Saya tidak pernah takut kaya pak. Karena saya pikir kekayaan utama itu kekayaan hati. Apa yang saya cari di dunia ini dalam rangka mencari uang sebenarnya adalah cara untuk mencapai Tuhan.

    Saya pernah mengalami suatu titik balik dalam hidup saya… yaitu saat saya pada akhirnya melihat bahwa saya harus ber-’usaha’ sendiri agar berhasil. Tidak pernah lagi mengandalkan orang lain.

    Saat itu saya sudah sangat bertekat bulat bahwa saya tidak ingin membuang waktu sedikitpun untuk hal2 tidak berguna seperti nge-game, ngelamun, dsb dsb…

    Perlu diketahui, saya masih bujang,… saya juga hidup dari menulis beberapa buku, menulis di website yang sudah menghasilkan antara 1-12 juta per bulan (tak tentu)….

    dan saya pikir;
    SAYA TAK TAKUT KAYA.

    saya hanya takut kehilangan diri saya. Artinya saya takut karena begitu inginnya saya jadi kaya, saya bisa lupa diri dan menghalalkan segala cara.

    Salam pak Jonru. serasa dapat teman nih

  33. ahmad rojiki on Thu, 24th Jul 2008 20:13
  34. SALAM,
    menarik.itulah perlunya”kompromi”,walaupun misalnya kita adalah seoramg ‘anti uang’bukan berarti keluarga kita,atau orang lain juga ‘anti uang ,kan?
    IDEALIS TETAPI TETAP REALISTIS.
    POSTINGAN INI ADALAH BENTUK DARI PERNYATAAN ‘SESUATU YANG RASAMYA ENAK’
    karena kita cenderung menekan keinginan mjd kaya kita karena alasan2 yang kurang tepat,baik dari diri sendiri ataupunorang lain.sadari atau tidak kita sadari.
    postingan pak jonru ini mjd pencerahan untuk kita semua.amin

  35. Mirna on Thu, 9th Oct 2008 17:13
  36. Ayo Mas Jonru, kita menjadi kaya :) —> (kaya yang menyeluruh tentunya: mental, pikiran/ilmu, materi/finansial)

  37. KayaTidakSalah on Tue, 14th Apr 2009 7:57
  38. Syalom. Menarik sekali artikelnya. Saya setuju dengan artikel Bang Jonru, betul saya juga menemukan bahwa kaya itu tidak salah. Selama cara mendapatkan tidak salah (tidak haram misal: korupsi, narboka, dll). Dan terutama saya setuju sekali bahwa dengan uang kita bisa lebih mencapai tujuan hidup kita. Jadi kita tidak perlu mengerjakan pekerjaan2 yang memang semestinya bisa kita delegasikan kepada orang lain, misalnya seperti abang bilang: mencuci motor. Saya juga belajar bahwa kekayaan itu juga berarti kekayaan iman dan kesehatan. Karena klo menurut saya uang bukan membuat hati/iman menjadi dangkal. Justru dengan uang kita bisa mengurangi salah satu faktor permasalahan hidup. Coba kita bayangkan berapa banyak pasangan suami istri yang berantem karena masalah uang? Lebih baik kita berantem bagaimana menghabiskan uang (saking banyaknya dan pasif income). Kita habiskan dengan cara menyekolahkan anak ke luar negeri ke sekolah yang bagus, menyenangkan kedua orang tua kita bikin rumah yang mewah yang bagus, belikan mobil bagus, dll. Kita sumbang rutin ke yatim piatu, panti jompo, dll. Jadi menurut saya ada 2 sudut pandang yang harus diperhatikan. Sudut pandang pertama uang yang kita peroleh adalah berkat dari Tuhan. Demikian pula sudut pandang kedua bahwa uang yang kita terima harus pula menjadi berkat untuk orang lain. Memang sekedar ngomong atau tulisan seperti ini tidak akan membantu banyak selain dalam tindakan nyata. Akhirnya saya tutup dengan kalimat yang umum kita dengar “uang bukan segalanya, tetapi segalanya perlu uang”.. Selamat mengejar impian Anda..!!

  39. Bejubel Market Place Terbaik Indonesia on Sun, 11th Sep 2011 13:26
  40. Ini kunjugan pertama saya dan saya sangat terkesan dengan apa yang anda tulis.. Semoga saya juga ikut termotivasi

Komentar Anda adalah kehormatan bagi saya. Silahkan isi formulirnya di bawah ini.
Kalau ingin menampilkan foto di samping komentar Anda, silahkan atur melalui Gravatar.

Untuk berkomunikasi secara lebih intens dengan saya, silahkan bergabung di:
- Jonru's Fan Page
- Twitter
- Belajar Menulis GRATIS di Facebook


WARNING: Komentar yang tujuannya hanya untuk mencari backlink akan dihapus. Kecuali jika isi komentar Anda memang bagus. Be friendly please :)